Latest Program: Menteri LH Ingatkan Danantara, PSEL Berisiko Kekurangan Sampah jika Pemilahan Berhasil
p Peringatkan Risiko Kekurangan Sampah di PSEL Latest Program - JAKARTA — Pada sesi diskusi Waste to Energy Talks 2026 yang disiarkan secara daring pada Kamis
Latest Program: Menteri Lingkungan Hidup Peringatkan Risiko Kekurangan Sampah di PSEL
Latest Program – JAKARTA — Pada sesi diskusi Waste to Energy Talks 2026 yang disiarkan secara daring pada Kamis (16/7/2026), Menteri Lingkungan Hidup Moh. Jumhur Hidayat memberi peringatan kepada Danantara mengenai potensi pasokan sampah yang berkurang jika program pemilahan sampah berjalan optimal. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah secara terpisah bisa menyebabkan volume residu yang masuk ke fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) menurun hingga 15–20 persen dari total sampah yang dihasilkan.
“Pemilahan sampah yang sempurna akan mengubah jumlah sampah yang tersisa untuk PSEL menjadi lebih sedikit. Jadi, kita harus hati-hati dalam merancang kapasitas PSEL agar tidak melebihi pasokan residu yang diprediksi,” ujar Jumhur.
Dalam konteks ini, Jumhur menggunakan contoh Jakarta, yang saat ini menghasilkan sekitar 9.200 ton sampah per hari. Jika pemilahan sampah benar-benar berhasil dilakukan secara maksimal, residu yang diperkirakan masuk ke PSEL hanya sekitar 1.800–2.000 ton per hari. Ini menunjukkan bahwa program pemilahan sampah bisa berdampak signifikan terhadap pasokan bahan baku untuk PSEL, yang menjadi bagian dari latest program pengurangan limbah.
Kebijakan EPR sebagai Pendorong Strategi Nasional
Kementerian Lingkungan Hidup terus menekankan kebijakan extended producer responsibility (EPR) sebagai pendukung strategi nasional dalam pengelolaan sampah. EPR berpotensi mengurangi volume sampah yang masuk ke PSEL dengan memastikan produsen mengelola sampah kemasan mereka sendiri. Melalui mekanisme ini, tanggung jawab pengumpulan dan daur ulang sampah diimbangi dengan kebijakan pemerintah dalam memberikan fasilitas pengolahan yang efisien.
CEO Denera, Fadli Rahman, menjelaskan bahwa latest program PSEL akan fokus pada sampah baru yang lebih mudah diolah. Sampah lama, yang sudah mengalami proses penguraian dan mengandung kadar kalori yang turun, cenderung bercampur dengan pasir serta material lain, sehingga mengurangi efisiensi pengolahan. “Kita memperhatikan kualitas residu yang masuk ke PSEL agar tidak merusak mesin dan menghambat proses produksi energi,” kata Fadli.
Perencanaan Kapasitas dengan Prediksi Pertumbuhan Sampah
Menanggapi risiko kekurangan sampah di PSEL, Fadli menegaskan bahwa perencanaan kapasitas proyek telah mempertimbangkan pertumbuhan sampah di setiap wilayah. Contohnya, di Semarang, komitmen pasokan sebesar 1.161 ton dianggap lebih rendah dari produksi sampah nyata yang mencapai 1.300–1.400 ton per hari. “Komitmen ini memberi ruang untuk buffer, sehingga proyek bisa berjalan stabil meskipun volume pasokan fluktuatif,” tambahnya.
“Dengan prediksi pertumbuhan ekonomi sebesar 5%, kenaikan sampah diperkirakan hanya berkisar 3–4 persen. Ini memungkinkan kita memperkirakan kebutuhan PSEL secara realistis,” ujarnya.
Fadli juga menyoroti kolaborasi antara Denera dengan pemerintah daerah dalam menentukan skema pasokan. Dengan latest program yang dirancang secara terpadu, Denera berharap dapat memastikan keberlanjutan operasional PSEL, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. “Kita perlu berkoordinasi agar kapasitas PSEL selalu sejalan dengan kebutuhan industri dan masyarakat,” pungkasnya.
