Skip to content
101

New Policy: BRIN Nilai Teknologi Ponsel Langsung ke Satelit D2D Berpotensi Perluas Sinyal di Daerah Terpencil

Sandra Hernandez - lintasnaya.com 3 mins read

BRIN: Teknologi D2D Satelit Dapat Tingkatkan Akses Internet di Daerah Terpencil New Policy - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan new policy

New Policy: BRIN Nilai Teknologi Ponsel Langsung ke Satelit D2D Berpotensi Perluas Sinyal di Daerah Terpencil

BRIN: Teknologi D2D Satelit Dapat Tingkatkan Akses Internet di Daerah Terpencil

New Policy – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan new policy terkait pemanfaatan teknologi Direct-to-Device (D2D) yang berbasis satelit sebagai solusi untuk meningkatkan koneksi internet di wilayah terpencil. Teknologi ini memungkinkan pengguna perangkat elektronik berinteraksi langsung dengan satelit, tanpa harus bergantung pada jaringan darat yang seringkali tidak mencapai daerah terluar. New policy ini menyoroti potensi D2D sebagai metode komunikasi alternatif yang bisa diterapkan secara luas, terutama di lokasi yang sulit dijangkau oleh infrastruktur konvensional.

Potensi Teknologi D2D untuk Membangun Konektivitas di Wilayah Terpencil

D2D, atau Direct-to-Device, merupakan teknologi yang menjanjikan untuk menembus kebutuhan komunikasi di daerah terpencil. BRIN menjelaskan bahwa teknologi ini bisa digunakan di wilayah yang memiliki keterbatasan akses ke jaringan telekomunikasi biasa, seperti pulau-pulau kecil, daerah pegunungan, dan perairan terluar. New policy ini juga menekankan pentingnya uji coba teknologi D2D di beberapa negara untuk memastikan efektivitasnya sebelum diterapkan di Indonesia.

Analisis yang dilakukan BRIN menunjukkan bahwa D2D memiliki keunggulan dalam menjangkau area yang sulit dicapai oleh sistem komunikasi tradisional. Teknologi ini memungkinkan pengiriman sinyal langsung dari satelit ke perangkat pengguna, sehingga mengurangi ketergantungan pada menara seluler (BTS) atau infrastruktur darat lainnya. Dengan new policy yang digagas, BRIN berharap D2D bisa menjadi salah satu bagian dari strategi nasional untuk memperluas layanan internet dan komunikasi secara menyeluruh.

“Teknologi D2D sebaiknya diposisikan sebagai teknologi pelengkap, bukan pengganti BTS, serat optik, microwave link, satelit komunikasi konvensional, atau infrastruktur lainnya,” kata Wahyudi Hasbi, kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN. Ia menambahkan bahwa D2D memiliki kelebihan dalam fleksibilitas dan kecepatan, tetapi juga perlu dipertimbangkan aspek seperti biaya operasional dan kemampuan masyarakat dalam mengadopsinya.

Kolaborasi BRIN dengan Pihak Terkait untuk Mendukung New Policy

Sebagai bagian dari new policy, BRIN akan bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), perguruan tinggi, operator telekomunikasi, dan industri dalam negeri. Kolaborasi ini bertujuan untuk memastikan teknologi D2D tidak hanya diterapkan, tetapi juga dikembangkan secara mandiri oleh Indonesia. Wahyudi menjelaskan bahwa dengan new policy ini, BRIN ingin menjadi penggerak utama dalam mengintegrasikan D2D ke dalam sistem komunikasi nasional.

Kolaborasi antarlembaga juga mencakup pengembangan testbed, pengujian lapangan, serta evaluasi dampak sosial-ekonomi dari implementasi teknologi tersebut. BRIN menyatakan bahwa new policy ini akan menjadi dasar untuk membangun ekosistem komunikasi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Pemanfaatan D2D diharapkan bisa mendorong akses Internet of Things (IoT) di wilayah terpencil, yang penting untuk mendukung sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Dalam rangka new policy, BRIN juga menyoroti perluasan pelatihan sumber daya manusia dalam bidang teknologi satelit dan komunikasi. Dengan memperkuat kemampuan peneliti dan praktisi, Indonesia bisa lebih cepat merespons tantangan teknologi digital yang terus berkembang. Selain itu, new policy ini juga menargetkan pengembangan inovasi lokal yang bisa menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi dan akses informasi bagi masyarakat pedesaan.

Join the discussion