Skip to content
257

Special Plan: Daya Saing Investasi Manufaktur RI Kalah dari Vietnam, Ini Biang Keroknya

Joseph Jones - lintasnaya.com 4 mins read

Special Plan: Daya Saing Investasi Manufaktur RI Belum Menjaga Kekuatan di Asia Tenggara Special Plan - JAKARTA — Di tengah persaingan ketat dalam menarik

Special Plan: Daya Saing Investasi Manufaktur RI Kalah dari Vietnam, Ini Biang Keroknya

Special Plan: Daya Saing Investasi Manufaktur RI Belum Menjaga Kekuatan di Asia Tenggara

Special Plan – JAKARTA — Di tengah persaingan ketat dalam menarik investasi manufaktur di Asia Tenggara, Indonesia masih kalah dari negara-negara tetangga seperti Vietnam. Meski memiliki kekayaan sumber daya alam dan potensi pasar yang luas, faktor-faktor seperti biaya logistik, harga energi, dan kepastian regulasi menjadi penentu utama keputusan investor. Menurut ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, keberhasilan negara dalam menarik investasi tidak cukup hanya diukur dari jumlah kawasan industri yang ditawarkan, melainkan dari kualitas layanan dan kepastian kebijakan yang diberikan.

Faktor Logistik: Penentu Utama dalam Daya Saing

Dalam penelitian terbaru, biaya logistik Indonesia mencapai sekitar 14,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dibandingkan negara-negara ASEAN seperti Malaysia dan Thailand. Yusuf menjelaskan bahwa efisiensi logistik yang buruk mengurangi daya tarik Indonesia bagi investor asing. “Dalam sepuluh tahun terakhir, Vietnam mampu meningkatkan sistem logistiknya dengan integrasi infrastruktur dan pengurangan biaya, menjadikannya pilihan utama untuk relokasi pabrik,” tambah Yusuf dalam wawancara dengan Bisnis, Senin (13/7/2026).

Logistik yang kurang optimal juga mengakibatkan skor Indonesia menurun di Logistics Performance Index (LPI). Menurutnya, pengelolaan pelabuhan, kecepatan proses bea cukai, dan kepastian kebijakan impor bahan baku perlu ditingkatkan. “Special Plan harus menjadi alat untuk mereformasi sistem logistik, bukan sekadar menambah jumlah kawasan industri,” jelas Yusuf, yang menekankan pentingnya infrastruktur yang lebih efisien sebagai bagian dari strategi nasional.

Analisis Investasi dan Tantangan di Tahun 2025

Dalam tahun 2025, investasi di kawasan industri mencapai Rp6.744,58 triliun, tumbuh 9,26% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, Yusuf Rendy Manilet menyatakan bahwa pertumbuhan ini tidak sepenuhnya mencerminkan peningkatan daya saing. “Investasi manufaktur dari Rusia dan negara lainnya belum mencapai level lima besar, dan Special Plan menjadi strategi untuk mengundang lebih banyak investor, terutama dari luar ASEAN,” katanya. Ia juga mengingatkan bahwa angka okupansi kawasan industri lebih penting daripada luasannya.

Menurut Yusuf, keberhasilan investasi manufaktur bergantung pada kombinasi faktor ekonomi, regulasi, dan lingkungan bisnis. “Special Plan harus didukung oleh kebijakan konkret, seperti pengurangan biaya produksi, akses pasar yang lebih cepat, dan insentif yang bersifat jangka panjang,” ujarnya. Dengan demikian, peningkatan daya saing tidak bisa hanya dilakukan melalui penawaran kawasan industri, tetapi juga melalui perbaikan ekosistem investasi secara menyeluruh.

Kebijakan Khusus: Solusi untuk Meningkatkan Daya Saing

Special Plan dianggap sebagai langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan daya saing investasi di tengah persaingan global. Namun, Yusuf menyoroti bahwa kebijakan ini perlu disertai dengan komitmen jangka panjang untuk memperbaiki infrastruktur dan memastikan kepastian regulasi. “Investor mencari kesempatan yang menawarkan kestabilan, bukan sekadar potensi,” katanya. Ia menambahkan bahwa kawasan industri yang dipromosikan melalui Special Plan harus memiliki tingkat okupansi tinggi, serta didukung oleh ekosistem pendukung seperti fasilitas pendidikan dan pengembangan keterampilan tenaga kerja.

Yusuf juga menyoroti dampak sanksi internasional terhadap keberhasilan investasi dari Rusia. “Meski Special Plan menyasar investor Rusia, faktor-faktor seperti akses pasar dan kepastian regulasi tetap menjadi penentu utama,” jelasnya. Dengan demikian, untuk menarik investor manufaktur, Indonesia perlu memperbaiki daya saing secara holistik, termasuk pengelolaan energi, birokrasi, dan infrastruktur transportasi.

Persaingan dengan Vietnam: Perspektif Global dan Lokal

Vietnam, yang memiliki biaya produksi lebih rendah dan sistem regulasi yang lebih terstruktur, telah menjadi pusat perhatian bagi investor internasional. “Kebijakan Special Plan Indonesia harus meniru keberhasilan Vietnam dalam menciptakan lingkungan bisnis yang ramah dan berkelanjutan,” kata Yusuf. Ia menekankan bahwa keberhasilan peningkatan daya saing akan terlihat jika pemerintah fokus pada penyempurnaan kebijakan, bukan hanya penawaran fisik.

Menurut Yusuf, keberhasilan investasi manufaktur tidak hanya bergantung pada jumlah kawasan industri, tetapi juga pada kemampuan negara dalam menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan industri. “Special Plan harus menjadi jembatan untuk mengubah citra Indonesia dari sekadar negara dengan sumber daya melimpah menjadi destinasi investasi yang menarik secara global,” paparnya. Dengan perbaikan berkelanjutan, Indonesia bisa meningkatkan daya saingnya dan menjadi alternatif yang kompetitif dibandingkan negara-negara tetangga.

Langkah Kebijakan untuk Masa Depan Investasi

Yusuf Rendy Manilet menyarankan bahwa pemerintah perlu mengevaluasi kembali kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan daya saing investasi. “Special Plan harus diintegrasikan dengan strategi jangka panjang, seperti pengurangan biaya energi, pengembangan kawasan industri yang berkelanjutan, serta penguatan kerja sama regional,” jelasnya. Ia juga menegaskan bahwa peningkatan okupansi kawasan industri adalah kunci untuk menarik lebih banyak investasi manufaktur.

“Special Plan harus menjadi cerminan dari upaya Indonesia untuk memperbaiki daya saing investasi. Kawasan industri yang terisi penuh dan memiliki aktivitas industri yang dinamis jauh lebih menarik bagi investor dibandingkan kawasan yang hanya besar tetapi belum beroperasi,” ujar Yusuf Rendy Manilet.

Join the discussion