Important Visit: RI Lobi Investasi Rusia, Apindo Ungkap 3 Sektor Ini Paling Menjanjikan
RI Lobi Investasi Rusia, Apindo Ungkap 3 Sektor Ini Paling Menjanjikan Important Visit - Bisnis.com, JAKARTA — Selama Important Visit ke Rusia, Apindo
RI Lobi Investasi Rusia, Apindo Ungkap 3 Sektor Ini Paling Menjanjikan
Important Visit – Bisnis.com, JAKARTA — Selama Important Visit ke Rusia, Apindo menemukan tiga sektor manufaktur yang dinilai sangat potensial untuk dikembangkan bersama investor asal Negeri Beruang Merah. Pertemuan ini menjadi momen penting bagi pengusaha Indonesia dalam membangun kolaborasi ekonomi yang saling menguntungkan. Shinta W. Kamdani, Ketua Umum Apindo, menyoroti peluang investasi di bidang manufaktur sebagai pilar utama dalam transformasi perekonomian nasional.
Sektor Manufaktur yang Menjadi Prioritas
Dalam Important Visit ke Rusia, Apindo mengungkapkan bahwa sektor mesin industri menjadi fokus utama. Shinta menjelaskan, bidang ini berperan krusial dalam mendukung modernisasi infrastruktur dan peningkatan produktivitas. “Sektor mesin industri diperlukan untuk mendorong efisiensi produksi dan mengurangi ketergantungan pada teknologi luar negeri,” katanya dalam wawancara dengan Bisnis, Senin (13/7/2026).
“Modernisasi industri Indonesia saat ini bergantung pada adopsi teknologi manufaktur canggih, termasuk otomatisasi dan digitalisasi. Kolaborasi dengan Rusia dapat mempercepat proses ini,” tambah Shinta.
Sektor kedua yang diprioritaskan adalah industri hilir berbasis sumber daya alam. Apindo menekankan pentingnya pengolahan mineral seperti nikel dan batu bara untuk meningkatkan nilai tambah secara domestik. “Dengan pendekatan hilirisasi, kita bisa mengurangi impor bahan baku dan meningkatkan kemandirian industri,” ujarnya.
Sektor ketiga adalah industri berat dan manufaktur maritim. Diskusi di acara INNOPROM 2026 membuktikan bahwa sektor ini memiliki potensi besar dalam memperkuat kapasitas logistik dan keberlanjutan energi. “Kawasan industri maritim bisa menjadi penggerak utama dalam menghadapi tantangan global,” lanjut Shinta.
Strategi Pengembangan Investasi
Peluang ekonomi yang terbuka selama Important Visit ke Rusia disampaikan melalui empat pendekatan strategis. Pertama, kawasan berteknologi tinggi yang mendukung inovasi dan penelitian. Kedua, kawasan berbasis hilirisasi sumber daya alam untuk memaksimalkan eksploitasi bahan mentah. Ketiga, kawasan hemat air di luar Pulau Jawa yang memperhatikan keseimbangan lingkungan. Keempat, kawasan padat karya di Pulau Jawa untuk meningkatkan efisiensi logistik nasional.
“Keberhasilan Important Visit ini tidak hanya tergantung pada penandatanganan kesepakatan, tetapi juga pada tindak lanjutnya. Kami ingin investasi Rusia bisa menjadi bagian dari keberlanjutan ekonomi Indonesia jangka panjang,” kata Shinta.
Kementerian Perindustrian, sebagai mitra utama, menawarkan kawasan industri sebagai pintu masuk untuk pengembangan klaster ekonomi internasional. Shinta menyoroti bahwa pengusaha Indonesia perlu memanfaatkan momen ini untuk membangun hubungan jangka panjang dengan investor Rusia. “Kolaborasi ini bisa menghasilkan transfer teknologi, peningkatan kapasitas produksi, serta manfaat ekonomi yang signifikan,” tambahnya.
Manfaat Investasi dari Rusia
Kolaborasi antara Indonesia dan Rusia dalam sektor manufaktur diharapkan mampu mengurangi defisit neraca perdagangan serta menciptakan lapangan kerja baru. Dalam Important Visit yang berlangsung di Ekaterinburg, pihak Rusia menunjukkan minat untuk bermitra dengan perusahaan-perusahaan Indonesia yang bergerak di bidang mesin industri, hilirisasi sumber daya alam, dan manufaktur maritim.
Apindo juga menggarisbawahi bahwa pendekatan Important Visit ini bisa menjadi langkah strategis dalam meningkatkan daya saing industri nasional. “Investor Rusia memiliki pengalaman dalam membangun infrastruktur dan mengelola sumber daya secara efisien, yang sangat cocok untuk pasar Indonesia,” jelas Shinta. Ia menambahkan, keberhasilan ini akan bergantung pada kesiapan Indonesia dalam menyediakan lingkungan bisnis yang mendukung dan memudahkan proses investasi.
“Kami berharap Important Visit ini bisa menjadi awal dari kerja sama berkelanjutan yang menghasilkan manfaat ekonomi nyata. Jika berhasil, Indonesia bisa menjadi salah satu mitra utama Rusia dalam sektor manufaktur global,” pungkas Shinta.
Sebagai referensi, hingga triwulan II 2026, Indonesia memiliki 180 kawasan industri yang menampung hampir 12.000 perusahaan. Kawasan-kawasan ini menjadi pusat pertumbuhan industri nasional, terutama di bidang hilirisasi dan teknologi tinggi. Shinta mengatakan bahwa kolaborasi dengan Rusia bisa mempercepat proses ini, terlebih dalam era globalisasi yang dinamis.
