Skip to content
45

Key Discussion: Kabinet Prabowo Pikul PR Integrasi Jaringan Irigasi Jokowi

Joseph Jones - lintasnaya.com 3 mins read

Kabinet Prabowo Pikul PR Integrasi Jaringan Irigasi Jokowi Key Discussion mengenai upaya Kabinet Prabowo Subianto dalam mempercepat pembangunan jaringan

Key Discussion: Kabinet Prabowo Pikul PR Integrasi Jaringan Irigasi Jokowi

Kabinet Prabowo Pikul PR Integrasi Jaringan Irigasi Jokowi

Key Discussion mengenai upaya Kabinet Prabowo Subianto dalam mempercepat pembangunan jaringan irigasi sebagai bagian dari integrasi infrastruktur yang diwariskan oleh pemerintahan Joko Widodo semakin mendapat perhatian. Pembangunan jaringan irigasi yang sebelumnya menjadi fokus utama dalam program swasembada pangan di era Jokowi kini dianggap perlu ditingkatkan untuk memastikan ketersediaan air yang memadai bagi petani. Dengan konstruksi jaringan sekunder hingga tersier yang dipercepat, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) berharap mampu meningkatkan efisiensi distribusi air, sehingga ketahanan pangan nasional bisa terjamin. Sejumlah pihak mengungkapkan bahwa ini adalah langkah penting dalam menjaga keberlanjutan pertanian di tengah tantangan iklim yang semakin tidak menentu.

Prioritas Pembangunan Jaringan Irigasi dalam Kabinet Prabowo

Dalam upaya mendukung program swasembada pangan, Kabinet Prabowo memulai Key Discussion mengenai perluasan jaringan irigasi yang sebelumnya hanya difokuskan pada infrastruktur utama. Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025 yang ditandatangani oleh Presiden Prabowo pada 30 Januari 2025 menjadi landasan strategi ini. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memperkuat sistem irigasi yang selama ini dianggap kurang optimal. Menurut Menteri PU, Dody Hanggodo, jaringan tersier diharapkan mampu menghubungkan bendungan besar dengan lahan pertanian secara langsung, sehingga air bisa dialirkan dengan lebih efisien.

“Inpres irigasi daerah Insyaallah sudah akan dianggarkan, sudah kami diskusikan dengan Pak Presiden. Sebagai informasi kebutuhan terbesar berada pada irigasi daerah sebesar Rp14,65 triliun,” ujar Dody.

Kementerian PU menyetorkan anggaran sebesar Rp29 triliun untuk operasional Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) dalam DIPA 2026. Anggaran ini mencakup berbagai aspek, termasuk pengendalian banjir, penyediaan air, dan terutama pengembangan jaringan irigasi. Namun, penyesuaian dana untuk pembangunan jaringan daerah masih menjadi tantangan, karena anggaran awal hanya dialokasikan sebesar Rp350 miliar untuk menangani 19.760 hektare. Hal ini memicu Key Discussion di internal kabinet mengenai kesiapan anggaran dan prioritas pembangunan.

Tantangan dalam Pemenuhan Target Fisik

Pembangunan jaringan irigasi daerah pada 2026 dianggap kurang memadai karena anggaran yang dialokasikan masih jauh dari kebutuhan total. Kementerian PU mengungkapkan bahwa untuk menyelesaikan program irigasi, diperlukan tambahan dana sebesar Rp14,65 triliun. Dana ini diperkirakan akan digunakan untuk membiayai kontrak tahunan berjalan dan usulan kontrak baru di lapangan. Proses Key Discussion terkait penganggaran ini sedang berlangsung intensif dengan Kementerian Keuangan dan seluruh anggota kabinet.

Kesiapan anggaran penyesuaian menjadi kritis agar target fisik pemulihan jaringan irigasi 19.760 hektare tidak tertunda. Menurut Khudori, pengamat pertanian dan anggota Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), hanya 11% dari jaringan irigasi nasional yang mampu menjamin pasokan air berkelanjutan hingga akhir 2024. Ini menunjukkan bahwa sistem irigasi masih bergantung pada debit alami sungai, yang bisa terganggu saat musim kemarau datang. Oleh karena itu, Key Discussion mengenai pengembangan jaringan irigasi juga mencakup strategi menghadapi fenomena El-Nino yang berpotensi mengurangi curah hujan di beberapa wilayah.

Impak Jaringan Irigasi terhadap Ketahanan Pangan Nasional

Percepatan konstruksi jaringan irigasi tidak hanya berdampak pada efisiensi distribusi air, tetapi juga pada keseluruhan keberlanjutan pertanian Indonesia. Kementerian PU menyatakan bahwa keandalan sistem pengairan nasional masih perlu ditingkatkan agar tidak terganggu oleh musim kemarau yang semakin sering. Dengan menambahkan jaringan tersier yang terintegrasi, harapan besar ditempatkan pada kemampuan pemerintah untuk memastikan pasokan air baku mencapai sawah atau perkebunan secara merata.

Key Discussion ini juga menyoroti ketergantungan petani pada air dari sumber alami, yang bisa menjadi risiko ketika kondisi iklim tidak stabil. Menurut data terkini, sebagian besar lahan pertanian belum terhubung langsung ke bendungan besar, sehingga memperkuat jaringan irigasi menjadi langkah strategis. Dengan membangun saluran irigasi primer, sekunder, dan tersier secara simultan, pemerintah bisa mengurangi risiko kekeringan di sejumlah wilayah yang rentan terhadap perubahan iklim. Selain itu, peningkatan kualitas layanan irigasi akan membantu meningkatkan indeks pertanaman nasional, yang sebelumnya stagnan selama dua tahun terakhir.

Join the discussion