Skip to content
101

Latest Program: Target Ambisius 5G Telkomsel-XLSMART Cs Usai Kantongi Frekuensi 700 MHz & 2,6 GHz

Joseph Jones - lintasnaya.com 3 mins read

Latest Program: Target Ambisius 5G Telkomsel dan XLSMART Setelah Kantongi Frekuensi 700 MHz & 2,6 GHz Latest Program - Dalam upaya mendorong transformasi

Latest Program: Target Ambisius 5G Telkomsel-XLSMART Cs Usai Kantongi Frekuensi 700 MHz & 2,6 GHz

Latest Program: Target Ambisius 5G Telkomsel dan XLSMART Setelah Kantongi Frekuensi 700 MHz & 2,6 GHz

Latest Program – Dalam upaya mendorong transformasi digital Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengumumkan latest program pembangunan jaringan 5G yang ditujukan kepada operator seperti Telkomsel, Indosat, dan XL Smart. Program ini bertujuan mengakomodasi kebutuhan akses frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz, yang sebelumnya menjadi hambatan utama bagi penguasaan teknologi 5G. Setelah lelang spektrum selesai, operator telekomunikasi kini fokus pada implementasi jaringan, kesiapan infrastruktur, dan strategi pengembangan layanan berkecepatan tinggi guna mewujudkan target cakupan 5G yang ambisius.

Misalnya, Target Cakupan 5G 51% Populasi

Dewan Pengurus Harian (DPH) Infratel Digital Nasional Mastel, Sigit Puspito, menyoroti bahwa latest program 5G di Indonesia ditetapkan dengan target ambisius—yaitu mencakup 51% populasi nasional dalam lima tahun. Namun, tantangan utama tetap ada, terutama dalam menghadirkan layanan berbasis teknologi terbaru tersebut. Latest program ini membutuhkan investasi besar, baik dalam pembangunan infrastruktur maupun penguasaan frekuensi yang tepat. Kesiapan ekosistem perangkat dan permintaan pasar juga menjadi faktor kritis yang harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas jaringan.

Pembagian Frekuensi dan Strategi Operator

“Distribusi frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz menunjukkan kemajuan karena rata-rata disebarkan kepada operator. Namun, XLSMART diperkirakan akan mengeluarkan dana paling besar guna memperkuat posisi di pita 700 MHz, yang mengisyaratkan bahwa penantang harus menghabiskan lebih banyak biaya untuk mengejar ketertinggalan,” jelas Sigit kepada Bisnis, Senin (13/7/2026). Selain itu, frekuensi 3,5 GHz—yang dianggap paling efektif untuk 5G—masih belum dialokasikan, sehingga latest program 5G kini bergantung pada spektrum yang tersedia saat ini.

Pembangunan jaringan 5G berlangsung secara bertahap. Sigit menyatakan bahwa keberhasilan latest program bergantung pada kecepatan penyelesaian infrastruktur, kualitas layanan, serta kepastian insentif dari pemerintah. Dengan frekuensi 700 MHz, yang memiliki daya penetrasi tinggi, operator dapat memperluas cakupan hingga daerah terpencil. Sementara itu, frekuensi 2,6 GHz lebih cocok untuk kawasan perkotaan dengan kepadatan pengguna yang tinggi. Kombinasi ini menjadi fondasi penting untuk memastikan adopsi 5G berjalan optimal.

Target 51% populasi nasional yang diberikan oleh pemerintah juga menjadi tolak ukur keberhasilan latest program. Namun, Sigit menekankan bahwa angka tersebut jauh lebih ambisius dibandingkan rencana strategis sebelumnya. Dalam Renstra 2025–2029, target cakupan 5G hanya mencapai 7% pada 2029, sementara latest program mengharapkan peningkatan yang lebih cepat. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah berkomitmen pada percepatan digitalisasi, termasuk dalam pembangunan jaringan 5G yang dianggap menjadi penggerak utama ekonomi dan teknologi masa depan.

Kelengkapan frekuensi menjadi kunci dalam mengembangkan jaringan 5G. Dengan pita 700 MHz, operator dapat menjangkau area yang lebih luas dengan biaya operasional yang lebih rendah, sementara pita 2,6 GHz memberikan kecepatan transfer data yang tinggi untuk layanan berintensitas tinggi. Latest program ini diharapkan dapat mengurangi kesenjangan jaringan antara daerah perkotaan dan pedesaan, serta mendukung pertumbuhan bisnis digital yang pesat di Indonesia. Sigit juga menyoroti pentingnya koordinasi antara regulator dan operator untuk memastikan keselarasan kebijakan dan implementasi.

Sigit menambahkan bahwa latest program 5G tidak hanya berdampak pada sektor telekomunikasi, tetapi juga pada industri yang memanfaatkan teknologi tersebut, seperti kesehatan, pendidikan, dan logistik. “Kehadiran 5G akan mempercepat transisi ke era digital, terutama di kota-kota besar dan koridor ekonomi yang menjadi pusat pertumbuhan,” ujarnya. Kementerian Kominfo menilai keberhasilan latest program ini akan memperkuat kompetitivitas Indonesia di tingkat internasional, mengingat negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Korea Selatan telah mencapai tingkat cakupan 5G yang lebih tinggi.

Dengan belanja modal yang terus meningkat dan dukungan pemerintah, latest program 5G diharapkan mampu mencapai target yang telah ditetapkan. Sigit mengingatkan bahwa kesuksesan program ini bergantung pada tiga faktor utama: perluasan jaringan, kesiapan ekosistem perangkat, dan kepercayaan konsumen terhadap layanan 5G. “Jika latest program ini dijalankan secara konsisten, Indonesia bisa menjadi salah satu negara yang terdepan dalam pemanfaatan teknologi 5G di Asia Tenggara,” pungkasnya.

Join the discussion