Facing Challenges: Peta Kekuatan Telkomsel, Indosat, dan XLSMART Usai Raih Alokasi 700 MHz & 2,6 GHz
Peta Kekuatan Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata Usai Raih Alokasi 700 MHz & 2,6 GHz Facing Challenges dalam dunia telekomunikasi kembali menjadi topik utama
Peta Kekuatan Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata Usai Raih Alokasi 700 MHz & 2,6 GHz
Facing Challenges dalam dunia telekomunikasi kembali menjadi topik utama setelah tiga operator seluler besar Indonesia, yaitu Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata, berhasil mendapatkan alokasi frekuensi radio untuk pita 700 MHz dan 2,6 GHz. Hasil seleksi yang diumumkan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menunjukkan distribusi frekuensi yang relatif seimbang, menurut Heru Sutadi, pengamat telekomunikasi dari ICT Institute. Meski demikian, penyebaran kekuatan masing-masing operator masih memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk memahami dampak jangka panjang terhadap persaingan pasar.
“XLSMART mendapatkan bagian lebih besar di pita 700 MHz, yang sangat efektif untuk memperluas cakupan, terutama di daerah pedesaan dan kota-kota dengan biaya infrastruktur tinggi,” jelas Heru kepada Bisnis pada Sabtu (11/7/2026). Ia menambahkan, Telkomsel unggul di pita 2,6 GHz, yang cocok untuk meningkatkan kapasitas jaringan di area padat penduduk dan mendukung inisiatif layanan 5G berkecepatan tinggi. Namun, penyebaran kekuatan ini tidak sepenuhnya menjamin kemenangan dalam jangka panjang, karena persaingan masih terjadi dalam total alokasi frekuensi.
Konfigurasi Frekuensi dan Kebutuhan Teknis
Dalam seleksi tersebut, Telkomsel mendapatkan blok frekuensi 2×10 MHz di pita 700 MHz dengan penawaran sebesar Rp642,5 miliar. XLSMART mengklaim blok terbesar di pita ini, yakni 2×15 MHz, dengan total penawaran Rp1,06 triliun. Sementara Indosat hanya memperoleh 2×10 MHz dengan nilai Rp507,48 miliar. Di pita 2,6 GHz, Telkomsel menang dengan alokasi 80 MHz senilai Rp545,84 miliar. Indosat mendapatkan 60 MHz seharga Rp372 miliar, dan XLSMART 50 MHz dengan penawaran Rp231,6 miliar.
Konfigurasi ini menggambarkan strategi masing-masing operator. Pita 700 MHz, yang dikenal sebagai frekuensi low-band, memberikan keuntungan dalam menjangkau area yang luas dengan cakupan jaringan yang stabil. XLSMART, dengan alokasi lebih besar di pita ini, diharapkan bisa memperkuat kehadiran di daerah terpencil. Sementara Telkomsel dan Indosat mengandalkan pita 2,6 GHz untuk mengembangkan layanan 5G dan meningkatkan kecepatan internet di perkotaan.
Persaingan dan Proyekstrasi Strategis
Seleksi frekuensi ini menjadi momen kritis bagi operator seluler, karena penggunaan spektrum yang optimal akan menentukan daya saing di pasar. Heru Sutadi menyoroti bahwa keunggulan masing-masing perusahaan akan terlihat dari kemampuan mereka mengubah alokasi frekuensi menjadi layanan berkualitas. “Facing Challenges tidak hanya bergantung pada jumlah frekuensi, tetapi juga kecepatan pemanfaatan dan konsistensi dalam membangun infrastruktur,” tambahnya. Ini menunjukkan bahwa meskipun alokasi frekuensi menunjukkan perbedaan, strategi pemanfaatan yang tepat tetap menjadi faktor penentu.
Telkomsel, sebagai pemimpin pasar, berharap bisa memperkuat keunggulan 5G di pita 2,6 GHz. Namun, penyebaran kekuatan di pita 700 MHz dan 2,6 GHz mungkin memicu persaingan lebih ketat, terutama dengan XLSMART yang memperoleh frekuensi lebih luas di pita 700 MHz. Indosat, meski memiliki alokasi yang relatif lebih sedikit, bisa mengambil keuntungan dari konsistensi layanan di wilayah yang sudah terjangkau.
Heru juga memprediksi bahwa alokasi frekuensi ini akan memengaruhi ekosistem telekomunikasi Indonesia. Dengan adanya layanan 5G di perkotaan, konsumen akan mengalami peningkatan akses ke teknologi terbaru. Namun, di daerah pedesaan, XLSMART diperkirakan akan menjadi penggerak utama dalam menjangkau populasi yang belum terlayani. Selain itu, Kominfo memberikan komitmen pembangunan jaringan selama lima tahun, termasuk menyediakan layanan 4G di 538 desa. Ini menjadi tantangan bagi operator untuk memenuhi target tersebut secara efisien.
Seleksi frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz tidak hanya menentukan distribusi sumber daya teknis, tetapi juga menciptakan peluang untuk mengembangkan inovasi. Telkomsel, yang mendapat frekuensi 80 MHz di pita 2,6 GHz, akan fokus pada layanan berkecepatan tinggi dan koneksi stabil. Sementara XLSMART, dengan alokasi 2×15 MHz di 700 MHz, bisa memperluas jaringan ke wilayah yang lebih luas. Indosat, yang menempati posisi tengah, perlu beradaptasi dengan frekuensi yang lebih terbatas untuk membangun strategi kompetitif.
Persaingan antar operator seluler akan terus berlangsung, baik dalam peningkatan kualitas layanan maupun dalam pengembangan teknologi. Heru menekankan bahwa pemenang seleksi frekuensi bukanlah garansi kesuksesan, karena pertumbuhan pasar juga bergantung pada kemampuan perusahaan dalam menyesuaikan strategi dengan kebutuhan konsumen. “Facing Challenges dalam industri telekomunikasi membutuhkan inovasi dan efisiensi, bukan hanya pengalaman,” ungkapnya. Ini menegaskan bahwa meskipun frekuensi telah terdistribusi, perusahaan tetap harus bekerja keras untuk membangun keunggulan berkelanjutan.
