Latest Program: Pelaku Industri Kemasan Tahan Ekspansi di Tengah Tekanan Biaya, Fokus Jaga Efisiensi
i Tengah Ketidakpastian Latest Program - Bisnis.com, JAKARTA — Para pengusaha di sektor kemasan mengambil langkah hati-hati untuk mengurangi pertumbuhan
Pelaku Industri Kemasan Fokus pada Efisiensi di Tengah Ketidakpastian
Latest Program – Bisnis.com, JAKARTA — Para pengusaha di sektor kemasan mengambil langkah hati-hati untuk mengurangi pertumbuhan kapasitas produksi di semester kedua tahun 2026. Hal ini dilakukan karena adanya ketidakpastian harga bahan baku, pelemahan daya beli masyarakat, serta kenaikan beban kepatuhan terhadap regulasi lingkungan. Direktur Indonesian Packaging Federation (IPF), Henky Wibawa, menjelaskan bahwa sebagian besar perusahaan kini lebih mengutamakan penguatan efisiensi biaya dan penyesuaian volume produksi agar sesuai dengan permintaan pasar.
Ketidakpastian Harga Bahan Baku
Pertimbangan utama para pelaku industri adalah fluktuasi harga bahan baku, risiko penurunan daya beli konsumen, serta kewajiban regulasi lingkungan yang meningkatkan biaya operasional. Meski prospek industri kemasan tahun 2026 menunjukkan pertumbuhan positif, tingkat pertumbuhan tersebut dinilai lebih moderat dibandingkan awal tahun karena tekanan biaya. Namun, pertumbuhan tetap berlangsung berkat dorongan konsumsi dan investasi.
“Pertimbangannya adalah ketidakpastian harga bahan baku, risiko pelemahan daya beli konsumen, kewajiban kepatuhan regulasi lingkungan yang menambah biaya,” ujarnya kepada Bisnis, Sabtu (11/7/2026).
Permintaan Masih Didukung Konsumsi Rumah Tangga
Henky menambahkan bahwa permintaan kemasan saat ini masih didukung oleh konsumsi rumah tangga yang kuat, yang menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB). Selain itu, pertumbuhan perdagangan elektronik dan implementasi program pangan nasional—yang menargetkan penyediaan sekitar 190 juta porsi makanan per hari—juga turut mendorong kebutuhan akan kemasan, khususnya pada sektor makanan dan minuman.
Kenaikan Harga Bahan Baku Masih Berdampak
Kendati ada penyesuaian harga, krisis pasokan nafta global sebelumnya sempat memicu lonjakan harga biji plastik hingga 200%. Meski kini harga mulai stabil, dampak inflasi biaya produksi masih dirasakan oleh industri. Tekanan biaya ini berdampak pada daya beli masyarakat, sehingga permintaan menjadi lebih selektif.
Henky menjelaskan bahwa pelaku industri juga harus beradaptasi dengan penerapan regulasi Extended Producer Responsibility (EPR) dan kebijakan pengurangan plastik sekali pakai. Kebijakan ini memerlukan investasi tambahan, yang menjadi tantangan tersendiri. Dengan kondisi tersebut, ia memperkirakan tingkat penggunaan kapasitas produksi industri kemasan pada semester II/2026 cenderung stagnan atau hanya naik sedikit, jika kebijakan stimulus pemerintah berhasil menekan biaya input.
“Fokus perusahaan adalah menjaga utilisasi tetap stabil sambil menghindari overproduksi,” ungkapnya.
Permintaan Dukungan dari Pemerintah
Untuk menjaga daya saing, IPF menekankan perlunya dukungan pemerintah dalam bentuk stabilitas harga energi dan bahan baku. Selain itu, insentif investasi untuk pengembangan teknologi daur ulang serta kemasan ramah lingkungan dinilai sangat penting. Henky juga menyoroti perlunya kepastian regulasi EPR agar pelaku usaha bisa merencanakan investasi jangka panjang secara lebih terukur.
“Dan dukungan infrastruktur logistik untuk memperkuat rantai pasok domestik,” pungkasnya.
