Skip to content
98

Historic Moment: KAI Catat Jumlah Penumpang Kereta Api Naik, KRL Mendominasi

Karen Miller - lintasnaya.com 3 mins read

KAI Catat Penumpang Kereta Api Naik, KRL Mendominasi Historic Moment – Jakarta, 8 Juli 2026 — Pada semester pertama tahun 2026, jumlah penumpang layanan

Historic Moment: KAI Catat Jumlah Penumpang Kereta Api Naik, KRL Mendominasi

KAI Catat Penumpang Kereta Api Naik, KRL Mendominasi

Historic Moment – Jakarta, 8 Juli 2026 — Pada semester pertama tahun 2026, jumlah penumpang layanan kereta rel listrik (KRL) di Indonesia mencatatkan kenaikan signifikan, menunjukkan pergeseran paradigma mobilitas kota yang semakin mengarah pada transportasi berbasis rel. PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI melaporkan bahwa KAI Commuter melayani 204,15 juta pelanggan sepanjang Januari hingga Juni 2026, naik 6,58% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 191,54 juta pelanggan. Angka ini menggarisbawahi bahwa KRL tidak hanya menjadi moda transportasi utama, tetapi juga mengalami pertumbuhan yang menjadi Historic Moment dalam sejarah industri kereta api nasional.

KAI Group: KRL Tetap Unggul dalam Volume Penumpang

Dalam laporan KAI Group, total jumlah penumpang yang diangkut mencapai 258,99 juta pada semester I 2026. Hal ini berarti sekitar 78,82% dari seluruh penumpang berasal dari penggunaan KRL. Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menjelaskan bahwa peningkatan tersebut mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas layanan kereta api, baik untuk perjalanan sehari-hari, antarkota, maupun akses ke bandara. Ia menuturkan, angka ini menciptakan Historic Moment baru dalam kinerja industri transportasi rel.

“Kereta api semakin dipilih masyarakat karena keunggulan keamanan, biaya yang terjangkau, serta kemudahan integrasi dengan moda transportasi lainnya,” kata Bobby dalam pernyataan resmi.

Direktur juga menekankan bahwa pertumbuhan penumpang KRL harus diimbangi dengan peningkatan infrastruktur, keselamatan, dan kepuasan pelanggan. Selain itu, layanan kereta api jarak jauh dan lokal juga mengalami peningkatan sebesar 8,72%, dengan total 29,86 juta pelanggan. Faktor ini menunjukkan bahwa industri kereta api tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan transportasi perkotaan, tetapi juga mengakar pada kebutuhan mobilitas jarak jauh.

Pertumbuhan Terbesar dari LRT Jabodebek dan KA Makassar–Parepare

Dari segi pertumbuhan, LRT Jabodebek menjadi moda transportasi dengan peningkatan terbesar, mencapai 22,84% menjadi 16,02 juta pelanggan. Di sisi lain, KA Makassar–Parepare mengalami kenaikan 15,44% menjadi 172.015 pelanggan. Sementara itu, KAI Wisata juga tumbuh 64,45% pada periode yang sama. Angka-angka ini menegaskan bahwa KRL tidak hanya menjadi Historic Moment dalam sektor transportasi, tetapi juga menyentuh berbagai segmen pasar.

Ketua Forum Transportasi Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Deddy Herlambang, menyatakan bahwa kenaikan penumpang KRL tidak sepenuhnya berasal dari perpindahan dari moda transportasi lain. Ia menjelaskan bahwa di Jabodetabek, penggunaan KRL telah meningkat sejak mobilitas kembali pulih pasca-pandemi. “Beberapa pengguna KRL Bogor beralih ke Transjakarta karena trayek langsung ke Blok M dan kepadatan yang lebih rendah,” tambah Deddy.

“Pertumbuhan penumpang KRL secara nasional tercatat sejak 2021, mencapai hampir 401 juta pelanggan. Angka ini melebihi tiga kali lipat dari 124,86 juta orang pada tahun sebelumnya,” kata Deddy.

Faktor Penyebab Meningkatnya Minat pada KRL

Pengamat transportasi, Ki Darmaningtyas, mengungkapkan bahwa peningkatan jumlah penumpang kereta api dipengaruhi dua faktor utama. Pertama, pertumbuhan jumlah pekerja yang bekerja di Jakarta. Kedua, keunggulan kereta api dalam menawarkan kepastian waktu perjalanan dibandingkan kendaraan pribadi atau angkutan jalan yang rentan terjebak kemacetan. “Kereta api lebih tepat waktu, sehingga pengguna bisa memprediksi waktu kedatangan mereka di kantor,” ujarnya.

Menurut Ki Darmaningtyas, peningkatan ini tidak hanya terkait kebutuhan transportasi, tetapi juga terkait dengan efisiensi biaya dan kenyamanan. Ia menekankan bahwa pertumbuhan penumpang KRL menjadi Historic Moment yang perlu didukung oleh kebijakan pemerintah dalam penyediaan subsidi dan pengembangan infrastruktur. “Dengan kebijakan yang tepat, kenaikan ini bisa berkelanjutan dan memberi dampak positif bagi ekonomi daerah,” katanya.

Perluasan Infrastruktur untuk Mengakomodasi Pertumbuhan Penumpang

Sejalan dengan peningkatan jumlah penumpang, KAI terus melakukan perluasan dan peningkatan infrastruktur. Proyek perluasan peron di Stasiun Bogor serta penguatan sistem sinyal di lintasan Tanah Abang—Rangkasbitung menjadi langkah strategis. PT KAI memproyeksikan volume penumpang KRL Jabodetabek akan terus tumbuh hingga mencapai 437 juta pada 2030. Proyeksi ini mencerminkan kepercayaan terhadap kinerja moda transportasi ini sebagai pilihan utama.

Historic Moment ini juga menjadi momentum untuk merefleksikan kinerja KAI dalam memenuhi permintaan masyarakat. Dengan pertumbuhan yang konsisten, KAI berperan penting dalam meningkatkan aksesibilitas dan memperkuat sistem transportasi nasional. Menurut Bobby Rasyidin, pertumbuhan tersebut menjadi bukti bahwa layanan kereta api mampu memenuhi kebutuhan mobilitas yang semakin kompleks di era perkembangan urbanisasi.

Join the discussion