Skip to content
254

Solving Problems: Ketua BPI Nilai Bioskop dan OTT Idealnya Saling Melengkapi, Bukan Bersaing

Elizabeth Lopez - lintasnaya.com 2 mins read

Ketua BPI: Bioskop dan OTT Idealnya Saling Melengkapi, Bukan Bersaing Solving Problems dalam industri perfilman memerlukan keseimbangan antara bioskop dan

Solving Problems: Ketua BPI Nilai Bioskop dan OTT Idealnya Saling Melengkapi, Bukan Bersaing

Ketua BPI: Bioskop dan OTT Idealnya Saling Melengkapi, Bukan Bersaing

Solving Problems dalam industri perfilman memerlukan keseimbangan antara bioskop dan platform streaming (OTT). Fauzan Zidni, ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI), menyoroti bahwa kedua saluran ini seharusnya bekerja sama, bukan saling menggantikan. Dalam wawancara terbarunya, ia menjelaskan bahwa minimnya jumlah bioskop di Indonesia menjadi tantangan dalam distribusi film lokal, meski OTT tetap menjadi pilihan utama untuk konten yang berpotensi menjangkau lebih luas.

Menurut Fauzan, ketersediaan bioskop yang hanya sekitar 2.500 layar di tanah air belum mampu menyesuaikan diri dengan meningkatnya produksi film. Jumlah layar yang terbatas menyebabkan antrian film menjadi lebih lama, sehingga memengaruhi pengalaman penonton. Namun, ia menegaskan bahwa bioskop tetap menjadi saluran utama bagi film-film yang telah diproduksi, sekaligus menyebut bahwa OTT bisa menjadi mitra dalam mengoptimalkan distribusi. “Solving Problems dalam industri ini membutuhkan kolaborasi yang strategis,” kata Fauzan.

Perbedaan Peran Bioskop dan OTT dalam Industri Film

Fauzan menjelaskan bahwa bioskop memiliki peran sentral dalam menyajikan pengalaman tontonan langsung, sementara OTT berfungsi sebagai platform yang memungkinkan aksesibilitas konten di mana saja. Perbedaan ini membuat keduanya idealnya saling melengkapi, bukan bersaing secara terbuka. “Bioskop adalah wadah untuk pengalaman emosional, sementara OTT memperluas jangkauan audiens,” tambahnya. Ia menyoroti bahwa penonton di bioskop cenderung lebih antusias terhadap film baru, sebaliknya OTT bisa menjadi sumber pengulangan tontonan untuk konten yang telah sukses.

Salah satu tantangan utama dalam Solving Problems adalah ketimpangan antara produksi film dan infrastruktur bioskop. Fauzan menegaskan bahwa pertumbuhan industri film tidak bisa tercapai tanpa peningkatan jumlah layar. Ia menyarankan pemerintah dan pengusaha perlu berkolaborasi untuk mempercepat pengembangan bioskop, terutama di daerah-daerah yang masih kurang dilayani. “Pertumbuhan bioskop adalah kunci untuk menjaga keseimbangan,” ujarnya.

Strategi Kolaborasi untuk Meningkatkan Kualitas Konten

Sebagai solusi, Fauzan mengusulkan adopsi aturan jeda waktu (windowing) yang lebih jelas antara tayangan bioskop dan OTT. Aturan ini diperlukan untuk memastikan film-film lokal memiliki kesempatan meraih penonton di kedua saluran sekaligus. “Dengan Solving Problems di sektor ini, kita bisa menjamin kesejahteraan industri,” katanya. Ia menekankan bahwa kebijakan seperti ini juga membantu memperpanjang masa tayang film, sehingga meningkatkan pendapatan dari berbagai sumber.

Fauzan juga menyoroti peran OTT dalam menyeleksi film yang layak ditayangkan. Platform streaming seperti Netflix atau Disney+ tidak langsung membeli semua film, tetapi memprioritaskan proyek yang memiliki potensi pasar besar. Ini membantu menyaring kualitas konten, sekaligus memberikan sinyal ke bioskop bahwa film tersebut layak dipromosikan. “Solusi ini menunjukkan bahwa OTT bukanlah musuh, melainkan mitra,” jelasnya. Kebutuhan penonton yang tinggi di bioskop juga menjadi indikator utama bagi OTT dalam menentukan akuisisi film.

“Solving Problems membutuhkan pendekatan holistik, di mana bioskop dan OTT saling mengisi kebutuhan pasar,” imbuh Fauzan. Ia menambahkan bahwa keduanya bisa berperan sebagai saluran yang berbeda, tetapi memiliki tujuan sama: menyebarluaskan karya-karya lokal dan menarik lebih banyak penonton.

Join the discussion