Pengeluaran Warga Cirebon Lampaui Rp275,5 Triliun dalam 5 Tahun
Pertumbuhan Ekonomi Cirebon Regency Tercatat Rp275,5 Triliun dalam 5 Tahun Pengeluaran Warga Cirebon Lampaui Rp275 5 Triliun - Berdasarkan data yang
Pertumbuhan Ekonomi Cirebon Regency Tercatat Rp275,5 Triliun dalam 5 Tahun
Pengeluaran Warga Cirebon Lampaui Rp275 5 Triliun – Berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Cirebon Regency, nilai PDRB daerah tersebut mengalami peningkatan signifikan sepanjang lima tahun terakhir. Pada 2021, nilai ekonomi mencapai Rp52,31 triliun, namun di 2025, angka tersebut melonjak menjadi Rp73,96 triliun, mengisyaratkan pertumbuhan sekitar 41,4%.
Permintaan Domestik Jadi Penopang Utama
Kepala BPS Cirebon Regency, Januarto Wibowo, menjelaskan bahwa struktur pertumbuhan ekonomi masih didominasi oleh konsumsi rumah tangga. Meski sektor eksternal mulai menunjukkan perbaikan, pertumbuhan tersebut belum cukup kuat untuk menjadi sumber utama kekuatan ekonomi.
“Struktur pertumbuhan ekonomi Cirebon Regency tetap bergantung pada permintaan domestik, terutama dari konsumsi masyarakat. Kenaikan sektor eksternal muncul, tapi belum mampu memainkan peran dominan,” ujar Januarto, Jumat (17/7/2026).
Menurut data BPS, pengeluaran konsumsi rumah tangga meningkat dari Rp46,55 triliun pada 2021 hingga Rp62,67 triliun di 2025. Secara kumulatif, total pengeluaran mencapai sekitar Rp275,5 triliun selama lima tahun. Komponen ini menyumbang 84,7% dari total PDRB pada 2025, menjadikannya faktor utama dalam dinamika ekonomi daerah.
Investasi dan Belanja Pemerintah Mengalami Peningkatan
Di samping konsumsi masyarakat, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga mengalami peningkatan. PMTB naik dari Rp15,53 triliun pada 2021 menjadi Rp18,31 triliun di 2025, tumbuh sekitar 17,9%.
“Peningkatan PMTB mencerminkan aktivitas investasi yang terus berlangsung, termasuk penanaman modal dan pengembangan aset produktif,” kata Januarto.
Sementara itu, belanja pemerintah kembali mengalami kenaikan setelah mengalami penurunan di tahun 2024. Nilai konsumsi pemerintah naik dari Rp3,82 triliun menjadi Rp4,24 triliun di 2025, dengan pertumbuhan 10,74% secara tahunan.
“Konsumsi pemerintah menunjukkan ekspansi fiskal yang turut mendukung pertumbuhan ekonomi daerah pada 2025,” tambahnya.
Perubahan Inventori Menjadi Faktor yang Perlu Dipantau
Perubahan inventori juga mencatat kenaikan signifikan, dari Rp376,82 miliar di 2024 hingga Rp733,88 miliar di 2025, yaitu kenaikan sebesar 94,76%. Namun, Januarto mengingatkan bahwa peningkatan ini mungkin hanya bersifat sementara.
“Perubahan inventori yang tinggi bisa terlihat sebagai indikator sementara. Kenaikan persediaan tidak selalu berarti permintaan riil masyarakat meningkat,” jelas Januarto.
Dari sisi eksternal, kondisi perdagangan Cirebon Regency menunjukkan perbaikan meski belum sepenuhnya pulih. Defisit neto ekspor berkurang dari Rp16,14 triliun pada 2024 menjadi Rp13,44 triliun di 2025. Penyempitan defisit ini dianggap memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Meski nilai neto ekspor masih negatif, kondisi tersebut menunjukkan bahwa Cirebon Regency tetap lebih banyak mengonsumsi barang dan jasa dari luar daerah dibandingkan menghasilkan surplus,” pungkasnya.
