Skip to content
257

APSyFI Ungkap Industri Tekstil dalam Situasi Sulit – Biaya Produksi Bahan Baku Melonjak

Richard Gonzalez - lintasnaya.com 3 mins read

APSyFI: Industri Tekstil Hadapi Kesulitan, Biaya Bahan Baku Naik APSyFI Ungkap Industri Tekstil dalam Situasi - Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen

APSyFI Ungkap Industri Tekstil dalam Situasi Sulit – Biaya Produksi Bahan Baku Melonjak

APSyFI: Industri Tekstil Hadapi Kesulitan, Biaya Bahan Baku Naik

APSyFI Ungkap Industri Tekstil dalam Situasi – Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) baru-baru ini menyoroti kondisi yang kritis di sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional. Situasi ini semakin memburuk akibat kenaikan signifikan harga bahan baku, yang menyebabkan beban produksi para pengrajin meningkat drastis. Penjelasan ini disampaikan oleh Farhan Aqil Syauqi, Sekretaris Jenderal APSyFI, dalam wawancara terbaru dengan Bisnis, Rabu (1/7/2026). Dalam laporan terbarunya, APSyFI mengungkapkan bahwa kenaikan biaya produksi menjadi penghalang utama bagi pertumbuhan sektor TPT yang sudah sulit sejak beberapa tahun terakhir.

Ketergantungan pada Bahan Baku Global

Menurut Farhan, kenaikan harga bahan baku tekstil sangat dipengaruhi oleh perubahan harga komoditas global, terutama yang berbasis nafta. Karena bahan baku tekstil Indonesia banyak bergantung pada impor, fluktuasi nilai tukar rupiah serta kenaikan harga minyak dunia berdampak langsung pada biaya produksi. “Dengan rupiah yang terus melemah, biaya impor bahan baku tekstil menjadi lebih mahal,” jelas Farhan. Hal ini menyebabkan perusahaan lokal kesulitan menyesuaikan harga jual produk mereka, sehingga daya beli konsumen dalam negeri semakin tertekan.

APSyFI Ungkap Industri Tekstil menekankan bahwa kenaikan biaya bahan baku tidak hanya memengaruhi produsen besar, tetapi juga berdampak pada perusahaan kecil dan menengah (UKM). Bahan baku seperti serat sintetis dan benang filamen, yang sebagian besar diimpor, kini menjadi salah satu faktor utama yang menurunkan profitabilitas industri. “Para pengusaha TPT mengeluhkan karena biaya produksi mereka meningkat hampir 20% dalam enam bulan terakhir,” tambah Farhan. Ia menyarankan pemerintah perlu memberikan insentif tambahan untuk membantu industri ini bertahan.

Kinerja PMI Manufaktur yang Turun

Indeks PMI Manufaktur Indonesia, yang dikeluarkan oleh S&P Global, menunjukkan penurunan signifikan pada bulan Juni 2026. Angka ini tercatat hanya 46,9, turun dari 50,0 di bulan Mei. Kondisi ini mencerminkan kontraksi sektor manufaktur, termasuk industri tekstil. “APSyFI Ungkap Industri Tekstil mengatakan bahwa penurunan PMI ini adalah yang terbesar dalam setahun, menandakan ketidakstabilan yang parah,” kata Usamah Bhatti, ekonom dari S&P Global Market Intelligence.

Kinerja yang buruk ini didorong oleh dua faktor utama: penurunan permintaan domestik dan tekanan harga di pasar internasional. Daya beli konsumen dalam negeri terganggu karena inflasi yang tinggi, sementara ekspor juga terhambat karena biaya produksi yang semakin mahal. “Dengan biaya bahan baku yang melonjak, produsen tekstil kesulitan menetapkan harga kompetitif di luar negeri,” jelas Usamah. Ia menyoroti bahwa kenaikan biaya produksi telah menyebabkan penurunan volume output terbesar sejak Agustus 2021.

Upaya Pemerintah untuk Meringankan Beban

Kebutuhan insentif fiskal dari sektor TPT mendapat perhatian serius dari pemerintah. Farhan menegaskan bahwa berbagai kebijakan seperti diskon PPn atau pengurangan pajak sangat penting untuk mengurangi beban biaya produksi. “APSyFI Ungkap Industri Tekstil berharap pemerintah dapat segera memberikan kebijakan yang mendukung industri ini,” katanya. Pemerintah juga sedang mempertimbangkan pengaturan harga LNG yang lebih kompetitif, dengan tarif US$13 per MMBTU, untuk menekan biaya operasional perusahaan.

Selain itu, ada upaya-upaya lain seperti pengurangan tarif impor bahan baku tekstil, yang sebelumnya mencapai 5% hingga 10%. Menurut Farhan, langkah ini perlu disertai dengan penguatan nilai tukar rupiah untuk membuat bahan baku lebih terjangkau. “Jika rupiah terus melemah, industri tekstil akan kesulitan bertahan, terutama di tengah ketidakstabilan ekonomi global,” terangnya. Penyesuaian harga gas bumi yang ditetapkan oleh Kementerian ESDM dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) juga menjadi fokus utama dalam upaya menjaga efisiensi pabrik.

Perbandingan dengan Tahun-Tahun Sebelumnya

Kondisi saat ini lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, seperti pada 2021 dan 2022. Dalam 2021, kenaikan biaya bahan baku menyebabkan penurunan PMI hingga 12%, sedangkan pada 2022, angka tersebut mencapai 15%. Dalam konteks ini, situasi 2026 tergolong kritis. “APSyFI Ungkap Industri Tekstil mengatakan bahwa kenaikan harga bahan baku saat ini mencapai level yang tidak pernah terjadi sejak krisis 2008,” kata Farhan. Ini memperlihatkan bahwa industri tekstil mengalami tekanan yang lebih kuat dibandingkan sektor manufaktur lainnya.

Perusahaan tekstil juga menghadapi tantangan dari kompetisi global. Harga bahan baku yang tinggi membuat produk Indonesia lebih mahal dibandingkan negara-negara tetangga seperti Vietnam, Bangladesh, atau India. “APSyFI Ungkap Indust

Join the discussion