Latest Program: Respons INACA soal Wacana Mengolah Surplus Solar Jadi Avtur
INACA Berharap Avtur Hasil Pengolahan Surplus Solar Tetap Kompetitif Latest Program - Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah Indonesia sedang mendorong implementasi
INACA Berharap Avtur Hasil Pengolahan Surplus Solar Tetap Kompetitif
Latest Program – Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah Indonesia sedang mendorong implementasi sebuah Latest Program yang bertujuan mengubah surplus solar menjadi avtur, bahan bakar pesawat terbang. Rencana ini diharapkan dapat memanfaatkan peningkatan kapasitas kilang minyak di dalam negeri, terutama setelah penerapan B50 yang akan meningkatkan pasokan solar. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebutkan, optimalisasi kilang di Kalimantan Timur diperkirakan akan meningkatkan produksi sekitar 5,6 juta kiloliter, sehingga surplus solar diperduga mencapai 3-4 juta kiloliter dalam beberapa tahun ke depan. Dengan Latest Program ini, pemerintah ingin mengurangi ketergantungan pada impor avtur dan mendorong pengembangan industri bahan bakar domestik.
Latar Belakang Surplus Solar dan Konsep B50
Kebutuhan bahan bakar pesawat di Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan sektor penerbangan. Dalam rangka menghadapi kenaikan harga avtur internasional, pemerintah mengusulkan konversi surplus solar menjadi avtur melalui B50, yaitu bahan bakar campuran 5% biodiesel dan 95% solar. Konsep ini sebenarnya sudah dijajaki sebelumnya, tetapi kini diperkuat sebagai bagian dari Latest Program untuk menjamin ketersediaan bahan bakar yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan. Surplus solar yang dihasilkan dari kilang-kilang domestik diharapkan bisa diolah secara efisien untuk memenuhi permintaan avtur nasional.
Kebijakan konversi ini memperhatikan juga tantangan teknis, seperti standarisasi kualitas avtur. Menurut Bayu Sutanto, Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA), maskapai penerbangan tidak menolak ide ini selama hasil olahan memenuhi spesifikasi Jet A-1, standar internasional untuk avtur. Proses sertifikasi dari lembaga seperti International Air Transport Association (IATA), American Petroleum Institute (API), dan Joint Inspection Group (JIG) menjadi kunci utama dalam menjamin keandalan bahan bakar. Selain itu, kerja sama dengan produsen pesawat dan mesin juga diperlukan agar produk ini bisa digunakan secara luas.
Langkah Strategis Pemerintah dalam Latest Program
Pemerintah menekankan bahwa Latest Program ini bukan hanya sekadar mengubah bahan bakar, tetapi juga merupakan strategi jangka panjang untuk menciptakan keseimbangan antara kebutuhan energi dan ekonomi. Dalam pandangan mereka, surplus solar bisa dijadikan peluang untuk memenuhi kebutuhan avtur tanpa mengganggu harga pasar. Bayu menambahkan, biaya bahan bakar tetap menjadi faktor kritis dalam operasional maskapai, jadi pemerintah perlu memastikan bahwa avtur yang dihasilkan tetap kompetitif secara harga setelah memenuhi seluruh persyaratan teknis.
Proses konversi dari solar ke avtur juga membutuhkan teknologi pendukung, seperti pereaksi khusus dan proses pengolahan yang sesuai. Pemerintah berharap, dengan Latest Program ini, teknologi yang sudah ada bisa diadaptasi untuk memastikan efisiensi dan kualitas. Dalam hal ini, pemerintah mendorong kerja sama antar institusi, termasuk badan pengatur, perusahaan minyak, dan maskapai penerbangan. Pemantauan konsisten diperlukan agar program ini bisa berjalan lancar dan memberikan dampak positif di tingkat industri serta masyarakat.
“Kami sangat mendukung inisiatif ini, tetapi penting untuk memastikan bahwa avtur hasil olahan tidak mengurangi daya saing maskapai. Jika harga avtur B50 terlalu tinggi, kita akan menghadapi tantangan di pasar internasional,” kata Bayu, seperti dilaporkan Rabu (15/7/2026).
Perspektif Industri dan Stakeholder
Di sisi lain, industri minyak dan penerbangan juga memberikan tanggapan positif terhadap Latest Program. Mereka menilai bahwa ini merupakan langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan bakar. Dengan surplus solar yang ada, konversi ke avtur bisa menjadi solusi untuk mengurangi defisit bahan bakar pesawat yang selama ini mengandalkan impor. Bayu menekankan bahwa keberhasilan program ini tergantung pada kesinambungan antara pemerintah, kilang, dan maskapai.
Kebijakan ini juga diperkirakan akan memberikan dampak ekonomi positif, seperti menurunkan biaya operasional maskapai dan meningkatkan pendapatan dari ekspor avtur. Namun, keberhasilannya memerlukan komitmen dari semua pihak, termasuk konsistensi dalam menjamin kualitas dan harga yang seimbang. Dengan Latest Program, pemerintah berharap dapat mendorong kemandirian energi nasional sekaligus mendukung keberlanjutan industri bahan bakar.
