Latest Program: Harga Gas Industri Turun, Apindo Ingatkan Pasokan Harus Terjamin
indo Pastikan Pasokan Stabil Latest Program - Program terbaru yang diluncurkan pemerintah menurunkan harga gas industri menjadi US$13 per MMBtu, sekaligus
Program Terbaru: Harga Gas Industri Turun, Apindo Pastikan Pasokan Stabil
Latest Program – Program terbaru yang diluncurkan pemerintah menurunkan harga gas industri menjadi US$13 per MMBtu, sekaligus memberi sinyal positif bagi sektor manufaktur. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyambut baik kebijakan ini, tetapi menekankan bahwa keberhasilannya bergantung pada kepastian pasokan yang terjamin. Dengan mengurangi biaya energi, program terbaru ini berpotensi meningkatkan daya saing industri nasional, terutama dalam menghadapi persaingan global.
Respons Apindo terhadap Kebijakan Harga Gas
Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani, menyampaikan bahwa penurunan harga gas industri menjadi bagian dari program terbaru yang diharapkan dapat mengurangi tekanan biaya produksi. Dalam beberapa bulan terakhir, keterbatasan pasokan gas pipa dan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) mendorong sejumlah perusahaan beralih ke liquefied natural gas (LNG), yang dihargai lebih tinggi. Dengan program terbaru ini, pemerintah memberikan kebijakan yang lebih fleksibel dan berorientasi pada efisiensi industri.
“Program terbaru menurunkan harga gas industri menjadi US$13 per MMBtu, yang merupakan langkah penting dalam mengoptimalkan penggunaan energi oleh sektor manufaktur,” ujar Shinta Kamdani kepada Bisnis, Senin (29/6/2026).
Manfaat dan Dampak Kebijakan pada Sektor Industri
Shinta menjelaskan bahwa penurunan harga dari US$20–23 per MMBtu ke US$13 per MMBtu membuka peluang penghematan hingga 35–43%. Kondisi ini diharapkan mendorong perusahaan meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi beban biaya produksi. Program terbaru ini khususnya memberi manfaat signifikan bagi sektor-sektor yang mengandalkan gas sebagai bahan baku utama, seperti keramik, kaca, baja, pupuk, petrokimia, pulp, kertas, serta sebagian subsektor makanan dan minuman serta tekstil.
Dalam konteks ekonomi nasional, program terbaru ini dapat memperkuat pertumbuhan industri hulu migas sekaligus mendukung stabilitas pasokan energi. Shinta menegaskan bahwa keberhasilan program ini tergantung pada kepastian pasokan, karena ketersediaan energi yang andal menjadi dasar bagi perusahaan untuk merencanakan produksi dan memenuhi komitmen dengan konsumen.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sektor manufaktur menyumbang sekitar 30% dari PDB Indonesia. Dengan program terbaru yang menurunkan biaya energi, industri-industri besar di sektor ini dapat mengurangi beban operasional, sehingga lebih mampu berkompetisi di pasar internasional. Selain itu, penurunan harga gas juga diharapkan mendorong peningkatan investasi dalam industri hulu migas.
Kebijakan Berkelanjutan dan Risiko Ketergantungan Pasokan
Di sisi lain, Shinta Kamdani mengingatkan bahwa keberhasilan program terbaru ini tidak hanya bergantung pada harga, tetapi juga pada kestabilan pasokan. Jika pasokan gas tidak terjamin, kebijakan tersebut bisa menjadi sementara dan tidak mampu mengatasi krisis energi jangka panjang. Dalam beberapa tahun terakhir, fluktuasi pasokan gas terkadang mengganggu operasional industri, sehingga kebijakan harus didukung oleh mekanisme distribusi yang transparan.
Shinta menambahkan bahwa program terbaru ini juga perlu dipadukan dengan kebijakan regulasi yang memastikan pertumbuhan industri hulu migas. Dengan adanya skema fiskal yang menguntungkan, kemudahan perizinan, dan jaminan pasar, sektor migas dapat menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Apindo mengusulkan agar pemerintah memperkuat kolaborasi dengan perusahaan-perusahaan besar untuk menjamin ketersediaan pasokan energi.
Program terbaru yang diluncurkan juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperbaiki iklim usaha. Dengan mengurangi biaya produksi, pemerintah berharap mampu meningkatkan daya tarik investasi, terutama dari pihak asing. Namun, Shinta menekankan bahwa kebijakan ini harus diiringi oleh peningkatan kualitas infrastruktur dan regulasi yang konsisten agar dampaknya maksimal.
Sebagai contoh, sektor keramik dan kaca, yang memerlukan pasokan gas dalam jumlah besar, akan mengalami perbaikan signifikan karena penurunan harga. Sementara itu, sektor baja dan pupuk juga diharapkan mampu memperkuat posisi mereka di pasar internasional. Dengan program terbaru ini, industri-industri yang terdampak akan lebih siap menghadapi perubahan iklim usaha dan kenaikan biaya energi.
