Skip to content
407

Visit Agenda: Kalsel Makin Kering, Ancaman Api Mengintai di Depan Mata

Karen Miller - lintasnaya.com 3 mins read

Kalsel Masuk Fase Kemarau, Potensi Kebakaran Lahan Meningkat Visit Agenda - Kalimantan Selatan (Kalsel) kini memasuki fase kemarau yang lebih ekstrem

Visit Agenda: Kalsel Makin Kering, Ancaman Api Mengintai di Depan Mata

Kalsel Masuk Fase Kemarau, Potensi Kebakaran Lahan Meningkat

Visit Agenda – Kalimantan Selatan (Kalsel) kini memasuki fase kemarau yang lebih ekstrem dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Situasi ini semakin mengkhawatirkan karena ancaman kebakaran lahan sudah mengintai di depan mata. Klaus Johannes Apoh Damanik, Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Kalsel, menyatakan bahwa berbagai indikator iklim telah memberi sinyal konsisten mengenai tibaanya musim kering secara menyeluruh di wilayah tersebut. Dengan kondisi ini, pemerintah dan masyarakat harus siap menghadapi risiko yang mungkin terjadi.

Risiko Kebakaran Lahan dalam Kondisi Kekeringan

Dari data BMKG, curah hujan di Kalsel telah menurun drastis sepanjang Juni 2026. Terutama pada dasarian ketiga bulan itu, hampir seluruh area berada dalam kategori hujan sangat rendah. Klaus mengungkapkan bahwa warna cokelat pada peta analisis cuaca menunjukkan penurunan intensitas hujan yang signifikan dibandingkan awal bulan. Fenomena ini berdampak pada penurunan kelembapan tanah, membuat vegetasi lebih rentan terbakar.

“Kemarau tahun ini tergolong ekstrem. Kekeringan yang terjadi mengancam kehidupan flora dan fauna di sejumlah kawasan. Kondisi ini juga memperbesar risiko kebakaran lahan di sepanjang wilayah,” jelas Klaus dalam keterangan resmi, Rabu (8/7/2026).

Proyeksi Cuaca dan Tingkat Kekeringan

Kemarau diperkirakan akan terus berlanjut hingga Juli, dengan curah hujan hanya berkisar 10 hingga 20 milimeter per dasarian. Angka tersebut jauh dari cukup untuk mengembalikan kondisi kelembapan alam. Klaus menyatakan bahwa meski hujan masih bisa terjadi, secara total jumlahnya sangat minim. “Musim kemarau bukan berarti langit sepenuhnya kering, tetapi intensitas hujan tidak memadai untuk mengurangi risiko kekeringan,” ujarnya.

Dalam kondisi seperti ini, Kalsel masuk ke dalam fase kekeringan yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan. Klaus menambahkan bahwa tingkat kekeringan tahun ini berada di bawah rata-rata, sehingga lebih mematikan dibandingkan musim kering sebelumnya. Faktor ini membuat kebakaran lebih mudah menyebar, terutama di daerah yang rentan terhadap kegiatan pembakaran untuk pertanian.

Ancaman pada Sektoral dan Tindakan Mitigasi

Kondisi kemarau yang berlangsung sejak Juni 2026 memberi dampak signifikan pada sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Tanah yang sangat kering berpotensi menyebabkan kerusakan lahan pertanian serta gangguan pada ekosistem alami. BMKG memproyeksikan puncak kekeringan akan menyentuh sebagian wilayah pada Agustus, dengan Kalteng dan Tabalong Utara diprediksi menjadi area paling terdampak lebih dulu. Pada September, sekitar 96% wilayah Kalsel diperkirakan berada dalam kondisi puncak kemarau.

Klaus berharap pemerintah dan pemangku kepentingan segera memperkuat upaya mitigasi. Antisipasi kebakaran lahan harus dilakukan secara lebih intensif, termasuk pembangunan infrastruktur air dan pengelolaan sumber daya alam. “Dengan memperhatikan data cuaca, kita bisa mengoptimalkan perencanaan Visit Agenda untuk menghindari risiko kebakaran dan memastikan kenyamanan pengunjung,” tuturnya. Pemantauan harian terhadap titik panas dan kualitas udara juga menjadi prioritas.

Kebutuhan Persiapan untuk Visit Agenda

Visit Agenda ke Kalsel harus lebih dipersiapkan mengingat kondisi cuaca yang tidak menentu. Klaus mengingatkan bahwa kekeringan yang berkepanjangan berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. “Dengan meningkatnya suhu dan kekeringan, kebakaran bisa terjadi kapan saja, terutama di area yang kurang terawasi. Oleh karena itu, pengunjung perlu memastikan bahwa jalur dan tempat yang dikunjungi telah dilengkapi fasilitas darurat,” katanya.

BMKG berharap dengan informasi yang diberikan, pemerintah daerah dapat mempercepat respons terhadap kekeringan. Tindakan pencegahan seperti pengaturan kebijakan penggunaan lahan dan peningkatan kesadaran masyarakat menjadi kunci utama. Klaus menekankan bahwa kekeringan bukan hanya masalah alam, tetapi juga berdampak pada aktivitas manusia, termasuk perjalanan atau Visit Agenda yang dilakukan di wilayah tersebut.

“Kita perlu memperkuat kerja sama antarinstansi untuk mengurangi dampak kekeringan. Pengunjung juga harus berperan dalam mengawasi lingkungan sekitar dan meminimalkan risiko kebakaran. Dengan persiapan yang matang, Visit Agenda Kalsel tetap bisa berjalan lancar meski di tengah musim kering,” pungkas Klaus.

Join the discussion