New Policy: Anggaran MBG Dipangkas, Efek ke Emiten Poultry Dinilai Relatif Terbatas
en Unggas Minimal New Policy - Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah mengumumkan New Policy yang menargetkan pengurangan anggaran program Makan Bergizi Gratis
New Policy: Anggaran MBG Dipangkas, Dampak pada Emiten Unggas Minimal
New Policy – Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah mengumumkan New Policy yang menargetkan pengurangan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun. Meski kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran, analis menyatakan bahwa dampaknya terhadap sektor perunggasan dianggap relatif terbatas. Dua ekspert dari BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Wilastita Muthia Sofi, mengungkapkan bahwa pemangkasan dana MBG tidak akan mengurangi signifikan konsumsi daging ayam dalam jangka pendek.
Analisis Kebijakan dan Perubahan Permintaan
Pengurangan anggaran MBG sebesar 20% menimbulkan spekulasi bahwa kebijakan ini mungkin memengaruhi permintaan untuk produk unggas. Namun, para ahli menyatakan bahwa penurunan anggaran hanya akan mengurangi estimasi kekurangan pasokan (undersupply) unggas tahun 2026 sebesar 1%. Dalam laporan riset mereka, penurunan ini dinilai sebagai hasil dari variasi musiman dan kenaikan produksi sementara.
Dalam skenario tanpa ekspansi penerima manfaat, konsumsi ayam untuk MBG diperkirakan mencapai 300.000 ton pada tahun ini, sedikit berkurang dari proyeksi sebelumnya sebesar 328.000 ton. Selain itu, penurunan harga ayam hidup ke kisaran Rp16.500—Rp18.500 per kilogram sejak akhir Mei dipandang lebih disebabkan oleh faktor musiman, seperti libur sekolah dan momentum bulan Suro.
Pola Distribusi dan Kebijakan Pemerintah
Perubahan pola distribusi oleh Badan Gizi Nasional (BGN) yang disebut sebagai New Policy juga berkontribusi terhadap fluktuasi harga. Meski ada pengurangan dana, BGN dinilai masih mampu menjaga stabilitas pasokan melalui penyesuaian rantai pasok. Analis mengatakan bahwa efek kecil dari kebijakan ini akan terasa lebih pada segmen kecil dan menengah, sementara perusahaan besar tetap mampu menyerap permintaan pasar.
Proyeksi Laba dan Outlook Emiten Unggas
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan bahwa margin laba perusahaan-perusahaan di sektor unggas akan menurun di kuartal II/2026. Namun, penurunan ini dianggap sebagai hasil dari basis penjualan yang tinggi di kuartal I/2026, bukan karena New Policy. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN), salah satu emiten unggas terbesar, diperkirakan akan menghasilkan laba sekitar Rp845 miliar hingga Rp1,027 triliun.
Sementara PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) dan PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN) diestimasi menghasilkan laba sekitar Rp529 miliar—Rp680 miliar serta Rp31 miliar—Rp39 miliar, masing-masing. Meski terdapat penurunan belanja, proyeksi ini menunjukkan bahwa emiten unggas masih memiliki kapasitas untuk mempertahankan performa positif dalam beberapa bulan mendatang.
Biaya Produksi dan Stabilitas Harga
Penurunan harga jual ayam hidup sebesar 15,0% dan harga DOC sebesar 15,2% secara kuartalan (QoQ) tidak berdampak signifikan pada biaya produksi. Harga jagung lokal yang turun berperan mengimbangi kenaikan harga bungkil kedelai, sehingga biaya pakan tetap terjaga di level Rp7.600 per kilogram. Faktor ini mendukung stabilitas harga unggas meski New Policy berdampak pada volume anggaran.
Potensi Pemulihan dan Strategi Investasi
Katalis utama untuk pemulihan harga ayam hidup diperkirakan terjadi pada bulan Juli 2026, ketika permintaan kembali stabil. BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan sektor perunggasan sebagai overweight, karena valuasi saham yang terdiskon hingga -1,5 standar deviasi (SD) dari rata-rata lima tahun. Meski New Policy mengubah sementara dinamika pasar, analis menilai sektor ini tetap memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang.
Disclaimer
Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang terjadi akibat pilihan tersebut.
