Skip to content
12

Key Strategy: Peran Koperasi Desa Merah Putih Sebagai Penggerak Ekonomi Dipertanyakan

Anthony Wilson - lintasnaya.com 3 mins read

tih Dipertanyakan sebagai Key Strategy Ekonomi Key Strategy - Dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi desa, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dianggap

Key Strategy: Peran Koperasi Desa Merah Putih Sebagai Penggerak Ekonomi Dipertanyakan

Peran Koperasi Desa Merah Putih Dipertanyakan sebagai Key Strategy Ekonomi

Key Strategy – Dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi desa, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dianggap sebagai salah satu key strategy utama pemerintah. Namun, berdasarkan laporan Bisnis.com, keberhasilan KDMP masih menjadi pertanyaan karena belum mampu memainkan peran seutuhnya sebagai penggerak ekonomi. Peneliti dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Isnawati Hidayah, menyoroti bahwa beberapa koperasi yang telah dibentuk lebih fokus pada aktivitas administratif dibandingkan penerapan fungsi ekonomi yang efektif. Hal ini menunjukkan bahwa key strategy yang diusung perlu diperkuat dengan pendekatan yang lebih holistik.

Konsep Awal dan Tantangan Implementasi

Konsep KDMP sejak awal diharapkan bisa menjadi wadah penggalian hasil produksi pertanian, perikanan, dan usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) di desa. Tujuannya adalah memperkuat ekosistem usaha lokal dan menciptakan keberlanjutan ekonomi. Namun, kenyataannya, sebagian besar koperasi saat ini masih beroperasi sebagai penjual bahan pokok seperti beras, minyak goreng, LPG, dan pupuk. Tantangan utamanya terletak pada kurangnya kesiapan pasar, infrastruktur, serta model bisnis yang sesuai dengan kebutuhan desa. Tanpa dukungan ini, pembentukan puluhan ribu koperasi berisiko menjadi proyek administratif yang tidak berdampak signifikan.

“Masih ada yang hanya bangunan fisik, belum ada aktivitasnya. Jangan sampai program pemerintah ini hanya mengejar output administrasi dengan mengatasnamakan koperasi untuk ekonomi rakyat,” kata Isnawati kepada Bisnis, Selasa (21/7/2026).

Key strategy KDMP juga terkendala oleh kebijakan yang kurang fleksibel. Yusuf Rendi Manilet dari Center of Reform on Economics (CORE) menilai, koperasi yang hanya berperan sebagai toko sembako justru memperparah persaingan dengan usaha kecil lainnya. Ia menekankan bahwa koperasi seharusnya menjadi penghubung antara produsen dan konsumen, sehingga mendorong pertumbuhan usaha lokal dan meningkatkan nilai tambah produksi. Namun, model bisnis yang sederhana dan mudah dijalankan membuat KDMP sulit memenuhi fungsi tersebut.

Solusi dan Peran Pemerintah

Untuk memperbaiki situasi, Yusuf mengusulkan tiga aspek utama yang perlu diperjelas: model bisnis koperasi sesuai dengan karakteristik desa, kualitas SDM pengelola, serta fleksibilitas usaha berdasarkan potensi wilayah. Dengan demikian, key strategy ini bisa lebih efektif jika didukung oleh mekanisme offtaker yang memastikan hasil pertanian tetap diserap, terutama saat harga pasar sedang turun. Yusuf menekankan bahwa mekanisme ini akan memberikan stabilitas keuangan koperasi dan meningkatkan daya saing usaha desa.

Peran BUMDes dan Bulog juga menjadi faktor penting dalam memperkuat key strategy KDMP. Koperasi dan BUMDes perlu saling melengkapi fungsi, bukan bersaing. Misalnya, Bulog bisa menjadi penggerak dalam mendistribusikan bahan pokok ke desa, sementara KDMP fokus pada pengelolaan usaha lokal. Dengan strategi ini, koperasi bisa menjadi pilar ekonomi yang lebih tangguh, bukan hanya simbol kebijakan.

“Idealnya, Kopdes menjadi penghubung antara produsen dan konsumen, sehingga meningkatkan ekosistem usaha lokal, bukan malah memperparah persaingan,” jelas Yusuf.

Key strategy KDMP juga perlu mengintegrasikan inisiatif dari berbagai pemangku kepentingan. Misalnya, pemerintah bisa memberikan pelatihan bagi pengelola koperasi agar mampu mengelola usaha secara profesional. Selain itu, koperasi perlu berkolaborasi dengan pelaku UMKM desa untuk mengembangkan produk unggulan yang bisa meningkatkan pendapatan masyarakat. Dengan pendekatan ini, koperasi tidak hanya menjadi tempat penyimpanan bahan pokok, tetapi juga menjadi pusat perekonomian yang berkelanjutan.

Sementara itu, pemerintah menegaskan bahwa KDMP tidak hanya berfungsi sebagai penjual pupuk bersubsidi atau bahan pokok. Dalam Perpres yang sedang disiapkan, koperasi tersebut akan dimasukkan sebagai infrastruktur distribusi dan pembeli hasil panen ketika harga pasar menurun. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat key strategy KDMP sebagai penyangga ekonomi desa. Meski demikian, hasil evaluasi menunjukkan bahwa keberhasilan koperasi tidak hanya tergantung pada jumlah yang dibentuk, tetapi pada kualitas manajemen dan peran nyata dalam ekonomi setempat.

Join the discussion