Skip to content
257

Key Discussion: Selat Hormuz Dibuka, Tekanan ke Industri Tekstil Belum Mereda

Sandra Hernandez - lintasnaya.com 3 mins read

Key Discussion: Selat Hormuz Dibuka, Tekanan ke Industri Tekstil Masih Ada Key Discussion - Dalam Key Discussion terkini, pembukaan kembali Selat Hormuz

Key Discussion: Selat Hormuz Dibuka, Tekanan ke Industri Tekstil Belum Mereda

Key Discussion: Selat Hormuz Dibuka, Tekanan ke Industri Tekstil Masih Ada

Key Discussion – Dalam Key Discussion terkini, pembukaan kembali Selat Hormuz diharapkan bisa menjadi solusi sementara bagi industri tekstil nasional yang terus menghadapi tekanan akibat kenaikan harga minyak global. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah sebelumnya menyebabkan penghentian aktivitas pengangkutan kapal di Selat Hormuz, yang berdampak signifikan pada biaya logistik dan ketersediaan bahan baku. Namun, para pengusaha di sektor tekstil menyatakan bahwa manfaat dari pembukaan kembali selat ini belum cukup mengangkat kinerja industri, terutama karena tekanan dari impor bahan baku serta biaya energi yang masih tinggi.

Kembalinya Arus Kapal: Dampak Positif yang Belum Nyata

Analisis dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menunjukkan bahwa penurunan harga bahan baku kimia tekstil berpotensi mengurangi beban produksi. Sebagian besar bahan baku tekstil di Indonesia berasal dari turunan minyak bumi, sehingga perubahan harga minyak langsung memengaruhi biaya operasional. Dalam Key Discussion yang diadakan Bisnis, Direktur Eksekutif API, Danang Girindrawardana, menyatakan bahwa stabilisasi harga minyak akan memberikan angin segar bagi industri, tetapi dampaknya perlu waktu untuk terasa.

“Kenaikan harga energi sebelumnya memicu kenaikan biaya logistik dan produksi, yang menjadi salah satu tekanan utama industri tekstil. Kembalinya arus kapal di Selat Hormuz akan membantu, tapi masih ada tantangan yang perlu diatasi,” tambah Danang.

Kebutuhan Substitusi Impor: Tantangan yang Harus Dijawab

Menurut Danang, kebutuhan substitusi bahan baku impor harus menjadi prioritas dalam Key Discussion kebijakan industri. Saat ini, sekitar 60% bahan baku tekstil nasional masih bergantung pada impor, terutama dari negara-negara seperti Tiongkok dan Korea Selatan. Meski ada upaya pemerintah untuk mempercepat produksi dalam negeri, efektivitasnya masih dinilai kurang optimal. “Kita perlu bahan baku yang bisa diproduksi secara lokal, agar tidak tergantung pada pasokan internasional yang rentan fluktuasi,” jelasnya.

“Dalam Key Discussion terkait kebijakan energi, kita harus fokus pada alokasi gas industri yang lebih adil. Jika harga gas bisa diturunkan, maka biaya produksi tekstil akan mengikuti, dan itu akan memberi ruang bagi pertumbuhan ekspor,” kata Danang.

Peran Pemerintah: Menjadi Pemimpin dalam Solusi

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Farhan Aqil Syauqi, menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam memastikan stabilitas pasokan energi. Ia mengatakan bahwa meski harga gas bumi ditetapkan sebesar US$7 per MMBtu, industri tekstil hanya menerima sekitar 37% dari kebutuhan total. Sisanya harus dibeli melalui LNG dengan harga yang jauh lebih tinggi, mencapai US$21 hingga US$26 per MMBtu.

“Dalam Key Discussion kebijakan energi, kita harus memastikan alokasi gas industri tidak hanya untuk sektor energi tapi juga sektor padat karya seperti tekstil. Jika itu tercapai, produktivitas industri akan meningkat secara signifikan,” saran Aqil.

Potensi Ekspor: Harapan di Tengah Kondisi Pasar

Sementara itu, industri tekstil Indonesia tetap optimis terhadap peluang ekspor. Meski permintaan dari pasar global sempat turun 5-7% di kuartal pertama 2026, banyak negara tetap membutuhkan produk tekstil dari Indonesia karena kualitasnya yang kompetitif. Danang mengungkapkan bahwa ekspor tekstil bisa menjadi penyelamat sektor, asalkan biaya produksi bisa ditekan. “Dalam Key Discussion strategi pemasaran, kita perlu memperkuat jaringan distribusi internasional dan meningkatkan kualitas produk,” imbuhnya.

Para pelaku industri juga berharap pemerintah bisa memberikan insentif berupa keringanan biaya energi dan bahan baku. Dengan demikian, industri tekstil tidak hanya bisa bertahan, tetapi juga meningkatkan daya saing di pasar global. “Kita butuh dukungan dari kebijakan yang konsisten, agar tidak kembali ke situasi yang menyulitkan,” tegas Danang.

Kebijakan ke Depan: Kunci untuk Pemulihan

Menyusul Key Discussion terkini, para pengusaha menekankan perlunya kebijakan jangka panjang yang memprioritaskan kebutuhan industri tekstil. Ini meliputi peningkatan produksi bahan baku lokal, pengurangan ketergantungan impor, serta dukungan finansial untuk pengusaha kecil menengah. Dengan perubahan kebijakan yang tepat, industri tekstil diharapkan bisa pulih lebih cepat, meski tekanan dari faktor eksternal masih akan terus ada.

Join the discussion