ESDM: Proyek Storage Minyak Nasional Masih Menunggu Investor
ESDM - JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa inisiatif pembangunan fasilitas penyimpanan minyak di Pulau Sumatra masih
Proyek Penyimpanan Minyak Nasional di Sumatra Masih Menanti Kepastian Investor
Lintasnaya.com – ESDM – JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa inisiatif pembangunan fasilitas penyimpanan minyak di Pulau Sumatra masih dalam tahap penantian kepastian dari calon investor. Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, mengonfirmasi bahwa rencana tersebut belum melampaui fase awal pembahasan.
Sebelumnya, pemerintah Indonesia telah melakukan diskusi dengan pihak investor yang berkantor pusat di Inggris namun dimiliki oleh seorang pengusaha berdarah India. Menurut Laode, kedua belah pihak sedang mengeksplorasi peluang kerja sama untuk memperkuat cadangan minyak nasional serta meningkatkan kapasitas fasilitas penyimpanan milik Pertamina.
Sebenarnya India ini investornya dari Inggris, orangnya saja yang India. Rencananya selain memperkuat Pertamina, juga bekerja sama untuk memperkuat storage-nya.
Pernyataan tersebut disampaikan Laode saat ditemui di acara Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition yang berlangsung di Jakarta pada hari Selasa, 21 Juli 2026. Selain kemitraan dengan investor asal India-Inggris, Laode juga menyebutkan adanya beberapa negara lain yang menunjukkan minat terhadap proyek penyimpanan minyak di Indonesia. Namun, ia memilih untuk tidak mengungkapkan identitas lengkap para calon investor tersebut.
Tantangan dan Prospek Proyek
Dalam menilai hambatan pengembangan fasilitas penyimpanan minyak di Indonesia, Laode berpendapat bahwa tidak ada kendala mendasar dari sisi regulasi maupun kebijakan pemerintah. Masalah utamanya justru terletak pada belum adanya investor yang benar-benar serius untuk merealisasikan proyek ini dalam waktu dekat.
“Cuma memang belum ada yang benar-benar serius ingin melakukan itu dalam waktu cepat,” tegas Laode.
Sementara itu, berdasarkan catatan yang dirilis Bisnis pada 3 Maret 2026, Kementerian ESDM telah menyiapkan rencana pembangunan fasilitas penyimpanan minyak dengan kapasitas hingga tiga bulan. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Menteri ESDM saat itu, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pembangunan storage menjadi prioritas utama mengingat kapasitas penyimpanan nasional masih sangat terbatas.
Proyek yang direncanakan berlokasi di Sumatra ini ditargetkan mulai dikerjakan tahun ini setelah studi kelayakan selesai dilaksanakan. Secara teknis, fasilitas penyimpanan energi yang beroperasi saat ini hanya mampu menampung cadangan bahan bakar minyak sekitar 25 hari, angka yang masih di bawah standar internasional.
Pemerintah sedang membangun storage yang kapasitasnya bisa sampai 3 bulan, kata Bahlil.
