REI Batam: Kenaikan Suku Bunga Belum Pengaruhi Penjualan Properti
REI Batam: Kenaikan Suku Bunga Belum Pengaruhi Penjualan Properti REI Batam, organisasi profesi real estate yang berpengaruh di wilayah kepulauan Riau
REI Batam: Kenaikan Suku Bunga Belum Pengaruhi Penjualan Properti
REI Batam, organisasi profesi real estate yang berpengaruh di wilayah kepulauan Riau, mengungkapkan bahwa penjualan properti di Batam tetap mencatatkan pertumbuhan positif meskipun ada kenaikan suku bunga kredit. Kenaikan bunga ini, yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, sejauh ini belum menunjukkan dampak signifikan terhadap permintaan pasar. Robinson Tan, Ketua DPD REI Khusus Batam, menjelaskan bahwa tingkat keberhasilan penjualan properti di Batam masih mengalami peningkatan sekitar 3% hingga semester pertama tahun 2026, seiring dukungan dari kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hunian.
Tren Penjualan Properti di Batam
Meskipun suku bunga kredit secara umum naik, Robinson Tan menegaskan bahwa pasar properti Batam tetap stabil karena keberlanjutan ekonomi lokal dan daya beli masyarakat yang tidak terganggu. “Meskipun suku bunga meningkat, tren penjualan properti di Batam masih positif. Kenaikan bunga memang berdampak, tapi belum terlalu signifikan,” ujarnya dalam wawancara bersama media pada Kamis (9/7/2026). Ia menambahkan, karena sebagian besar pembeli properti masih mengandalkan dana pribadi atau fasilitas kredit dengan persyaratan yang masih kompetitif, permintaan terhadap perumahan dan apartemen di Batam tetap tinggi.
Kenaikan suku bunga terjadi sebagai dampak dari kebijakan moneter pemerintah, yang bertujuan untuk menekan inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi nasional. Namun, Robinson Tan berpendapat bahwa kenaikan tersebut justru memberikan stimulus bagi para pengembang untuk mengoptimalkan strategi pemasaran. “Para pengembang masih aktif dalam memperkenalkan produk baru ke pasar, bahkan dengan promosi yang lebih menarik untuk menarik perhatian calon pembeli,” tambahnya.
Faktor Pendukung Stabilitas Pasar
Beberapa faktor lain turut memperkuat keberlanjutan pasar properti di Batam. Pertama, ketersediaan stok properti yang cukup besar dari proyek sebelumnya membantu mengurangi tekanan dari kenaikan biaya produksi. Kedua, peningkatan investasi di Batam, baik dari dalam maupun luar negeri, menciptakan permintaan tambahan terhadap properti hunian. Robinson Tan juga menyoroti peran REI Batam dalam memastikan transparansi dan kepercayaan konsumen terhadap segala transaksi properti.
Dalam acara pameran properti yang dihadiri 32 peserta, REI Batam mencatatkan total transaksi mencapai Rp100 miliar. Acara tersebut melibatkan 27 pengembang, empat institusi perbankan, serta satu penyedia layanan pendukung. Robinson Tan menjelaskan bahwa keikutsertaan perbankan dalam pameran ini menunjukkan komitmen mereka terhadap sektor pembiayaan perumahan. “Perbankan masih bersaing dalam menyediakan KPR, sehingga pengembang tetap mampu menjangkau berbagai kalangan pembeli,” ujarnya.
Kenaikan suku bunga juga tidak menyurutkan minat investor asing, yang terus memburu peluang di pasar properti Batam. Selain itu, peningkatan infrastruktur seperti pembangunan bandara, jalan raya, dan pusat perbelanjaan menciptakan nilai tambah bagi properti. Robinson Tan menegaskan bahwa ekosistem pasar properti di Batam sangat sehat, dan keberhasilan penjualan properti selama ini membuktikan bahwa kenaikan bunga tidak menyurutkan momentum.
Beberapa analisis menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga justru memberikan ruang bagi pengembang untuk menyesuaikan harga dan konsep produk. Pada semester pertama 2026, sebagian besar transaksi properti di Batam berlangsung di segmen harga menengah, yang tetap populer karena daya beli masyarakat di wilayah tersebut. REI Batam juga mengatakan bahwa perusahaan mereka terus melakukan survei dan pemantauan terhadap kebutuhan pasar, sehingga bisa memberikan rekomendasi strategis kepada pengembang dan pembeli.
