Special Plan: DPR RI Desak Pelatihan Militer Dihentikan Usai 5 Calon Manajer Kopdes Meninggal
Usai 5 Calon Manajer Kopdes Meninggal Special Plan adalah inisiatif yang digagas oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) untuk memperkuat kegiatan pengembangan
DPR RI Desak Pelatihan Militer SPPI Dihentikan Usai 5 Calon Manajer Kopdes Meninggal
Special Plan adalah inisiatif yang digagas oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) untuk memperkuat kegiatan pengembangan ekonomi desa melalui pelatihan kemiliteran. Namun, dalam Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) 2026, kejadian kelima peserta calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) meninggal dunia selama menjalani Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) memicu keluhan serius dari anggota DPR RI. Politisi Komisi I DPR, Oleh Soleh, menilai insiden ini menjadi alasan kuat untuk menghentikan sementara Special Plan dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program tersebut.
Detail Pelatihan dan Kematian Peserta
Kematian lima calon manajer Kopdes yang terjadi selama pelatihan Special Plan menjadi isu serius yang harus diperhatikan. Nyawa manusia tidak boleh dipandang enteng, sehingga saya meminta Kemhan menghentikan sementara pelaksanaan Latsarmil dan menyelidiki penyebab kejadian tersebut secara transparan,” tegas Oleh Soleh, seperti dilaporkan laman resmi DPR, Minggu (28/6/2026).
Pelatihan Latsarmil dalam Special Plan dirancang untuk memberikan pengalaman kepemimpinan dan manajemen kepada peserta dari kalangan sipil. Namun, kejadian tersebut menunjukkan bahwa intensitas pelatihan mungkin melebihi kemampuan fisik peserta. Oleh Soleh menekankan bahwa peserta bukan prajurit yang terlatih, sehingga program harus disesuaikan dengan tingkat kebugaran rata-rata masyarakat sipil.
Respons Kementerian Pertahanan
Kementerian Pertahanan menjelaskan bahwa peserta telah lolos seleksi kesehatan sebelum mengikuti Special Plan. “Sebelum mengikuti Latsarmil, semua peserta telah melewati tahapan seleksi sesuai aturan, termasuk pemeriksaan kesehatan. Mereka dianggap memenuhi syarat untuk mengikuti pendidikan kemiliteran,” kata Karo Infohan Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait dalam pernyataan resmi, Rabu (24/6/2026).
Dalam Special Plan, peserta diharapkan mampu memimpin kegiatan ekonomi desa dan menjadi motor penggerak pembangunan. Namun, kejadian kelima kematian peserta menimbulkan kekhawatiran terhadap efektivitas program ini. Oleh Soleh mengingatkan bahwa keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama, terutama karena pelatihan yang dilakukan bisa berdampak serius pada kesehatan dan nyawa mereka.
“Tujuan utama program ini adalah menghasilkan sumber daya manusia yang mampu mengelola koperasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi desa. Oleh karena itu, aspek keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama,” lanjut Oleh Soleh. Ia menekankan bahwa kegagalan dalam menjaga keamanan peserta dapat mengurangi efektivitas Special Plan dalam mencapai tujuannya.
Informasi terbaru menyebutkan bahwa Nola Dya Sari, peserta Latsarmil di Satuan Pendidikan Dudik Bela Negara Kalimantan, menjadi korban terbaru pada 24 Juni 2026. Sebelumnya, empat peserta lainnya telah meninggal dunia pada 17, 18, 22, dan 25 Juni 2026. Kesemua kejadian tersebut memicu DPR RI untuk menyoroti kembali peran Special Plan dalam pengembangan ekonomi desa, sekaligus meninjau ulang strategi pelatihan yang diterapkan.
DPR RI juga meminta penjelasan lebih lanjut tentang langkah-langkah pencegahan kejadian serupa di masa depan. “Kami menilai bahwa pelatihan militer dalam Special Plan harus disesuaikan dengan kondisi fisik peserta, bukan hanya memprioritaskan ketahanan fisik,” tambah Oleh Soleh. Ia menekankan bahwa program ini perlu diintegrasikan dengan pelatihan yang lebih fleksibel untuk mengurangi risiko cedera atau kematian peserta.
