New Policy: Ada Risiko Perubahan Iklim, Arkora Hydro (ARKO) Ungkap Dampaknya ke Operasional PLTA
New Policy: Arkora Hydro (ARKO) Ungkap Dampak Perubahan Iklim pada Operasional PLTA New Policy - Perusahaan energi terbarukan PT Arkora Hydro Tbk.
New Policy: Arkora Hydro (ARKO) Ungkap Dampak Perubahan Iklim pada Operasional PLTA
New Policy – Perusahaan energi terbarukan PT Arkora Hydro Tbk. (ARKO) telah mengadopsi New Policy baru yang menempatkan risiko perubahan iklim sebagai komponen utama dalam perencanaan operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Pola curah hujan jangka panjang, yang menjadi salah satu indikator kritis, telah diintegrasikan sejak awal proses pengembangan proyek. Hal ini menunjukkan komitmen Arkora Hydro untuk menjawab tantangan lingkungan sambil memastikan stabilitas produksi energi.
Analisis Cuaca dalam Rencana Proyek
Dalam wawancara dengan Bisnis.com, Nicko Yosafat, Head of Investor Relations Arkora Hydro, menjelaskan bahwa New Policy ini memaksa perusahaan melakukan evaluasi mendalam terhadap kondisi iklim. “Risiko iklim sebenarnya sudah kami perhitungkan sejak tahap awal pengembangan proyek, meskipun bukan dalam konteks pembiayaan, melainkan dalam tahap perencanaan teknis,” kata Nicko. Ia menambahkan bahwa data curah hujan dari puluhan tahun terakhir digunakan untuk memprediksi perubahan musiman dan tahunan, yang kemudian dipertimbangkan dalam desain teknis PLTA.
Pelaku Strategis dalam Transisi Energi
Sebagai bagian dari New Policy yang dipromosikan pemerintah, Arkora Hydro berperan aktif dalam mendukung peningkatan kapasitas pembangkit energi baru terbarukan (EBT). Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), target peningkatan EBT mencapai 52,9 gigawatt (GW) hingga 2034, yang merupakan langkah penting untuk mencapai net zero emission pada 2060. Nicko menekankan bahwa PLTA tetap menjadi pilihan utama karena sifatnya yang base load, berbeda dengan energi terbarukan lainnya yang lebih bergantung pada kondisi alam.
Perubahan iklim telah memengaruhi kestabilan pasokan air, yang menjadi faktor penentu bagi PLTA. Nicko mengungkapkan bahwa pihaknya menilai PLTA tetap strategis dalam sistem kelistrikan nasional, terutama menghadapi ketidakpastian pasokan batu bara dan fluktuasi nilai tukar yang memengaruhi biaya impor energi. Dengan New Policy ini, Arkora Hydro mengharapkan adanya peningkatan daya tahan terhadap perubahan iklim.
Karakteristik PLTA sebagai sumber listrik berkelanjutan memperkuat posisinya dalam transisi energi. Nicko menyatakan bahwa PLTA tidak bergantung pada kondisi cuaca siang-malam, sehingga mampu memberikan pasokan energi yang konsisten. “PLTA adalah solusi utama karena sifatnya yang base load, berbeda dengan PLTS atau PLTB yang sifatnya intermiten,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa New Policy ini memaksa perusahaan merancang proyek dengan mempertimbangkan dampak jangka panjang dari perubahan iklim.
Dalam konteks New Policy, Arkora Hydro melibatkan analisis data cuaca yang lebih canggih, termasuk prediksi suhu dan intensitas hujan di berbagai lokasi. Hal ini membantu dalam mengoptimalkan efisiensi operasional PLTA, mengurangi risiko kerusakan infrastruktur, dan memastikan keberlanjutan produksi listrik. Perusahaan juga menargetkan peningkatan kapasitas PLTA seiring kenaikan permintaan energi nasional yang terus bertambah.
Komitmen Arkora Hydro dalam New Policy ini selaras dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Dengan bauran EBT yang saat ini mencapai 18,3%, pihaknya percaya PLTA akan menjadi tulang punggung dalam mencapai target peningkatan 52,9 GW hingga 2034. “Perubahan iklim adalah ancaman nyata, tetapi dengan strategi yang tepat, PLTA bisa tetap menjadi pilar utama energi hijau,” katanya. Langkah ini juga berdampak pada pengembangan proyek baru, dengan penyesuaian desain teknis berdasarkan pola iklim terkini.
