Topics Covered: Hotel Sahid (SHID) Incar Pendapatan Rp155,8 Miliar pada 2026
Hotel Sahid (SHID) Targetkan Pendapatan Rp155,8 Miliar Tahun 2026 Topics Covered – Jakarta, 19 Juni 2026 — PT Hotel Sahid Jaya International Tbk.
Hotel Sahid (SHID) Targetkan Pendapatan Rp155,8 Miliar Tahun 2026
Topics Covered – Jakarta, 19 Juni 2026 — PT Hotel Sahid Jaya International Tbk. (SHID) telah menetapkan target pendapatan sebesar Rp155,8 miliar pada tahun 2026, menunjukkan komitmen untuk meningkatkan performa bisnis di tengah dinamika industri perhotelan. Target ini meningkatkan realisasi pendapatan tahun sebelumnya, yaitu Rp123,9 miliar, dengan pertumbuhan sebesar 20%. Selain itu, SHID juga menargetkan kenaikan sekitar 12% dibandingkan target 2025 yang sebesar Rp137 miliar, mencerminkan strategi adaptasi terhadap perubahan permintaan pasar.
Strategi Peningkatan Kinerja dengan Fokus pada Efisiensi
Untuk mencapai target pendapatan tersebut, perseroan telah mengidentifikasi tiga strategi inti di 2026. Strategi utama meliputi penguatan manajemen biaya, diversifikasi sumber pendapatan, serta perbaikan komposisi pelanggan. Dhanadi Kusuma Wardana Sukamdani, Direktur Hotel Sahid Jaya International, menjelaskan bahwa fokus utama perseroan adalah pada penguatan dasar keuangan melalui disiplin pengelolaan dana, efisiensi operasional, dan optimalisasi aset. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan profitabilitas, terutama dalam menghadapi tantangan inflasi dan persaingan global.
“Kita menetapkan tiga faktor utama untuk mengatasi tantangan biaya dan operasional jangka pendek. Upaya ini dirancang untuk mengoptimalkan efisiensi sekaligus mempertahankan keuntungan di tengah volatilitas pasar,” kata Dhanadi dalam Paparan Publik, Jumat (19/6/2026).
Diversifikasi Bisnis dan Pergeseran Fokus ke F&B
Salah satu strategi kunci SHID adalah pergeseran fokus ke segmen Food & Beverage (F&B), yang akan menjadi penggerak utama pendapatan tahun 2026. Segmen ini diharapkan memberikan kontribusi sebesar 52,2%, sementara pendapatan dari segmen kamar diperkirakan menurun menjadi 43,3%. Perubahan ini mengikuti tren pergeseran struktur permintaan, di mana kontribusi segmen MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) mengalami penurunan signifikan.
Menurut Dhanadi, penurunan kontribusi segmen MICE mendorong SHID untuk memperkuat bisnis non-kamar. Langkah ini meliputi pengembangan outlet F&B, kolaborasi dengan penyelenggara acara, serta peningkatan layanan lifestyle. Dengan memperluas segmen pelanggan, perseroan berharap menjaga pertumbuhan pendapatan stabil dan mengurangi ketergantungan pada sumber daya tertentu.
Proyek Baru untuk Meningkatkan Daya Tarik Wisatawan
SHID juga tengah menyusun beberapa proyek strategis yang bertujuan memperkuat ekosistem bisnis. Salah satunya adalah pembangunan lapangan padel di rooftop lantai 3, bekerja sama dengan operator regional Ascaro Padel. Proyek ini diharapkan menarik pengunjung yang mencari pengalaman hiburan dan relaksasi di lingkungan hotel.
Di samping itu, perseroan merencanakan pengembangan fasilitas spa dan gym di area kolam renang lantai 3, melibatkan investor untuk memastikan kualitas layanan. Dhanadi menambahkan, diversifikasi segmen pelanggan menjadi prioritas, dengan fokus pada non-government MICE, long stay, korporasi, serta wisatawan individu dan sosial. Penyesuaian ini sejalan dengan penurunan kontribusi segmen pemerintah dari 72% menjadi 50% di sektor kamar.
Perubahan Susunan Direksi untuk Memperkuat Ekosistem
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), SHID menetapkan beberapa keputusan strategis, salah satunya perubahan susunan direksi. Direktur lama, Hengky Roy, resmi mengundurkan diri, sementara Megawati Natalia Sari dipilih sebagai Direktur baru untuk mengisi posisi tersebut. Perubahan ini bertujuan menghadirkan perspektif baru dalam mengelola bisnis.
Perseroan juga memperkuat ekosistem bisnis melalui pengembangan acara, pernikahan, serta kemitraan strategis. Selain itu, kenaikan average room rate (ARR) mencapai 14,9% menjadi Rp780.112, menunjukkan keberhasilan strategi penyesuaian harga yang dipimpin oleh manajemen. Dhanadi menegaskan, penyesuaian ini berdampak positif pada margin keuntungan.
Topics Covered mengungkapkan bahwa adaptasi SHID tidak hanya terfokus pada operasional kamar, tetapi juga pada pengembangan bisnis berbasis F&B dan lifestyle. Perubahan struktur pendapatan di tahun 2025, yang tercatat sebesar Rp123,99 miliar, menjadi bukti transformasi tersebut. Dengan segmen F&B berkontribusi 51,5%, dan kamar hotel menyumbang 35,5%, SHID menegaskan pergeseran fokus menuju sektor non-kamar sebagai motor pertumbuhan baru.
Kinerja tahun 2025 mencerminkan tantangan yang dihadapi industri perhotelan, khususnya dari segi okupansi yang turun menjadi 30%, dibandingkan 43,3% pada 2024. Meski terjadi penurunan, SHID berupaya memperbaiki performa dengan penyesuaian strategi, termasuk mengembangkan layanan tambahan dan memperkuat kemitraan dengan pemain utama pasar. Dengan target pendapatan yang lebih ambisius pada 2026, perseroan menunjukkan kepercayaan terhadap potensi pertumbuhan jangka panjang.
