Skip to content
46

Key Issue: 2 Perusahaan Otomotif Jepang Dikabarkan Bakal Hengkang dari RI, Beralih ke Vietnam

Anthony Wilson - lintasnaya.com 3 mins read

Key Issue: 2 Perusahaan Otomotif Jepang Dikabarkan Bakal Hengkang dari RI, Beralih ke Vietnam KSPI: Alasan Utama Terkait Kebijakan Geopolitik dan Fokus pada

Key Issue: 2 Perusahaan Otomotif Jepang Dikabarkan Bakal Hengkang dari RI, Beralih ke Vietnam

Key Issue: 2 Perusahaan Otomotif Jepang Dikabarkan Bakal Hengkang dari RI, Beralih ke Vietnam

KSPI: Alasan Utama Terkait Kebijakan Geopolitik dan Fokus pada Mobil Listrik

Key Issue—Bisnis.com, JAKARTA—KSPI (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) mengungkapkan bahwa dua perusahaan komponen otomotif berasal dari Jepang tengah mempertimbangkan relokasi operasional dari Indonesia ke Vietnam. Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta pada hari Minggu (21/6/2026), Said Iqbal, Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, menjelaskan bahwa kedua perusahaan tersebut—dikenal sebagai PT J dan PT S—beroperasi di Mojokerto serta Pasuruan, Jawa Timur. Meski tidak menyebutkan data detail, Said menyatakan bahwa kedua perusahaan ini memiliki investor utama yang berada di Jepang.

Geopolitik dan Perubahan Pasar Global sebagai Pendorong Utama

Key Issue: Dinamika geopolitik global yang tidak stabil menjadi faktor utama dalam keputusan relokasi perusahaan otomotif tersebut. Said Iqbal mengatakan bahwa perang yang berlangsung di berbagai wilayah dunia memaksa principal Jepang untuk mencari lokasi produksi yang lebih stabil dan menguntungkan. “Kebijakan luar negeri dan keterlibatan politik antarnegara memengaruhi arah investasi industri otomotif,” jelasnya. Selain itu, kebijakan ekonomi yang memperketat hubungan dagang antara Indonesia dan negara lain juga menjadi perhatian, terutama dalam konteks persaingan industri di Asia Tenggara.

Strategi Diversifikasi Produk dan Teknologi Mobil Listrik

Key Issue: Kedua perusahaan ini juga mengalami perubahan strategi dalam pengembangan produk, khususnya peningkatan fokus pada mobil listrik. Said Iqbal menambahkan bahwa pasar mobil listrik di Vietnam berkembang lebih pesat dibandingkan Indonesia, sehingga memperkuat alasan perusahaan untuk memindahkan operasional. “Vietnam menawarkan insentif yang lebih menarik untuk produksi mobil ramah lingkungan, serta ketersediaan sumber daya manusia yang terlatih,” terangnya. Ia juga menyebut bahwa transisi ke mobil listrik menjadi isu krusial dalam industri otomotif global, terutama mengingat kebutuhan mengurangi emisi karbon.

“Perusahaan komponen otomotif di Mojokerto dan Pasuruan bisa terdampak, dengan ribuan karyawan mengalami pemutusan hubungan kerja,” tambah Said. Ia memperingatkan bahwa jika relokasi terjadi, akan berdampak signifikan terhadap ekonomi lokal dan keberlanjutan industri otomotif di Indonesia.

Upaya Mitigasi dan Peran KSPI dalam Menjaga Stabilitas

Key Issue: Sebagai langkah mitigasi, Said Iqbal menyatakan bahwa KSPI akan bekerja sama dengan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FPSMI) untuk memastikan negosiasi dengan principal kedua perusahaan berjalan lancar. “KSPI akan mengusulkan agar relokasi dilakukan secara bertahap dan tidak memicu kekacauan pasar kerja,” ujarnya. Ia juga mengatakan bahwa pihaknya akan mengirimkan laporan ke Presiden RI Prabowo Subianto, Mensesneg Prasetyo Hadi, serta pimpinan DPR untuk memperkuat upaya penanganan isu ini.

Analisis Pasar dan Persaingan di Vietnam

Key Issue: Relokasi ke Vietnam diperkirakan akan memberi dampak besar bagi industri otomotif Indonesia. Menurut analisis, Vietnam menawarkan biaya produksi yang lebih rendah, akses ke pasar yang tumbuh cepat, serta infrastruktur yang semakin memadai. Dalam beberapa tahun terakhir, negara tersebut menjadi tujuan investasi utama bagi perusahaan dari Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan. “Indonesia harus meningkatkan daya saing dengan mengoptimalkan insentif dan kebijakan industri,” saran Said. Ia juga menyoroti pentingnya pengembangan keterampilan pekerja lokal agar tetap relevan di tengah perubahan geopolitik.

Key Issue: Selain faktor ekonomi dan politik, kebijakan lingkungan serta regulasi produksi juga menjadi pertimbangan utama. Dalam konteks transisi ke energi terbarukan, Vietnam dianggap lebih proaktif dalam menyiapkan ekosistem produksi mobil listrik. Meski demikian, Said Iqbal menekankan bahwa Indonesia tetap memiliki potensi untuk menarik investasi jika bisa menyesuaikan kebijakan dengan kebutuhan industri modern. “Pemerintah harus segera merespons dan mengambil langkah strategis untuk mengurangi risiko kehilangan keunggulan kompetitif,” pungkasnya. Dengan relokasi ini, perusahaan otomotif Jepang akan menguji kemampuan Indonesia dalam mempertahankan posisi sebagai pusat produksi global.

Join the discussion