Skip to content
44

Latest Program: Masela jadi Pelajaran, Pengamat: Intervensi Berlebih Bisa Hambat Proyek Migas Strategis

Christopher Johnson - lintasnaya.com 3 mins read

rvensi Berlebih Hambat Proyek Migas Strategis Latest Program - Program terbaru dalam pengembangan proyek migas di Indonesia menemukan pelajaran berharga dari

Proyek Masela Jadi Pembelajaran, Ahli: Intervensi Berlebih Hambat Proyek Migas Strategis

Latest Program – Program terbaru dalam pengembangan proyek migas di Indonesia menemukan pelajaran berharga dari pengalaman Proyek LNG Abadi di Blok Masela. Pakar menyatakan bahwa pemerintah perlu mengoptimalkan kebijakan dalam mempercepat proses proyek strategis agar tidak mengulangi kesalahan yang terjadi sebelumnya. Setelah 28 tahun pengembangan, proyek ini akhirnya mencapai kemajuan signifikan, tetapi keterlambatan di masa lalu menjadi peringatan bahwa intervensi berlebihan dalam skenario Plan of Development (PoD) bisa menghambat momentum investasi dan penyelesaian proyek.

Kegagalan PoD 2017 dan Dampaknya pada Proyek

Pakar migas Hadi Ismoyo menyoroti peran pemerintah dalam pengambilan keputusan teknis terkait PoD. Ia menjelaskan bahwa perubahan skenario PoD pada 2017 menjadi faktor kritis yang memperlambat proses pengembangan proyek. “Intervensi berlebihan pada PoD yang sudah final menyebabkan keterlambatan besar, terutama dalam pengambilan keputusan akhir,” kata Hadi dalam wawancara Kamis (26/7/2026). Menurutnya, proses ini harus lebih cepat dan transparan agar program terbaru bisa berjalan efisien.

Pengelola proyek, Inpex Corporation, telah membuat kemajuan dalam mencapai target pemasaran LNG. Namun, keberhasilan proyek ini masih bergantung pada penyelesaian Gas Sales Agreement (GSA) dengan calon pembeli gas. Hadi menekankan bahwa kepastian pasar sangat vital untuk memulai konstruksi. Jika GSA ditandatangani segera dan Final Investment Decision (FID) tercapai tahun ini, tender Engineering, Procurement, Construction, and Installation (EPCI) bisa dimulai dalam waktu dekat.

Potensi Kontribusi Proyek Masela bagi Ekonomi Nasional

Proyek Masela memiliki potensi besar untuk mendukung sektor migas Indonesia. Dengan kapasitas produksi sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 juta kaki kubik gas per hari, dan 35.000 barel kondensat per hari, lapangan ini bisa menjadi pilar utama pendapatan energi nasional. “Produksi gas untuk kebutuhan dalam negeri akan memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan pada BBM serta LPG,” tambah Hadi.

Kontribusi proyek ini juga diharapkan bisa meningkatkan investasi asing dalam sektor migas. Proyek dengan skala besar seperti Masela membutuhkan keterlibatan pihak swasta dan dukungan regulasi yang jelas. Menurut Hadi, program terbaru ini bisa menjadi contoh bagus dalam menyeimbangkan antara kebijakan pemerintah dan efisiensi operasional. Jika proyek bisa selesai pada 2030, maka target ekspor dan produksi nasional bisa tercapai secara signifikan.

Perbandingan dengan Proyek Migas Lainnya

Proyek Masela juga menjadi tolok ukur bagi proyek migas strategis lainnya. Sejumlah investor membandingkan skenario ini dengan proyek seperti South Pasaman dan Balikpapan. “Keterlambatan di Masela harus dijadikan referensi untuk menghindari kesalahan serupa di proyek-proyek lain,” kata Hadi. Ia menambahkan bahwa efisiensi pengambilan keputusan dan koordinasi antarinstansi menjadi kunci utama untuk mempercepat program terbaru.

Di sisi lain, ada yang menyatakan bahwa proyek ini membutuhkan perbaikan dalam pengelolaan dana. Pemerintah harus memastikan alokasi anggaran yang tepat untuk memulai konstruksi dan memantau kemajuan secara berkala. “Keterlambatan bukan hanya karena kebijakan, tetapi juga karena manajemen yang kurang optimal,” ujarnya. Dengan penyelesaian FID tahun ini, program terbaru diharapkan bisa memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan masa lalu.

Langkah Kritis Menuju Proyek Beroperasi

Menurut Hadi, langkah kritis selanjutnya adalah penandatanganan GSA dan penerbitan FID. Proses ini membutuhkan koordinasi yang baik antara pihak pengelola dan pemerintah. Jika kedua hal ini tercapai, maka EPCI bisa dimulai dalam 36 bulan. “Tahun 2030 menjadi target utama untuk memulai produksi komersial,” jelasnya. Ia menyoroti bahwa proyek ini juga perlu mendapatkan dukungan dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk memastikan stabilitas dalam jangka panjang.

Adapun keberhasilan proyek ini akan menjadi peningkatan signifikan bagi perekonomian nasional. Dengan volume produksi yang besar, proyek Masela bisa memberikan kontribusi hingga 30% dari total produksi migas Indonesia dalam dekade depan. Hadi berharap pemerintah bisa lebih aktif dalam mengawal program terbaru ini, tetapi tetap tidak terlalu campur tangan dalam proses teknis. “Kesadaran pemerintah akan pentingnya program terbaru ini bisa mengubah dinamika pengembangan energi,” pungkasnya.

Join the discussion