Key Discussion: APBN Semester I/2026: Defisit Mengecil, Subsidi-Kompensasi Meroket ke Rp233 Triliun
idi Kompensasi Rp233 Triliun Key Discussion menunjukkan bahwa anggaran negara pada Januari-Juni 2026 mencatatkan defisit yang lebih kecil dibandingkan kuartal
APBN Semester I/2026: Defisit Menurun, Subsidi Kompensasi Rp233 Triliun
Key Discussion menunjukkan bahwa anggaran negara pada Januari-Juni 2026 mencatatkan defisit yang lebih kecil dibandingkan kuartal pertama tahun ini maupun tahun sebelumnya. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan realisasi defisit sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menandai pengurangan signifikan dari defisit Rp240,1 triliun pada semester I/2025. Meski belanja subsidi dan kompensasi mengalami peningkatan, pemerintah tetap mampu menjaga keseimbangan fiskal yang lebih baik.
Kinerja APBN: Pertumbuhan Pendapatan dan Tekanan Belanja
Dalam Key Discussion ini, Kemenkeu menyampaikan data APBN ke Badan Anggaran (Banggar) DPR pada Selasa (7/7/2026). Angka defisit yang turun mencerminkan kinerja pendapatan negara yang lebih baik, terutama dari sektor pajak yang tumbuh 24,6% dibandingkan tahun lalu. Pendapatan kepabeanan dan cukai juga meningkat signifikan, dengan realisasi mencapai Rp152 triliun. Kinerja Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) menunjukkan pertumbuhan 21,6%, dengan total pendapatan mencapai Rp271 triliun atau 59% dari target.
Belanja negara pada semester I/2026 mengalami pertumbuhan 17,8% dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Belanja pemerintah pusat naik 29,4% menjadi Rp1.298,6 triliun, sementara belanja kementerian/lembaga mencapai Rp658,9 triliun atau tumbuh 40% (yoy). Belanja non-kementerian/lembaga terealisasi Rp639,7 triliun, meningkat 20% dibandingkan tahun sebelumnya. Meski tekanan belanja subsidi dan kompensasi terus ada, pemerintah berhasil mengelola anggaran dengan efisiensi yang lebih baik.
“Defisit APBN tetap terjaga dalam batas yang aman dan terkendali, menunjukkan kemampuan pemerintah dalam mengelola keuangan,” jelas Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam rapat dengan Banggar DPR. Ia menekankan bahwa kenaikan belanja subsidi dan kompensasi menjadi faktor utama dalam memperkecil defisit fiskal, dengan realisasi mencapai Rp233 triliun atau 52,1% dari target.
Faktor Utama: Subsidi dan Kompensasi yang Meroket
Menurut Key Discussion, subsidi dan kompensasi pada semester I/2026 mencapai Rp233 triliun, tercatat sebagai angka tertinggi sejak 2022. Dari total ini, subsidi energi sebesar Rp116,9 triliun, sedangkan kompensasi mencapai Rp116 triliun. Pertumbuhan kedua belanja ini mencapai 44,4% (yoy), menunjukkan prioritas pemerintah untuk menjaga stabilitas harga energi dan ketersediaan bahan bakar.
Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa peningkatan subsidi dan kompensasi terutama dipengaruhi perubahan skema pembayaran energi dari triwulanan ke bulanan, serta fluktuasi harga Indeks Harga Perdagangan Berjangka Komoditi (ICP) dan nilai tukar rupiah. Hal ini menunjukkan respons pemerintah yang dinamis terhadap kondisi ekonomi dan kebutuhan masyarakat. Pemerintah juga menjaga keseimbangan antara pendapatan dan belanja untuk memastikan stabilitas fiskal.
Untuk menutup defisit, pemerintah merealisasikan pembiayaan sebesar Rp452 triliun atau 65,6% dari target APBN. Realisasi pembiayaan ini naik 59,4% dibandingkan semester I/2025, menunjukkan upaya pengelolaan utang yang lebih terarah. Kondisi fiskal juga menunjukkan keseimbangan primer yang kembali positif, sebesar Rp85,1 triliun atau meningkat 61% dari semester I/2025. Keseimbangan primer positif mengindikasikan bahwa pendapatan negara memiliki kapasitas untuk memenuhi kewajiban cicilan pokok dan bunga utang tanpa perlu menerbitkan utang baru.
Dalam Key Discussion tentang APBN 2026, pemerintah mengungkapkan strategi pengelolaan keuangan yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Meski defisit mengalami penurunan, pemerintah tetap fokus pada peningkatan efisiensi penggunaan anggaran. Pertumbuhan pendapatan dari sektor pajak dan PNBP menjadi penyumbang utama, sementara belanja subsidi dan kompensasi diatur agar tetap sejalan dengan target defisit.
