Key Strategy: 5G Kurang Bergairah, Kenapa Indonesia Tidak Langsung Lompat ke 6G Saja?
Key Strategy: 5G Kurang Bergairah, Kenapa Indonesia Tidak Langsung Lompat ke 6G Saja?
Key Strategy: 5G Kurang Bergairah, Kenapa Indonesia Tidak Langsung Lompat ke 6G Saja?
Key Strategy – Dalam upaya mencapai inovasi teknologi tinggi, pertanyaan tentang “Key Strategy” dalam pengembangan jaringan seluler sering muncul. Banyak yang mengusulkan bahwa Indonesia sebaiknya tidak membuang waktu di 5G, melainkan langsung melompat ke 6G untuk mempercepat kemajuan digital. Namun, Sarwoto Atmosutarno, Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), menyoroti bahwa keputusan ini tidak bisa diambil gegabah. Proses transisi ke teknologi berikutnya tetap memerlukan pematangan infrastruktur sebelumnya. “Key Strategy” dalam pengembangan 5G dan 6G adalah keseimbangan antara ambisi teknologi dan kesiapan ekosistem.
Prasyarat Menuju 6G
Transisi ke 6G bukanlah langkah instan, melainkan hasil dari strategi yang terencana. Sarwoto menjelaskan bahwa teknologi 6G akan bergantung pada use case yang lebih kompleks dan terintegrasi. Ini mencakup konvergensi antara jaringan broadband mobile (MBB), broadband tetap (FBB), dan Internet of Things (IoT). Untuk mencapai itu, “Key Strategy” harus mencakup kolaborasi antara pemerintah, operator, dan industri teknologi. Sarwoto menekankan bahwa “Key Strategy” dalam menyusun roadmap 6G harus berbasis data dan kebutuhan masyarakat, bukan sekadar keinginan teknologi.
“Prasyarat utama menuju 6G adalah keterlibatan pemangku kepentingan yang konsisten. Jika tidak ada “Key Strategy” yang tegas, transisi dari 5G ke 6G bisa terhambat,” kata Sarwoto.
Di sisi lain, penggunaan 5G di Indonesia masih tergolong rendah. Dari data terkini, penetrasi jaringan 5G di operator seluler hanya mencapai di bawah 5%. PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk, misalnya, mengoperasikan sekitar 12.631 unit BTS 5G dalam kuartal I/2026, atau 4,99% dari total estimasi 253.750 unit. Indosat dan Telkomsel pun tidak jauh berbeda, masing-masing dengan 3,55% dan 1,81% dari jumlah BTS total mereka. Ini menunjukkan bahwa “Key Strategy” dalam pengembangan 5G belum sepenuhnya berjalan optimal.
Pengembangan 5G di Indonesia: Tantangan dan Progres
Sementara 5G masih menghadapi hambatan, teknologi ini tetap menjadi fondasi penting untuk kemajuan 6G. Sarwoto menjelaskan bahwa 5G berperan sebagai batu loncatan, karena kemampuannya dalam mendukung aplikasi seperti telemedisin, otomatisasi industri, dan pendidikan digital. Namun, perlu “Key Strategy” yang matang untuk memastikan adopsi yang seimbang. Investor dan pemerintah harus mempertimbangkan kebutuhan infrastruktur, seperti penggunaan frekuensi yang tepat, serta kebijakan yang mendukung pengembangan jaringan.
Kurangnya keterlibatan masyarakat juga menjadi faktor utama. “Key Strategy” dalam menyebarkan 5G harus mencakup edukasi dan perangkat yang ramah pengguna. Sarwoto mengatakan, penggunaan 5G yang rendah mencerminkan kurangnya kesadaran masyarakat tentang manfaat teknologi ini. Jika tidak ada strategi yang komprehensif, keberhasilan 6G akan tergantung pada perangkat keras dan perangkat lunak yang tidak selaras dengan kebutuhan nyata.
Meski tergolong lambat, adopsi 5G di Indonesia menunjukkan progres. Dengan investasi yang terus meningkat, kecepatan pengembangan BTS 5G diharapkan bisa ditingkatkan. “Key Strategy” dalam ini adalah mengalokasikan dana yang tepat dan menargetkan area yang paling membutuhkan, seperti kota besar dan daerah industri. Hal ini akan membantu membangun fondasi yang kuat untuk transisi ke 6G.
Manfaat 6G yang Menjanjikan
Jika Indonesia berhasil melompat ke 6G, berbagai sektor akan mengalami transformasi. Teknologi 6G diperkirakan bisa mendukung kecepatan internet hingga 1 Tbps, latensi yang sangat rendah (di bawah 1 ms), dan konektivitas yang lebih luas. Sarwoto menyebutkan bahwa kemampuan ini akan menjadi kunci dalam mengembangkan ekosistem digital yang canggih, seperti mobil otonom, kota pintar, dan layanan kesehatan terpadu. “Key Strategy” dalam transisi ini harus memastikan bahwa semua pemangku kepentingan terlibat, termasuk perusahaan teknologi, pemerintah, dan akademisi.
Investasi dalam 6G akan menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan. Sarwoto memperkirakan bahwa teknologi ini bisa meningkatkan produktivitas industri dan menciptakan peluang baru dalam sektor teknologi. Namun, ia menekankan bahwa “Key Strategy” harus melibatkan perencanaan yang jelas, seperti pengaturan frekuensi, pengembangan standar, dan pemanfaatan sumber daya yang optimal. Tanpa ini, pergeseran ke 6G mungkin akan terasa tidak berkelanjutan.
“Jika “Key Strategy” untuk 5G tidak tercapai, transisi ke 6G akan menjadi mimpi yang sulit diwujudkan. Sumber daya sudah ada, tapi perlu komitmen yang kuat untuk mengubahnya menjadi kenyataan,” jelas Sarwoto.
Menurut Sarwoto, perlu ada “Key Strategy” yang lebih sistematis, termasuk koordinasi antaroperator seluler, pengaturan regulasi yang mendukung, dan pendekatan berbasis data. Ia menyarankan bahwa keberhasilan 6G akan menjadi penegasan bahwa Indonesia mampu menghadapi teknologi baru dengan siap dan strategis. “Key Strategy” ini bukan hanya tentang kecepatan, tapi juga tentang keberlanjutan dan adaptasi terhadap kebutuhan masyarakat yang berkembang.
