Skip to content
44

Kualitas B50 Bikin Produktivitas Alat Berat Tambang Turun? Begini Penjelasan Ahli

Joseph Jones - lintasnaya.com 2 mins read

Kualitas B50 Bikin Produktivitas Alat Berat -

Kualitas B50 Bikin Produktivitas Alat Berat Tambang Turun? Begini Penjelasan Ahli

Kualitas B50 Mengurangi Produktivitas Alat Berat Tambang, Ahli Jelaskan

Pengaruh Biodiesel 50% pada Industri Pertambangan

Kualitas B50 Bikin Produktivitas Alat Berat – Industri pertambangan di Indonesia menghadapi tantangan baru akibat penggunaan bahan bakar biodiesel 50% (B50), yang dianggap berpotensi menurunkan efisiensi alat berat. Menurut Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy Hartono, kualitas B50 menjadi faktor utama yang memengaruhi produktivitas operasional. Ia menyoroti bahwa komponen Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dalam campuran B50 mempercepat masalah teknis, terutama pada mesin-mesin berat yang bekerja di kondisi ekstrem.

“Kualitas B50 berdampak signifikan pada daya torsi alat berat, menyebabkan penurunan kapasitas kerja, terutama saat melakukan operasi berat seperti ekavator atau truk pengangkut,” kata Sudirman dalam wawancara dengan Bisnis beberapa hari lalu. Menurutnya, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa B50 membuat alat berat tambang bekerja kurang optimal, meskipun diharapkan menjadi solusi ramah lingkungan.

Kualitas B50 yang kurang stabil juga memengaruhi konsumsi bahan bakar. Sudirman menuturkan, mesin yang menggunakan B50 mengalami peningkatan konsumsi energi, sehingga perlu lebih banyak refueling dalam sehari. Hal ini berdampak pada biaya operasional yang meningkat, terutama bagi perusahaan tambang yang mengandalkan alat berat sehari-hari. Selain itu, daya torsi yang rendah mengurangi kecepatan dan kapasitas penanganan material, mengganggu target produksi.

Kemungkinan Penurunan Kualitas Bahan Bakar

Kualitas B50 yang menjadi perdebatan juga terkait dengan sifat fisik bahan bakar tersebut. Sudirman menjelaskan, B50 memiliki kemampuan menyerap kelembapan yang lebih tinggi dibandingkan solar biasa. Hal ini membuatnya rentan terkontaminasi air dari udara, yang bisa memengaruhi proses pembakaran dan mempercepat kerusakan komponen mesin.

“Kandungan air di dalam tangki B50 bisa menyebabkan korosi pada ruang bakar, serta pengendapan kotoran yang mengganggu efisiensi mesin,” tambah Sudirman. Ia juga menyoroti bahwa air dalam bahan bakar mempercepat pertumbuhan mikroba, sehingga mengurangi kualitas B50 secara bertahap. “Masalah ini sering menyebabkan injektor bahan bakar cepat rusak dan filter lebih mudah terkontaminasi,” jelasnya.

Dalam konteks ini, B50 berperan sebagai pelarut kuat yang memudahkan endapan menempel di dinding tangki atau jalur pipa untuk terlepas. Namun, kelebihan ini justru memicu risiko penyumbatan pada filter bahan bakar, yang bisa menyebabkan gangguan operasional. Sudirman menekankan bahwa penggunaan B50 memerlukan perawatan lebih intensif dibandingkan solar, sehingga biaya pemeliharaan meningkat secara signifikan.

Alternatif Bahan Bakar yang Lebih Efisien

Sebagai solusi, Perhapi menyarankan penggunaan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) sebagai pengganti FAME dalam campuran B50. HVO dianggap lebih stabil karena proses hidrogenasi yang menghasilkan hidrokarbon murni, sehingga tidak menyerap air dan tidak mengurangi daya mesin.

“HVO memiliki sifat yang mirip dengan solar fosil, tetapi dengan keunggulan lingkungan yang lebih baik. Ini membuat kualitas B50 yang kurang optimal bisa diatasi dengan bahan bakar ini,” ujar Sudirman. Ia menambahkan, meskipun HVO lebih mahal dibanding B50

Join the discussion