Facing Challenges: Babak Baru Industri Fintech, Aftech Sebut Mulai Fokus Kejar Profit
ftech Sebut Fase Profit Mulai Tiba Facing Challenges menjadi fokus utama sektor teknologi finansial Indonesia saat ini, menurut Ketua Dewan Etik Asosiasi
Babak Baru Fintech: Aftech Sebut Fase Profit Mulai Tiba
Facing Challenges menjadi fokus utama sektor teknologi finansial Indonesia saat ini, menurut Ketua Dewan Etik Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech), Harun Reksodiputro. Dalam acara Indonesia Digital Bank Summit, Senin (7/7), ia menyatakan bahwa industri fintech nasional telah memasuki fase baru, di mana perusahaan lebih mengutamakan profitabilitas, penguatan bisnis, dan peran strategis dalam sistem keuangan nasional.
Masa Depan Fintech: Keseimbangan antara Inovasi dan Stabilitas
Babak baru ini bermula setelah sepuluh tahun pengembangan fintech yang pesat. Sebelumnya, perusahaan utama fokus pada pemasaran dan keberlanjutan produk. Namun kini, banyak perusahaan telah mengakses pasar modal, meraih keuntungan, dan membangun fondasi yang lebih kokoh. Harun menjelaskan, perubahan ini terjadi karena kemajuan teknologi dan adopsi digital di berbagai sektor ekonomi.
“Kini kita melihat semakin banyak fintech dengan fondasi yang jauh lebih kuat, memasuki fase profitabilitas, mengakses pasar modal, dan menjadi bagian penting dari sistem keuangan nasional,” ujarnya.
Harun menekankan bahwa Facing Challenges dalam fase ini melibatkan penyesuaian model bisnis. Perusahaan tidak hanya mengejar pertumbuhan pasar, tetapi juga menghadapi risiko seperti penipuan, serangan siber, dan penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI). “Fintech saat ini harus menunjukkan daya tahan terhadap tekanan eksternal dan kepercayaan masyarakat,” tambahnya.
Peran Strategis Fintech dalam Ekonomi Digital
Dalam babak baru ini, sektor fintech dianggap sebagai tulang punggung perekonomian digital Indonesia. Harun menyatakan bahwa penilaian keberhasilan industri tidak lagi hanya berdasarkan jumlah startup yang lahir, tetapi dari kemampuan perusahaan bertahan, mendapat kepercayaan publik, dan memberikan dampak nyata. “Dengan Facing Challenges, fintech harus berkontribusi dalam penguatan ekonomi yang inklusif,” ujarnya.
“Keberhasilan fintech hari ini kita ukur bukan dari berapa banyak startup yang lahir, tetapi dari berapa banyak institusi yang mampu bertahan, dipercaya, dan memberikan dampak nyata bagi perekonomian,” katanya.
Menurut Harun, Facing Challenges juga mencakup adaptasi terhadap kebijakan regulasi yang semakin ketat. Ia menyoroti pentingnya kerja sama antara pelaku industri, regulator, dan asosiasi untuk menciptakan ekosistem yang sehat dan berkelanjutan. “Tantangan terbesar adalah menjaga kredibilitas sektor fintech dalam era persaingan global,” katanya.
Transformasi digital dalam finansial terus berlanjut, dengan fintech berperan aktif dalam memperluas akses ke layanan keuangan. Meski menghadapi Facing Challenges, perusahaan diharapkan mampu menjadi jembatan antara inovasi teknologi dan kebutuhan masyarakat. “Masa depan fintech tidak hanya tentang kecepatan, tetapi juga konsistensi dalam menjaga kepercayaan konsumen,” pungkas Harun.
Dengan Facing Challenges, industri fintech di Indonesia diharapkan mampu berkontribusi lebih besar dalam perekonomian. Harun mengatakan bahwa tantangan yang dihadapi tidak hanya terkait pertumbuhan, tetapi juga stabilitas jangka panjang. “Kolaborasi yang lebih erat antara semua p
