Kena PHK – Sebagian Buruh Tekstil Beralih Buka Bisnis Konveksi
Kena PHK, Banyak Buruh Tekstil Beralih Jadi Pengusaha Konveksi Kena PHK memengaruhi sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) secara signifikan
Kena PHK, Banyak Buruh Tekstil Beralih Jadi Pengusaha Konveksi
Kena PHK memengaruhi sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) secara signifikan, terutama pada 2023–2024. Pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terus meningkat menyebabkan ratusan ribu pekerja kehilangan penghasilan tetap, sehingga memaksa mereka mencari jalan baru. Banyak dari mereka akhirnya memutuskan untuk beralih menjadi pengusaha konveksi, memanfaatkan uang pesangon sebagai modal awal. Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB) mengamati fenomena ini sebagai tanda kebangkitan pelaku usaha kecil dan menengah (IKM) di sektor sandang, yang sebelumnya dianggap kritis terganggu oleh perubahan pasar.
Angka PHK dan Dampaknya pada Tenaga Kerja
Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, jumlah pekerja yang kena PHK di sektor TPT mencapai lebih dari 80.000 pada periode 2023–2024. Angka ini menyentuh sekitar 50.000 tenaga kerja yang mengalami pengangguran, terutama di bidang produksi dan perakit. Ketua Umum IPKB, Nandi Herdiaman, menjelaskan bahwa sebagian besar dari mereka tidak pasif. Mereka menggunakan pesangon untuk membeli mesin jahit bekas, menyewa ruko kecil, dan berdiri sebagai pengusaha konveksi mandiri. Dari status buruh, mereka naik kelas menjadi pemilik IKM, bahkan bisa menciptakan pekerjaan bagi dua hingga lima orang lainnya.
Kena PHK tidak hanya mempengaruhi perekonomian individu, tetapi juga membentuk pergeseran struktur ekonomi lokal. Dengan kehilangan pekerjaan, banyak buruh tekstil memutuskan untuk berbisnis sendiri, berharap membangun usaha yang lebih stabil. Kebutuhan akan sandang sebagai kebutuhan primer membuat permintaan produk lokal tetap tinggi, meskipun menghadapi persaingan dari barang impor. Herdiaman menegaskan bahwa transisi ini bisa menjadi peluang untuk meningkatkan kemandirian ekonomi sektor TPT.
“Banyak pekerja yang kena PHK justru menemukan peluang baru. Mereka memanfaatkan kesempatan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan bisnis yang berubah,” ujar Herdiaman melalui pesan singkat kepada Bisnis, Senin (6/7/2026).
Strategi Pemulihan dan Perkembangan IKM
Kena PHK menjadi momentum bagi sejumlah buruh tekstil untuk mengubah pola kerja. Mereka memulai usaha konveksi dengan modal terbatas, tetapi menitikberatkan pada keahlian yang dimiliki selama bertahun-tahun. Herdiaman menjelaskan bahwa usaha ini tidak hanya mengurangi risiko ketergantungan pada perusahaan besar, tetapi juga memperkuat daya tahan industri. Dengan 10 hingga 20 mesin jahit, usaha kecil ini bisa memproduksi pakaian atau aksesori sesuai permintaan pasar lokal.
Permintaan dari masyarakat Indonesia yang hampir 280 juta penduduk memberikan ruang untuk pengusaha konveksi baru. Meski pasar internasional masih dominan, kebutuhan sandang dalam negeri tetap stabil, terutama pada musim tertentu. Beberapa dari pengusaha ini berhasil mengembangkan usaha hingga bisa menampung karyawan, sehingga berkontribusi pada penyerapan tenaga kerja dan perekonomian daerah. Fenomena ini juga memperlihatkan adaptasi sektor TPT dalam menghadapi tantangan global.
Kendala dari Produk Impor
Situasi kena PHK tidak sepenuhnya tanpa hambatan. Herdiaman menyoroti ancaman produk impor yang mulai mendominasi pasar dalam negeri. Barang dari luar negeri yang harganya lebih murah, seperti sekitar US$1 hingga US$3 per unit, memberikan tekanan signifikan pada usaha konveksi rumahan. Tren ini terjadi sejak 2020–2023, ketika e-commerce menjadi kanal utama distribusi. Dampaknya, sekitar 30% konveksi rumahan tutup karena sulit bersaing.
Perusahaan konveksi kecil menghadapi tantangan dalam menyesuaikan biaya produksi dengan harga kompetitif. Kena PHK membuat pekerjaan menjadi lebih rentan, terutama ketika perusahaan besar memprioritaskan efisiensi biaya. Untuk mengatasi ini, Herdiaman menyarankan perlunya regulasi yang membatasi akses produk impor ke pasar lokal. Dengan memperkuat standar kualitas dan harga, pelaku usaha kecil bisa bertahan dan tumbuh.
Langkah Pemerintah untuk Dukung IKM Konveksi
IPKB menyerukan pemerintah untuk memperkuat regulasi perdagangan, khususnya dalam pengawasan terhadap produk impor. Langkah ini bisa dilakukan dengan memperketat aturan mengenai persaingan harga, serta memastikan produk lokal tidak kalah dalam kualitas. Kena PHK menjadi momen penting bagi IKM, jadi dukungan pemerintah diperlukan untuk membangun ekosistem yang sehat.
Dalam rangka mendorong pertumbuhan usaha konveksi, IPKB menekankan perlunya memisahkan fungsi media sosial dan marketplace agar produk impor tidak mudah masuk. Rekomendasi lain meliputi inspeksi gudang pre-order, serta pembinaan berkelanjutan bagi IKM baru dengan akses mesin produksi modern, pelatihan desain, dan fasilitasi sertifikasi SNI. Dengan begitu, usaha konveksi lokal bisa meningkatkan daya saing dan memperkuat posisi di pasar domestik.
Kena PHK memang memicu perubahan besar, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi sektor TPT. Dengan memulai usaha sendiri, buruh yang sebelumnya bergantung pada pekerjaan tetap bisa menemukan kemandirian. Meski masih ada tantangan, transisi ini menunjukkan adaptasi yang kuat dan potensi pertumbuhan yang signifikan. Kebijakan yang tepat dari pemerintah bisa menjadi penentu utama dalam membawa industri konveksi ke tahap yang lebih baik.
