Key Strategy: Pelindo Siapkan Rute Celukan Bawang–Jangkar untuk Urai Macet Ketapang–Gilimanuk
Kurangi Macet di Lintasan Ketapang–Gilimanuk Key Strategy - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) meluncurkan Key Strategy baru sebagai solusi mengatasi kemacetan
Pelindo: Key Strategy untuk Kurangi Macet di Lintasan Ketapang–Gilimanuk
Key Strategy – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) meluncurkan Key Strategy baru sebagai solusi mengatasi kemacetan parah di lintasan utama Ketapang–Gilimanuk. Rencana ini mencakup pengembangan rute Celukan Bawang–Jangkar sebagai alternatif transportasi laut yang memungkinkan pengurangan tekanan lalu lintas di jalan darat. Dengan Key Strategy ini, Pelindo berupaya meningkatkan efisiensi logistik dan mobilitas warga, terutama selama masa libur panjang atau arus masyarakat puncak.
Penyebab dan Dampak Kemacetan di Lintasan Utama
Pelabuhan Celukan Bawang di Buleleng, Bali, dan Pelabuhan Jangkar di Situbondo, Jawa Timur, menjadi dua titik strategis yang ditargetkan untuk dikembangkan sebagai alternatif utama. Lintasan Ketapang–Gilimanuk, yang merupakan jalur utama antar Jawa dan Bali, sering terjadi kemacetan ekstrem karena tingginya volume kendaraan, terutama saat libur nasional atau event besar. Keadaan ini berdampak signifikan pada waktu tempuh, biaya transportasi, dan kerugian ekonomi akibat hambatan logistik. Key Strategy Pelindo bertujuan mengubah skenario ini melalui penggunaan jalur laut yang lebih efektif.
“Kemacetan di jalan darat mengganggu aktivitas ekonomi dan pariwisata. Dengan mengaktifkan rute Celukan Bawang–Jangkar, kami berharap bisa mendorong distribusi arus secara lebih merata,” kata Achmad Muchtasyar, Direktur Utama Pelindo, Jumat (17/7/2026).
Kemenhub juga turut terlibat dalam Key Strategy ini, dengan mengupayakan revitalisasi infrastruktur pelabuhan serta pengembangan alternatif transportasi. Jalur laut baru diharapkan bisa mengurangi beban jalan darat hingga 30 persen, terutama selama periode intensif. Selain itu, rute ini bisa mendorong peningkatan frekuensi kapal, mempercepat distribusi barang, dan meningkatkan aksesibilitas bagi warga yang tinggal di sekitar kawasan Bali utara dan Jawa Timur.
Target Implementasi dan Manfaat Jangka Panjang
Menurut Achmad, Key Strategy ini melibatkan koordinasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan stakeholder terkait. Revitalisasi infrastruktur pelabuhan Celukan Bawang dan Jangkar ditargetkan selesai sebelum Natal 2026/2027, sehingga siap digunakan untuk mengalihkan arus lalu lintas. Selain itu, pihaknya juga berencana menambah layanan kapal feri dengan kapasitas yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan transportasi.
“Revitalisasi Celukan Bawang dan Jangkar akan menjadi bagian dari Key Strategy kami dalam meningkatkan kualitas konektivitas antar daerah. Ini juga mendukung Visi Indonesia untuk menjadi pusat logistik regional,” tambah Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi.
Kemenhub menargetkan keberhasilan Key Strategy ini dalam mendorong pengurangan antrean kendaraan, bahkan di luar musim liburan. Dengan mengembangkan rute laut, pemerintah bisa mengurangi ketergantungan pada jalan darat, sekaligus meningkatkan kapasitas penyeberangan antar pulau. Selain itu, rute ini juga diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui pengurangan waktu dan biaya transportasi.
Sebagai bagian dari Key Strategy, Pelindo juga menekankan pentingnya pengembangan infrastruktur pelabuhan secara berkelanjutan. Peningkatan kapasitas di Celukan Bawang dan Jangkar tidak hanya meningkatkan kecepatan pelayaran, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai poros perdagangan antar Asia Tenggara. Dengan kesiapan ini, Pelindo berharap mampu menekan kepadatan jalan utama, menjadikan rute laut sebagai pilihan utama bagi masyarakat.
Pengembangan Rute Laut Alternatif
Rute Celukan Bawang–Jangkar yang diusulkan oleh Pelindo tidak hanya mengurangi kemacetan, tetapi juga memperluas aksesibilitas wilayah Bali dan Jawa Timur. Pada masa kini, penggunaan jalan darat antar kedua daerah membutuhkan waktu rata-rata 3–4 jam, tergantung kondisi lalu lintas. Dengan rute laut, waktu tempuh diperkirakan bisa ditekan hingga setengahnya, yaitu sekitar 1,5–2 jam, sehingga lebih efisien untuk penumpang dan pengangkutan barang.
“Kami juga sedang mengevaluasi beberapa jalur lain, seperti Tanjung Wangi–Celukan Bawang dan Ketapang–Benoa, sebagai bagian dari Key Strategy ini,” terang Achmad. “Tujuannya adalah memastikan sistem transportasi lebih seimbang dan tidak bergantung pada satu jalur utama.”
Dalam Key Strategy yang dijalankan, Pelindo juga bekerja sama dengan perusahaan pelayaran lokal dan internasional untuk memastikan ketersediaan kapal yang sesuai. Selain itu, pihaknya menggencarkan promosi rute baru ini melalui kampanye informasi dan kolaborasi dengan pelaku usaha. Dengan demikian, Key Strategy ini tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga langkah strategis untuk keterbukaan dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Sebagai penutup, Key Strategy Pelindo menunjukkan komitmen serius dalam mengatasi masalah transportasi nasional. Pengembangan rute Celukan Bawang–Jangkar tidak hanya menekan kemacetan, tetapi juga menciptakan sistem yang lebih resilien dan berkelanjutan. Dengan penguatan konektivitas laut, pemerintah dan pelaku bisnis bisa berharap terciptanya ekosistem transportasi yang lebih efisien dan inklusif bagi seluruh masyarakat Indonesia.
