Skip to content
12

New Policy: Dubes Siswo Pramono: RI-Australia Bisa Jadi Kekuatan Ekonomi Baru Asia Pasifik

Elizabeth Lopez - lintasnaya.com 4 mins read

New Policy: Indonesia dan Australia Kolaborasi untuk Poros Ekonomi Baru Asia Pasifik New Policy - Dubes Siswo Pramono menegaskan bahwa New Policy yang diusung

New Policy: Dubes Siswo Pramono: RI-Australia Bisa Jadi Kekuatan Ekonomi Baru Asia Pasifik

New Policy: Indonesia dan Australia Kolaborasi untuk Poros Ekonomi Baru Asia Pasifik

New Policy – Dubes Siswo Pramono menegaskan bahwa New Policy yang diusung oleh pemerintah Indonesia dan Australia menjadi kunci dalam membangun poros ekonomi baru di kawasan Asia Pasifik. Kemitraan ini menawarkan peluang besar untuk memperkuat perdagangan bilateral dan meningkatkan kerja sama dalam sektor ekonomi penting. Dengan integrasi rantai pasok yang terus berkembang, Indonesia dan Australia kini menunjukkan potensi untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang signifikan di kawasan tersebut. Duta Besar RI untuk Australia ini menyoroti bagaimana New Policy membantu menciptakan ketergantungan yang saling menguntungkan antara kedua negara.

Kolaborasi Berbasis Keunggulan Sektoral

Kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Australia telah menunjukkan titik balik penting dalam New Policy yang berfokus pada penguatan hubungan bilateral. Indonesia, dengan kapasitas manufaktur dan pengolahan yang kuat, serta kekayaan sumber daya alam, dianggap sebagai mitra strategis untuk Australia yang membutuhkan bahan baku komoditas strategis. “Kita harus menjadi economic powerhouse bersama. Bahan baku dari Australia diolah di sini, lalu dikirim lagi untuk diproses dengan teknologi tinggi,” jelas Siswo Pramono saat diwawancara di Brisbane, Senin (22/6/2026). Ia menambahkan bahwa New Policy tidak hanya mengubah pola ekspor, tetapi juga menegaskan kembali nilai mutualisasi dalam menghadapi tantangan global.

“Kalau tidak ada krisis mungkin orang tidak pikir ke situ. Sekarang Australia sadar di sebelahnya ada produsen urea besar. Kita juga sadar fosfat ternyata tersedia di sana,” ujar Siswo.

Ekspor dan Impor sebagai Tanda Kemitraan Ekonomi

Implementasi New Policy terlihat jelas dalam kegiatan ekspor pupuk urea dari Indonesia ke Australia. Pengiriman pertama sebanyak 47.250 ton, yang menjadi bagian dari kontrak pasokan sebesar 250.000 ton, telah tiba di Port of Brisbane pada Senin (22/6/2026). Kemitraan ini diwujudkan melalui kerja sama antara PTPupuk Indonesia (Persero) dan Incitec Pivot Fertilisers, yang menjadi contoh konkret dari perubahan perspektif ekonomi di bawah New Policy. Selain pupuk, Indonesia juga memperoleh pasokan tambahan liquefied petroleum gas (LPG) dari Australia, yang meningkat tiga kali lipat akibat gangguan distribusi dari Timur Tengah.

Sektor LPG ini menunjukkan bagaimana New Policy membantu Indonesia mengurangi ketergantungan pada pasokan luar negeri. Sumber LPG berasal dari Ichthys Project yang dikelola INPEX di Australia Barat dan Northern Territory, yang mendukung kebutuhan energi Indonesia. Dengan New Policy, kedua negara dapat mengoptimalkan akses ke sumber daya dan mempercepat pertukaran barang strategis, menjadikan kemitraan ini sebagai bentuk poros ekonomi baru yang relevan di tengah perubahan geopolitik global.

Strategi Khusus untuk Poros Ekonomi Asia Pasifik

New Policy juga mencakup rencana pengembangan infrastruktur dan hubungan bisnis yang lebih erat antara Indonesia dan Australia. Siswo Pramono menyoroti bahwa pemerintah Indonesia sedang membangun kebijakan yang mengarah pada integrasi ekonomi yang lebih dalam, termasuk penguatan investasi dan pertukaran teknologi. “New Policy ini mendorong kita untuk melihat potensi yang lebih luas, bukan hanya pasar tradisional tetapi juga poros ekonomi yang stabil dan berkelanjutan,” katanya. Dengan keterlibatan Australia dalam New Policy, keduanya berharap dapat menjadi sentral pengembangan ekonomi yang diakui secara internasional.

Sektor pertanian dan industri di Indonesia berperan penting dalam New Policy yang mencoba membangun keunggulan kompetitif bersama Australia. Selain itu, New Policy juga mendorong pengembangan sektor manufaktur Indonesia sebagai mitra utama dalam proses pemasaran dan penguatan ekonomi Australia. Kedua negara menegaskan bahwa kerja sama ini adalah langkah strategis dalam menghadapi persaingan ekonomi global, terutama di tengah pergeseran kekuatan perekonomian di kawasan Asia Pasifik.

Kebutuhan dan Keunggulan Sama-sama Muncul

Salah satu aspek penting dari New Policy adalah kesadaran keduanya akan keunggulan satu sama lain. Sebelumnya, Australia lebih fokus pada Tiongkok sebagai mitra utama, sementara Indonesia mengandalkan pasar Eropa, Amerika Serikat, dan Tiongkok. Namun, krisis geopolitik global telah membuka peluang baru bagi Indonesia dan Australia untuk bekerja sama secara lebih intensif. Siswo Pramono menekankan bahwa New Policy memberikan ruang bagi kedua negara untuk mengisi kebutuhan satu sama lain, bukan hanya sebagai pemasok, tetapi juga sebagai mitra yang saling melengkapi.

Peran Indonesia sebagai produsen fosfat dan pengolah bahan baku menurut Siswo Pramono merupakan bagian dari New Policy yang menekankan kemandirian ekonomi. “Ekonomi kita tidak hanya komplementer, tapi mulai konvergen,” terangnya. Kedua negara kini mengakui bahwa New Policy tidak hanya menyelesaikan kebutuhan lokal, tetapi juga mendorong pengembangan ekonomi kawasan Asia Pasifik secara kolektif. Hal ini mencerminkan visi baru dalam membangun hubungan ekonomi yang lebih kuat, terutama di tengah dinamika pasar global yang terus berubah.

Join the discussion