Main Agenda: Industri Ungkap Kemungkinan 2G Dipensiunkan setelah Lelang Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz
diksi 2G Akan Dipensiunkan Setelah Lelang Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz Main Agenda menjadi topik utama di industri telekomunikasi setelah pemerintah
Main Agenda: Industri Telekomunikasi Prediksi 2G Akan Dipensiunkan Setelah Lelang Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz
Main Agenda menjadi topik utama di industri telekomunikasi setelah pemerintah menyelesaikan lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Sebagai bagian dari strategi modernisasi jaringan, industri memprediksi kecepatan penghentian layanan 2G akan meningkat secara signifikan. Direktur Eksekutif Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Marwan O. Baasir menegaskan bahwa migrasi dari 2G ke teknologi lebih maju seperti 4G dan 5G sudah menjadi prioritas utama sektor telekomunikasi. “Kami menekankan Main Agenda ini sebagai langkah kunci untuk menjaga kompetitivitas dan efisiensi sistem jaringan di Indonesia,” kata Marwan saat dihubungi Bisnis.com pada Sabtu (11/7/2026).
Proses Alokasi Frekuensi 2G untuk Teknologi Baru
Dengan selesainya lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz, industri telekomunikasi menganggap ini sebagai peluang untuk mengalihkan spektrum yang sebelumnya dimanfaatkan 2G ke layanan jaringan 4G dan 5G. Marwan menjelaskan bahwa 700 MHz memiliki potensi besar dalam menjangkau area yang kurang terlayani, sementara 2,6 GHz cocok untuk kecepatan tinggi. “Kebutuhan frekuensi yang lebih cepat memaksa operator beradaptasi, dan Main Agenda ini mengarahkan perusahaan untuk mempercepat fasa keluar 2G,” terangnya. Dengan alih-alih frekuensi tersebut, operator bisa meningkatkan kualitas layanan, termasuk ekspansi 5G ke berbagai sektor seperti kesehatan, pendidikan, dan transportasi.
Analisis Dampak pada Pengguna dan Infrastruktur
Penghentian 2G bukan hanya akan memengaruhi pengguna, tetapi juga memperkuat peran Main Agenda dalam pengelolaan sumber daya infrastruktur. Marwan menyebutkan bahwa transisi ini bisa memperbesar kebutuhan perangkat jaringan, terutama untuk 4G dan 5G. “Penggunaan dua network element, seperti 4G dan 5G, akan mengubah pola konsumsi energi dan perluasan jaringan,” ujarnya. Selain itu, pelanggan yang masih mengandalkan 2G akan terdampak, terutama mereka yang menggunakan perangkat berbasis feature phone. “Kami mendorong mereka untuk beralih ke smartphone agar bisa menikmati kemudahan akses internet, telepon, dan layanan digital lainnya yang lebih canggih,” lanjut Marwan.
“Main Agenda ini membawa perubahan struktural, karena alih-alih spektrum 2G, kita bisa fokus pada teknologi yang lebih ramah digital,” tambahnya.
Langkah Industri untuk Mempercepat Fasa Keluar 2G
Menurut Marwan, industri telekomunikasi sedang mengupayakan strategi yang lebih agresif dalam mempercepat fasa keluar 2G. Langkah ini dilakukan untuk mengoptimalkan penggunaan frekuensi yang kini lebih diminati oleh teknologi modern. “Operator mulai menerapkan beberapa policy, seperti membatasi impor perangkat 2G dan mendorong penggunaan smartphone,” jelasnya. Selain itu, ada rencana penguasaan biaya operasional dengan memperkecil jumlah site yang dioperasikan untuk 2G. “Dengan Main Agenda ini, kami harap bisa mengurangi beban anggaran dan meningkatkan efisiensi pengelolaan jaringan,” terangnya.
Tantangan dan Peluang dalam Transisi Teknologi
Meski transisi ke teknologi lebih baru menawarkan peluang, Marwan mengakui ada tantangan yang perlu diatasi. Jumlah pengguna 2G, sekitar 6%-7% dari total pelanggan seluler, masih signifikan. “Meski angkanya kecil, penyelesaian migrasi 2G tetap menjadi tanggung jawab bersama antara operator dan pemerintah,” katanya. Tantangan utamanya terletak pada kesadaran masyarakat dan keandalan akses jaringan selama proses transisi. “Main Agenda ini juga memerlukan komunikasi yang efektif agar pelanggan tidak terganggu dan paham bahwa 2G akan ditinggalkan dalam waktu dekat,” pungkasnya.
“Dengan phase out 2G, operator bisa fokus pada jaringan 4G dan 5G yang lebih adaptif terhadap kebutuhan pasar,” tambah Marwan.
Langkah Pemerintah dan Regulasi yang Mendukung
Menurut Marwan, pemerintah perlu memperkuat regulasi untuk mendukung Main Agenda fasa keluar 2G. “Selain lelang frekuensi, ada kebijakan lain yang bisa mengarahkan industri untuk mengoptimalkan penggunaan spektrum,” katanya. Misalnya, pengaturan batas waktu paling lambat untuk penghentian 2G, atau bantuan subsidi untuk operator yang bertransisi. Selain itu, pemerintah juga bisa memfasilitasi pelatihan bagi pengguna 2G agar mereka bisa beralih ke perangkat yang lebih canggih. “
