Skip to content
19

Konflik Dengan AS Kembali Panas – Iran Kembali Tutup Selat Hormuz

Karen Miller - lintasnaya.com 3 mins read

Konflik Dengan AS Kembali Panas: Iran Tutup Selat Hormuz sebagai Tindakan Balasan Konflik Dengan AS Kembali Panas - Konflik antara Iran dan Amerika Serikat

Konflik Dengan AS Kembali Panas – Iran Kembali Tutup Selat Hormuz

Konflik Dengan AS Kembali Panas: Iran Tutup Selat Hormuz sebagai Tindakan Balasan

Konflik Dengan AS Kembali Panas – Konflik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah pihak Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz secara permanen sebagai respons terhadap serangan terbaru AS di kawasan tersebut. Tindakan ini terjadi pada Minggu (12/7/2026) dan menandai kembali dari gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan, yang kini telah berakhir karena ketegangan yang terus meningkat. Dalam pernyataan yang dirilis oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), mereka menyatakan bahwa penutupan selat akan berlangsung hingga keberadaan campur tangan AS di wilayah tersebut benar-benar diakhiri.

Konteks Konflik Iran dan AS Kembali Memanas

Peristiwa penutupan Selat Hormuz bukanlah kejadian pertama dalam konflik dengan AS. Sebelumnya, Iran telah melakukan tindakan serupa pada tahun 2019, saat memblokir jalur pelayaran sebagai bentuk protes atas kebijakan pengenaan sanksi ekonomi AS. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan bilateral antara kedua negara sering kali memburuk akibat perselisihan mengenai perjanjian nuklir, kebijakan militer, dan intervensi politik Washington di Timur Tengah. Tindakan penutupan Selat Hormuz pada 2026 ini menggambarkan kembali eskalasi yang memicu ketakutan global terhadap gangguan perdagangan minyak dan keamanan pangan.

“Kami berjanji akan membalas darah pemimpin yang gugur dan seluruh syuhada dari dua perang ini kepada para pembunuh yang kriminal dan terhina,”

sebagaimana diberitakan oleh BBC, diucapkan oleh Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran. Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan ragu untuk menanggapi setiap serangan AS dengan kekuatan penuh, termasuk menargetkan pangkalan militer dan kapal-kapal yang melanggar rute pelayaran. Tindakan ini dilakukan setelah tiga kapal tanker komersial diserang di perairan Oman, yang menewaskan 17 orang dan melukai 115 lainnya. Iran menuduh AS bertindak dengan kesengajaan dan mengabaikan kesepakatan yang telah dibuat.

Dampak dan Perspektif Global

Langkah Iran dalam menutup Selat Hormuz menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan negara-negara yang bergantung pada pasokan minyak dari kawasan tersebut. Sejumlah pelaku industri energi dan negara-negara klien AS, seperti Jepang dan Tiongkok, mengungkapkan risiko penurunan pasokan minyak yang bisa berdampak pada stabilitas pasar global. Sebaliknya, Iran memastikan bahwa tindakan penutupan ini adalah langkah defensif untuk melindungi kepentingannya sendiri, terutama setelah AS mengambil langkah-langkah keras terhadap kapal-kapal yang menurut Iran mengancam keamanan pelayaran.

Presiden AS Donald Trump menyebut serangan Iran sebagai tanda berakhirnya gencatan senjata, sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh Washington melanggar kesepakatan tersebut. Meski terjadi krisis, Trump tetap menyatakan bahwa proses perundingan akan dilanjutkan, dengan mediator seperti Eropa dan Rusia berusaha memperkuat komunikasi antara kedua pihak. Namun, keputusan Iran untuk memperketat pengawasan di Selat Hormuz menunjukkan sikap tegas terhadap AS, yang dalam beberapa bulan terakhir telah melakukan beberapa operasi militer di wilayah Teluk.

Dalam upacara pemakaman Ali Khamenei, yang gugur dalam serangan udara pada 28 Februari lalu, Khamenei memimpin pelayat yang membawa poster meminta pembunuhan terhadap Trump. Pidato televisi Khamenei menjelaskan bahwa tindakan balasan terhadap AS dilakukan atas kehendak rakyat Iran, yang merasa terus-menerus diserang. Di sisi lain, pihak AS mengatakan bahwa setiap upaya menargetkan Trump akan dijawab dengan serangan besar-besaran terhadap wilayah Iran, termasuk posisi militer dan kota-kota strategis.

Konflik Dengan AS Kembali Panas ini juga memicu reaksi dari negara-negara lain, termasuk Uni Eropa yang menyatakan dukungan terhadap Iran dalam mempertahankan keamanan pelayaran. Di samping itu, organisasi internasional seperti PBB memberikan pernyataan yang menekankan pentingnya mencegah eskalasi yang bisa memicu perang regional. Sejumlah analis politik mengingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz bisa berdampak pada ekonomi global, terutama karena selat tersebut menjadi jalur utama pengiriman minyak ke pasar internasional.

Selain itu, penutupan Selat Hormuz menjadi simbol dari kekuatan militer Iran dalam menghadapi tekanan AS. Tindakan ini juga meningkatkan kembali peran Iran sebagai kekuatan geopolitik utama di Teluk, terutama dalam menghadapi kebijakan sanksi dan intervensi militer yang sering diakui oleh Washington. Meski begitu, keputusan Iran untuk mengambil alih pengawasan penuh di wilayah strategis ini menunjukkan komitmen mereka untuk mempertahankan kemandirian energi dan keamanan laut, sekaligus sebagai peringatan terhadap AS.

Join the discussion