Skip to content
44

Main Agenda: Intip Strategi PLN Kejar Target Pembangunan PLTS 100 GW

Richard Gonzalez - lintasnaya.com 3 mins read

Strategi PLN Percepat Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya 100 GW Main Agenda - JAKARTA — PT PLN (Persero) sedang mempercepat program pembangunan

Main Agenda: Intip Strategi PLN Kejar Target Pembangunan PLTS 100 GW

Strategi PLN Percepat Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya 100 GW

Main Agenda – JAKARTA — PT PLN (Persero) sedang mempercepat program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan target total 100 gigawatt (GW) untuk mendukung kebutuhan energi nasional. Proyek ini menjadi salah satu main agenda utama PLN dalam menangani kenaikan permintaan listrik yang terus meningkat. Namun, capaian target tersebut bergantung pada aksesibilitas lahan, kepastian hukum, dan efisiensi tata kelola. Darmawan Prasodjo, Direktur Utama PLN, menjelaskan bahwa pendekatan strategis utama melibatkan pemanfaatan aset negara seperti jalan tol, waduk, dan infrastruktur lain untuk mengoptimalkan pengembangan PLTS.

Pemanfaatan Aset Negara sebagai Solusi Utama

Dalam strategi PLN, salah satu main agenda yang diutamakan adalah memanfaatkan lahan milik pemerintah. Jalan tol, misalnya, menjadi salah satu sumber potensi besar untuk pengembangan PLTS terapung. PT Jasa Marga (Persero), yang mengelola jalan tol sepanjang 802 kilometer (km), memiliki luas lahan di kedua sisi jalan sekitar 3-5 meter. Dengan luas total 400-500 hektare, lahan ini memberikan peluang tambahan untuk produksi energi sebesar 0,5 gigawatt peak (GWp). “Main Agenda PLN adalah menggandakan efisiensi penggunaan lahan, dan jalan tol menjadi salah satu infrastruktur yang bisa dimanfaatkan secara maksimal,” ungkap Darmawan saat rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI, Senin (6/7/2026).

Di samping jalan tol, PLN juga fokus pada waduk sebagai lahan alternatif. Darmawan menegaskan bahwa kementerian terkait seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Kementerian ESDM akan terlibat dalam mengidentifikasi area waduk yang layak untuk pembangunan PLTS. Dengan luas lahan sekitar 10.000 hektare, waduk bisa menjadi pilihan strategis untuk menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga surya hingga 10,3 GWp. “Main Agenda ini juga bertujuan mempercepat pengembangan energi terbarukan dengan memanfaatkan lahan yang sudah tersedia,” lanjutnya.

Peran Baterai Energi dalam Menyimpan Daya

PLN berencana menggabungkan Battery Energy Storage System (BESS) sebagai bagian dari main agenda percepatan energi terbarukan. Sistem ini bertujuan menyimpan energi yang dihasilkan dari PLTS untuk disuplai saat kebutuhan puncak. “Dengan BESS, kita bisa menambah kapasitas penyimpanan hingga 1,5 gigawatt jam (GWh) secara optimal,” tambah Darmawan. Penggunaan BESS diharapkan meningkatkan daya tahan sistem kelistrikan nasional dan mengurangi risiko kekurangan pasokan listrik.

Dalam rancangan tersebut, PLN juga menyiapkan lahan seluas 28.000 hektare di Pulau Jawa untuk menunjang program PLTS 100 GW. Dari total lahan yang disediakan, 8.500 hektare akan digunakan untuk produksi listrik sebesar 8,5 GWh. Proses koordinasi sedang berlangsung dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) serta Kementerian ESDM. “Main Agenda ini memerlukan kolaborasi antarlembaga untuk mempercepat realisasi,” jelas Darmawan.

Darmawan menyoroti tantangan utama dalam proyek ini, yakni kenaikan harga tanah. Berdasarkan kajian internal, peningkatan tarif tanah dari Rp200.000 menjadi Rp600.000 per meter persegi bisa menyebabkan kenaikan tarif listrik hingga 3 sen per kilowatt hour (kWh). Namun, PLN optimis bahwa strategi pemanfaatan lahan secara efisien akan meminimalkan dampak ini. “Main Agenda PLN tidak hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga manajemen risiko dan koordinasi dengan pihak terkait,” katanya.

Sebagai bagian dari main agenda percepatan energi terbarukan, PLN juga menggencarkan kemitraan dengan pihak swasta dan lembaga internasional. Berbagai skema kerja sama, seperti pengembangan PLTS melalui penanaman modal asing (PMA) atau kerja sama dengan perusahaan energi lain, dipertimbangkan untuk mempercepat realisasi proyek. Selain itu, PLN memprioritaskan penggunaan teknologi canggih seperti solar panel berkapasitas tinggi dan sistem manajemen energi berbasis digital. “Main Agenda ini melibatkan inovasi teknologi dan strategi pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan,” tambah Darmawan.

Pengembangan PLTS 100 GW juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menurunkan emisi karbon. Darmawan menegaskan bahwa proyek ini menjadi bagian dari visi nasional menuju transisi energi yang lebih hijau. “Main Agenda PLN adalah memberikan kontribusi nyata dalam mencapai target energi bersih nasional,” ujarnya. Dengan realisasi proyek ini, PLN memproyeksikan peningkatan pasokan listrik hingga 30% dalam lima tahun ke depan.

Join the discussion