Skip to content
652

Meeting Results: Nuklir Bisa Jadi Energi Baru untuk Topang Lonjakan Data Center

Richard Gonzalez - lintasnaya.com 3 mins read

Hasil Rapat: Nuklir Bisa Jadi Energi Baru untuk Topang Lonjakan Data Center Permintaan Energi dan Kebutuhan Solusi Meeting Results - Hasil rapat yang diadakan

Meeting Results: Nuklir Bisa Jadi Energi Baru untuk Topang Lonjakan Data Center

Hasil Rapat: Nuklir Bisa Jadi Energi Baru untuk Topang Lonjakan Data Center

Permintaan Energi dan Kebutuhan Solusi

Meeting Results – Hasil rapat yang diadakan oleh Pemerintah dan para pemangku kepentingan menunjukkan bahwa energi nuklir dipertimbangkan sebagai alternatif baru untuk mengatasi kebutuhan energi yang meningkat di sektor data center. Fasilitas ini membutuhkan pasokan listrik yang besar, dan saat ini kapasitas data center di Indonesia mencapai sekitar 637 megawatt (MW). Sementara itu, kapasitas yang masih dalam proses pengembangan diperkirakan akan mencapai 1,6 gigawatt (GW) hingga akhir tahun depan.

Dalam diskusi, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa pemerintah sedang mengeksplorasi berbagai sumber daya energi untuk memastikan keberlanjutan pembangunan data center. Hasil rapat menyebutkan bahwa nuklir menjadi salah satu solusi yang menarik, karena kemampuannya untuk menghasilkan energi dalam skala besar tanpa emisi karbon. Teknologi small modular nuclear reactor (SMR) juga disebutkan sebagai opsi inovatif yang bisa diterapkan untuk memenuhi kebutuhan ini.

Peran Nuklir dalam Energi Tahan Lama

Hasil rapat menyoroti kepentingan energi nuklir dalam memastikan pasokan listrik yang stabil dan berkelanjutan. Dalam acara 1 Dekade Indonesian Data Center Provider Organization (IDPRO) di Jakarta, Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pemerintah berupaya untuk mengintegrasikan nuklir ke dalam energy mix nasional. Hal ini karena teknologi nuklir secara global mulai diminati, terutama di negara-negara yang membutuhkan pasokan energi yang andal.

“Kami juga sedang menyediakan energi dalam pembicaraan untuk pembangunan small modular nuclear reactor. Dan sebetulnya Bapak Presiden ingin agar energy mix ini juga memasukkan nuklir, dan nuklir energi ini menjadi salah satu yang secara global diminati,” ujarnya.

Menurut Airlangga, nuklir bisa menjadi pilihan yang efektif untuk mengatasi lonjakan energi akibat pertumbuhan data center yang pesat. Kebutuhan listrik yang meningkat memaksa pemerintah dan industri untuk mencari solusi yang lebih efisien. Hasil rapat juga menunjukkan bahwa nuklir berpotensi menjadi bagian dari rencana energi nasional yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada sumber daya energi fosil.

Kekhawatiran dan Potensi Indonesia

Hasil rapat menyebutkan adanya beberapa kekhawatiran mengenai pengembangan energi nuklir. Salah satunya adalah kemampuan negara untuk mengelola uranium dengan baik, agar tidak menimbulkan risiko ekologis atau keamanan yang signifikan. Namun, Airlangga juga menyoroti keunggulan Indonesia dalam sumber daya energi lokal yang melimpah, seperti panas bumi, tenaga surya, dan energi hidro.

Kebutuhan energi yang besar membuat pemerintah terus mengevaluasi berbagai opsi. Hasil rapat menggarisbawahi bahwa meski nuklir masih memiliki tantangan, pemanfaatannya bisa menjadi jalan untuk mengatasi kebutuhan yang tidak terpenuhi. Hendra Suryakusuma, ketua IDPRO, menyetujui bahwa nuklir bisa menjadi solusi, meski saat ini masih menghadapi penolakan dari sebagian kalangan.

Teknologi SMR dan Panduan Keberlanjutan

Hendra menjelaskan bahwa teknologi SMR, yang menggunakan inti thorium, dianggap lebih aman dan efisien dibandingkan reaktor konvensional. Teknologi ini juga bisa diterapkan di berbagai lokasi, termasuk daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh infrastruktur energi lainnya. Hasil rapat menyebutkan bahwa SMR berpotensi mengurangi risiko kecelakaan yang sering dikaitkan dengan penggunaan energi nuklir sebelumnya.

Di sisi lain, Hasil rapat juga membahas pentingnya panduan keberlanjutan dalam pengembangan data center. IDPRO sedang menyusun Sustainable Data Center Index sebagai acuan untuk menghadapi pertumbuhan fasilitas ini yang sangat cepat. Indeks ini diharapkan bisa membantu mengurangi dampak lingkungan, termasuk konsumsi sumber daya tinggi dan polusi suara dari genset yang sering digunakan.

Standar Industri dan Kebutuhan Kolaborasi

Menurut Hendra, penerapan Sustainable Data Center Index awalnya bersifat sukarela bagi anggota IDPRO. Namun, dalam beberapa tahun ke depan, ia ingin indeks tersebut menjadi standar industri. Hasil rapat menyebutkan bahwa IDPRO juga terlibat dalam penyusunan Standar Nasional Indonesia (SNI) 8799 untuk pusat data, yang bertujuan memastikan kualitas dan keberlanjutan dalam pengelolaan energi.

Kebutuhan standar ini muncul karena masih banyak fasilitas yang diklaim sebagai data center, padahal secara klasifikasi hanya berupa server room. Hasil rapat menekankan pentingnya keberlanjutan lingkungan, terutama mengingat pertumbuhan data center bisa menyebabkan dampak negatif yang jangka panjang. Dengan mengintegrasikan nuklir, pemerintah berharap bisa menciptakan sistem energi yang lebih ramah lingkungan dan efisien.

Join the discussion