Impor RI Melonjak 22,16% pada Mei 2026 – Migas Meroket 70,78%
Impor RI Melonjak 22,16% pada Mei 2026, Migas Meroket 70,78% Impor RI Melonjak 22 16 - Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), nilai
Impor RI Melonjak 22,16% pada Mei 2026, Migas Meroket 70,78%
Impor RI Melonjak 22 16 – Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor Indonesia pada bulan Mei 2026 mencapai sebesar US$24,81 miliar, meningkat signifikan sebesar 22,16% dibandingkan dengan bulan Mei 2025. Lonjakan impor ini terutama terjadi di sektor bahan baku dan bahan penolong, yang didorong oleh permintaan tinggi terhadap bahan bakar mineral, garam, belerang, batu, semen, serta serealia. Dalam penjelasan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, kenaikan impor terjadi di kedua kategori, yaitu migas dan nonmigas, dengan peningkatan yang lebih tajam pada sektor migas.
Kenaikan Impor Migas yang Mencolok
Pada Mei 2026, impor migas mencapai US$4,51 miliar, melonjak hingga 70,78% dibandingkan dengan Mei 2025. Dalam konteks ekonomi nasional, kenaikan ini berdampak besar karena migas merupakan bagian kritis dari kebutuhan energi dan bahan baku industri. Sementara itu, impor nonmigas mencatat pertumbuhan sebesar 14,89%, dengan total US$20,30 miliar. Ateng menjelaskan bahwa pertumbuhan impor nonmigas terutama didorong oleh komoditas seperti bahan bakar mineral, yang menjadi faktor utama dalam kenaikan nilai impor secara keseluruhan.
“Peningkatan impor bulan Mei 2026 menunjukkan kebutuhan industri dan rumah tangga yang semakin meningkat, terutama di sektor energi dan bahan baku. Faktor-faktor seperti permintaan bahan bakar minyak, bahan pangan, serta bahan konstruksi menjadi penggerak utama lonjakan impor ini,” kata Ateng dalam Rilis Berita Resmi Statistik BPS, Rabu (1/7/2026).
Pertumbuhan Kumulatif Januari–Mei 2026
Kenaikan impor tidak hanya terjadi pada bulan Mei 2026, tetapi juga mencerminkan tren yang berlangsung sejak awal tahun. Dalam periode Januari–Mei 2026, nilai total impor Indonesia mencapai US$111,33 miliar, tumbuh 15,24% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi migas, impor kumulatif mencapai US$17,45 miliar, naik 27,89%, sementara impor nonmigas tumbuh 13,16% menjadi US$93,88 miliar. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa kebutuhan bahan baku penolong tetap menjadi penggerak utama dari kenaikan impor nasional.
“Peningkatan impor bahan baku dan penolong di seluruh sektor menunjukkan dinamika yang kompleks dalam perekonomian Indonesia. Dengan pertumbuhan mencapai 14,41% untuk kelompok ini, impor RI melonjak 22,16% pada Mei 2026 menjadi indikator bahwa kebutuhan industri dan konsumsi masyarakat terus meningkat,” tambah Ateng.
Analisis Komoditas Utama dalam Impor
Kenaikan impor bahan baku penolong pada Mei 2026 terutama dipengaruhi oleh permintaan tinggi terhadap minyak bumi, garam, belerang, batu, semen, serta serealia. Minyak bumi menjadi komoditas paling dominan dalam kategori migas, sementara serealia dan bahan konstruksi seperti batu dan semen menjadi penopang utama dalam impor nonmigas. Kenaikan ini menunjukkan adanya perubahan pola penggunaan sumber daya alam dan kebutuhan pangan yang berdampak pada impor RI melonjak 22,16% pada Mei 2026.
“Permintaan yang meningkat terutama dari sektor industri dan transportasi memicu kebutuhan bahan baku yang lebih besar. Selain itu, kebijakan pemerintah terkait pemulihan ekonomi juga berkontribusi pada pertumbuhan impor yang signifikan,” kata Ateng dalam konferensi pers BPS.
Distribusi Sumber Negara Asal Impor
Meninjau dari sumber negara asal, impor nonmigas dari China mengalami peningkatan dari US$33,12 miliar menjadi US$39,27 miliar, menunjukkan ketergantungan yang semakin tinggi terhadap pasar global. Sementara itu, impor dari Australia juga naik dari US$3,42 miliar ke US$5,02 miliar, serta dari kawasan ASEAN tumbuh dari US$13,36 miliar ke US$13,97 miliar. Uni Eropa menjadi sumber impor yang juga bertambah, dari US$4,53 miliar menjadi US$6,19 miliar.
“Impor dari negara-negara tetangga seperti ASEAN dan Australia menunjukkan keberlanjutan hubungan perdagangan regional, sementara kenaikan dari China menggarisbawahi kebutuhan industri yang besar. Di sisi lain, impor dari Jepang turun dari US$6,31 miliar menjadi US$5,17 miliar, menunjukkan pergeseran pola ekspor dan impor,” papar Ateng.
Dengan meningkatnya impor RI melonjak 22,16% pada Mei 2026, pemerintah harus memastikan bahwa kebijakan impor dapat menyeimbangkan antara kebutuhan ekonomi dan daya tahan cadangan bahan baku. Lonjakan impor ini juga berpotensi memengaruhi neraca perdagangan Indonesia, yang perlu diawasi secara cermat untuk menghindari tekanan inflasi yang berlebihan. Sebagai respons terhadap pertumbuhan impor ini, pihak terkait perlu memperkuat kemitraan dengan negara-negara pengekspor utama, sekaligus mendorong inovasi dalam sektor produksi nasional untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
