New Policy: BI Pacu Ekspor Kopi hingga Rempah Jawa Lewat Gelaran JCFF 2026
BI Dorong Pertumbuhan Ekspor Kopi hingga Rempah Jawa Lewat JCFF 2026 New Policy – Di tengah upaya mendorong ekonomi daerah dan nasional, Bank Indonesia (BI)
BI Dorong Pertumbuhan Ekspor Kopi hingga Rempah Jawa Lewat JCFF 2026
New Policy – Di tengah upaya mendorong ekonomi daerah dan nasional, Bank Indonesia (BI) meluncurkan new policy baru yang bertujuan meningkatkan daya saing komoditas unggulan seperti kopi, rempah, teh, dan cokelat. Strategi ini diwujudkan melalui gelaran Java Coffee and Flavors Fest (JCFF) 2026, yang menjadi bagian dari program pemerintah dalam memperkuat sektor ekspor. Melalui new policy tersebut, BI menargetkan pengembangan industri kopi dan rempah Jawa sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi baru, dengan menawarkan berbagai fasilitas dan dukungan strategis untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
New Policy yang diterapkan oleh BI berfokus pada pengembangan sistem distribusi, penguatan kualitas produk, dan peningkatan akses ke pasar global. Untuk mencapai tujuan ini, JCFF 2026 dihadirkan sebagai platform integrasi antara produsen lokal dan pembeli internasional. Otoritas moneter juga memperkuat kolaborasi dengan sektor pemerintahan dan perusahaan swasta untuk menciptakan ekosistem ekspor yang lebih efisien. Pada gelaran tahun kelima ini, BI berharap bisa mengakselerasi peran kopi dan rempah sebagai penggerak perekonomian Indonesia.
Potensi Ekspor Kopi dan Rempah Jawa
Kopi menjadi salah satu komoditas unggulan di Jawa Timur, dengan produksi mencapai 53.000 ton per tahun. Jawa Barat dan Jawa Tengah masing-masing menyumbang 25.000 ton, sehingga total produksi kopi di Pulau Jawa mencapai sekitar 789.000 ton per tahun. New Policy yang diterapkan BI menegaskan bahwa kopi dan rempah Jawa memiliki peluang besar untuk mendapatkan pasar internasional yang lebih luas, terutama di tengah meningkatnya permintaan akan produk berkualitas tinggi. Deputi Kepala Perwakilan BI Jawa Timur, Rifki Ismal, menekankan bahwa kedua komoditas ini bisa menjadi aset strategis untuk meningkatkan ekspor nasional.
Dalam rangka mendorong ekspor, new policy BI memberikan fasilitas khusus kepada UMKM yang binaan. Salah satu langkah utama adalah melalui JCFF 2026, yang tidak hanya menampilkan produk tetapi juga menyediakan pelatihan dan konsultasi strategis. Rifki Ismal menjelaskan, “Gelaran JCFF 2026 didesain agar UMKM bisa lebih siap menghadapi tantangan ekspor dengan dukungan new policy yang komprehensif.” Selain itu, BI juga mendorong penggunaan teknologi dan standarisasi kemasan untuk meningkatkan daya saing produk.
“Kedua komoditas ini akan sangat menunjang pertumbuhan ekonomi daerah. Acara ini tidak hanya menonjolkan komoditas, tetapi juga ikut menggerakkan UMKM,” ujar Rifki di sela-sela pembukaan JCFF di Balai Pemuda, Surabaya, Jumat (17/7/2026).
Langkah Strategis BI untuk Memperkuat Ekspor
Salah satu langkah strategis dalam new policy adalah penerapan skema Local Currency Transaction (LCT), yang memungkinkan transaksi ekspor menggunakan mata uang lokal. Skema ini mengurangi risiko fluktuasi kurs dan memudahkan akses ke pasar internasional. Rifki Ismal menjelaskan bahwa LCT akan menjadi penunjang penting untuk meningkatkan efisiensi transaksi, terutama bagi UMKM yang sebelumnya mengalami hambatan dalam mendapatkan dana luar negeri.
BI Jatim saat ini mendampingi 376 pelaku UMKM, dengan fokus pada dua klaster utama: ketahanan pangan dan ekspor. New Policy mengintegrasikan dukungan dari hulu ke hilir, mulai dari bantuan bibit hingga optimisasi proses produksi dan standarisasi kemasan. Selain itu, BI juga menyiapkan pelatihan keterampilan bagi pengusaha lokal agar lebih siap bersaing di tingkat internasional. Kemitraan dengan negara-negara seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Uni Emirat Arab, Cina, Jepang, dan Korea Selatan juga menjadi bagian dari new policy ini.
Kemitraan LCT telah terjalin dengan Malaysia, Thailand, Singapura, Uni Emirat Arab, Cina, Jepang, dan Korea Selatan. BI berencana memperluas kerja sama ke India dan Arab Saudi dalam waktu dekat. Dengan ini, ekspor kopi Jawa semakin terbuka untuk pemasaran global, di mana kehadiran pembeli dari Nigeria dan Tiongkok menunjukkan minat tinggi terhadap kualitas produk. New Policy juga mencakup inisiatif pemasaran digital dan promosi produk melalui media sosial, untuk menjangkau konsumen di luar negeri secara lebih efektif.
Dalam tahun 2025, JCFF berhasil menarik 130.000 pengunjung dengan total transaksi mencapai Rp107 miliar. Rifki menyampaikan, “Kami berharap jumlah pengunjuk dan nilai transaksi tahun ini bisa melebihi capaian tahun lalu.” New Policy yang diterapkan juga mencakup program pengembangan kapasitas ekspor, seperti pelatihan manajemen logistik dan penggunaan teknologi informasi untuk efisiensi distribusi. Dengan dukungan tersebut, BI optimis bahwa ekspor kopi dan rempah Jawa akan terus tumbuh secara signifikan.
