Solving Problems: Bank BPD Bali Naik Kelas ke KBMI 2, Modal Inti Tembus Rp6 Triliun
Bank BPD Bali Naik ke KBMI 2, Solving Problems dengan Modal Inti Rp6 Triliun Solving Problems - Sebagai institusi keuangan yang berada di bawah pengawasan
Bank BPD Bali Naik ke KBMI 2, Solving Problems dengan Modal Inti Rp6 Triliun
Solving Problems – Sebagai institusi keuangan yang berada di bawah pengawasan Pemerintah Provinsi Bali, PT Bank Pembangunan Daerah Bali (Bank BPD Bali) berhasil meningkatkan modal inti hingga mencapai Rp6,064 triliun per akhir Juni 2026. Capaian ini memungkinkan bank tersebut berada di kategori Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2, sesuai dengan standar yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kenaikan kelas ini menunjukkan peran strategis Bank BPD Bali dalam memecahkan tantangan ekonomi dan meningkatkan akses keuangan bagi masyarakat Bali.
Penyebab Peningkatan Status Bank BPD Bali
Direktur Utama Bank BPD Bali, I Nyoman Sudharma, menjelaskan bahwa kenaikan kelas bank ini didorong oleh upaya intensif dalam memperkuat struktur modal. Pemegang saham utama, yaitu Pemerintah Daerah Bali, telah menyetor modal Rp3,63 triliun hingga akhir Juni 2026, yang berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan modal inti. “Kenaikan status Bank BPD Bali menjadi KBMI 2 merupakan bukti bahwa kami berhasil memecahkan hambatan dalam pengelolaan keuangan dan meningkatkan kapasitas untuk memberikan layanan lebih luas kepada masyarakat,” ujar Sudharma.
“Dengan menyelesaikan tantangan modal, Bank BPD Bali kini bisa fokus pada ekspansi dan inovasi, yang menjadi bagian dari strategi untuk menjawab kebutuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan,” tambah Sudharma, Senin (20/7/2026). Perubahan ini juga mencerminkan komitmen bank untuk meningkatkan kualitas layanan dan menghadapi dinamika pasar keuangan dengan lebih baik.
Kinerja Finansial dan Strategi Solving Problems
Dalam semester pertama tahun 2026, Bank BPD Bali mencatatkan peningkatan aset total mencapai Rp42,74 triliun, tumbuh 5,75% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. DPK bank juga mengalami pertumbuhan sebesar 3,88% hingga Rp35,05 triliun. Kenaikan ini menunjukkan bahwa strategi Solving Problems yang dijalankan bank dalam mengelola dana murah, seperti tabungan dan giro, telah memberikan hasil yang signifikan.
Penyumbang utama DPK adalah dana murah, yang mencapai 65,31% dari total. Sudharma menekankan bahwa pertumbuhan ini didorong oleh transformasi digital yang terus berjalan. “Solving Problems dalam pendanaan dan layanan menjadi kunci untuk menjangkau lebih banyak masyarakat, terutama dalam sektor produktif,” kata Sudharma. Tren ini berdampak positif pada stabilitas keuangan dan peningkatan partisipasi ekonomi lokal.
Inovasi Teknologi untuk Solving Problems
Inisiatif digital Bank BPD Bali terus berkembang untuk meningkatkan efisiensi operasional dan keandalan layanan. Peningkatan teknologi informasi dan keamanan siber menjadi bagian penting dari Solving Problems untuk memastikan transaksi berjalan lancar. Aplikasi BPD Bali Mobile dan sistem QRIS Tuntas telah menjadi andalan dalam menyukseskan inisiatif ini.
“Melalui Solving Problems di bidang teknologi, kami berupaya memperluas jangkauan layanan digital kepada mitra perbankan dan pengguna layanan,” papar Sudharma. Teknologi QRIS Tap NFC single tap dan double tap yang sedang dikembangkan serta API QRIS Tap akan memperkuat kemampuan bank dalam menyediakan solusi pembayaran yang efisien. Dengan QRIScross-border, Bank BPD Bali kini bisa menjawab kebutuhan transaksi lintas batas di negara-negara ASEAN.
Penyaluran Kredit dan Dukungan Ekonomi Lokal
Bank BPD Bali terus berperan sebagai penyedia dana untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Hingga akhir kuartal II/2026, penyaluran kredit mencapai Rp25,85 triliun, naik 7,08% dibandingkan tahun sebelumnya. Rasio kredit bermasalah (NPL) bruto sebesar 0,94% dan NPL neto 0,03% menunjukkan pengelolaan risiko yang cermat.
“Komitmen Solving Problems terhadap sektor produktif dan UMKM menjadi bagian dari upaya kami untuk membangun ekosistem keuangan yang inklusif,” jelas Sudharma. Penyaluran pembiayaan tidak hanya fokus pada perusahaan besar, tetapi juga mengakomodasi kebutuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan modal inti yang lebih besar, Bank BPD Bali mampu memberikan dukungan yang lebih kuat kepada masyarakat Bali dalam menghadapi tantangan pasar.
Kesimpulan dan Harapan Masa Depan
Kenaikan kelas Bank BPD Bali ke KBMI 2 tidak hanya menjadi capaian sejarah, tetapi juga menggambarkan langkah strategis untuk terus meningkatkan kinerja. Solving Problems dalam pengelolaan modal inti dan ekspansi layanan memperkuat posisi bank sebagai pilar ekonomi Bali. Sudharma optimis bahwa pengemb
