Key Strategy: Potensi Pembangkit Tenaga Surya di NTB Mencapai 10 GW
Potensi Pembangkit Tenaga Surya di NTB Mencapai 10 GW Key Strategy menjadi fokus utama dalam upaya pengembangan energi terbarukan di Nusa Tenggara Barat
Potensi Pembangkit Tenaga Surya di NTB Mencapai 10 GW
Key Strategy menjadi fokus utama dalam upaya pengembangan energi terbarukan di Nusa Tenggara Barat (NTB), seiring dengan potensi pembangkit tenaga surya (PLTS) yang diharapkan bisa mencapai kapasitas 10 gigawatt (GW). Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, mengungkapkan bahwa strategi ini dirancang untuk memanfaatkan keunggulan geografis NTB, terutama di daerah Lombok dan Sumbawa, yang memiliki ketersediaan sinar matahari yang cukup tinggi. Dengan Key Strategy yang terintegrasi, NTB tidak hanya ingin mengembangkan PLTS skala besar tetapi juga mendorong inisiatif lokal untuk mempercepat proses transisi energi menuju energi bersih.
Latar Belakang dan Pandangan Strategis
Dalam acara Indonesia Solar Panel Summit 2026, Iqbal menekankan bahwa Key Strategy ini merupakan bagian dari upaya nasional untuk mencapai target 100 GW PLTS pada 2030. Ia menegaskan bahwa NTB bisa menjadi salah satu sentral pengembangan energi surya di Indonesia karena memiliki sumber daya alam yang memadai dan lokasi strategis. Kebijakan Key Strategy yang diterapkan di NTB diharapkan menjadi contoh bagus bagaimana daerah bisa mengambil peran aktif dalam mendorong ekosistem energi hijau. Selain itu, strategi ini juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui listrik yang lebih murah dan ramah lingkungan.
“Kami siap memainkan peran penting dalam Key Strategy nasional, dengan fokus pada peningkatan infrastruktur PLTS hingga 10 GW. NTB bisa menjadi motor penggerak pengembangan energi terbarukan di Indonesia,” kata Iqbal dalam pidatonya.
Capaian dan Progres Pengembangan PLTS
Sejak 2019, NTB telah mengoperasikan empat pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 5 MW di Pringgabaya, Selong, Sengkol, dan Sambelia. Proyek-proyek ini menjadi dasar dalam implementasi Key Strategy untuk memperluas penggunaan energi surya di provinsi tersebut. Selain itu, ada juga penggunaan PLTS kecil di beberapa desa di Lombok, seperti Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air, yang menunjukkan bahwa NTB memiliki fondasi kuat dalam menggerakkan inisiatif lokal. Dengan Key Strategy yang terus diperkuat, pemerintah daerah bersama masyarakat dan mitra bisnis diharapkan mampu menyelesaikan tantangan teknis serta regulasi guna mempercepat progres.
Pola Kerja Sama dalam Key Strategy
Key Strategy tidak hanya mengandalkan upaya sendirian, tetapi juga membutuhkan kerja sama antar daerah dan pihak terkait. Iqbal menyebutkan bahwa NTB akan berkolaborasi dengan Bali dan NTT untuk mencapai target nasional 100 GW PLTS. Bali, dengan potensi sebagai destinasi pariwisata rendah karbon, serta NTT yang diharapkan menjadi pusat energi terbarukan, akan membentuk sinergi yang kuat dalam Key Strategy nasional. Hal ini menunjukkan bahwa strategi pengembangan PLTS di NTB bukan hanya tentang kebijakan lokal, tetapi juga tentang kontribusi nasional melalui pendekatan yang terpadu.
“Dengan Key Strategy yang terencana, NTB bisa menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem energi surya yang berkelanjutan. Kami ingin memastikan bahwa proyek ini tidak hanya berdampak pada daerah, tetapi juga mendorong pertumbuhan industri dan kesejahteraan rakyat,” jelas Iqbal.
Faktor Penentu Keberhasilan Key Strategy
Pengembangan PLTS di NTB melalui Key Strategy memerlukan beberapa faktor penentu, seperti konsistensi kebijakan, akselerasi penerapan izin, dan ketersediaan dana. Chef Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menegaskan bahwa keberhasilan Key Strategy bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Ia menambahkan bahwa NTB memiliki keunggulan dalam ekosistem surya dan penyimpanan energi, yang bisa dioptimalkan melalui pendekatan lokal dan pendidikan berkelanjutan. Dengan Key Strategy yang tepat, daerah ini bisa mempercepat proses transisi energi menuju keberlanjutan.
“Indonesia perlu memastikan Key Strategy dalam pengembangan PLTS bisa menjadi pengungkit industri dalam negeri. Ini membutuhkan peningkatan empat aspek utama: pasar, kapasitas industri, sumber daya manusia, serta riset dan inovasi,” jelas Fabby.
Tantangan dan Perspektif Masa Depan
Dalam laporan kajian yang dikeluarkan IESR, disebutkan bahwa keberhasilan Key Strategy di NTB masih tergantung pada beberapa tantangan, seperti stabilitas kebijakan TKDN, proses insentif yang lambat, dan ketersediaan rantai pasok yang memadai. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah daerah perlu menciptakan aturan yang lebih stabil dan transparan, serta menyiapkan kerangka kerja yang progresif. Dalam jangka pendek hingga 2030, fokus akan diberikan pada penguatan produksi modul dan sel surya, sementara hingga 2040, integrasi produksi wafer dan polysilicon menjadi prioritas. Dengan Key Strategy yang terus dikembangkan, NTB bisa menjadi contoh sukses dalam mengembangkan energi terbarukan secara berkelanjutan.
