Polri Geledah 12 Lokasi di Kasus Batu Bara-Asabri – Ini Daftarnya
Polri Geledah 12 Lokasi di Kasus Batu Bara-Asabri, Ini Daftarnya Polri Geledah 12 Lokasi di Kasus - Dalam upaya memperjelas dugaan keterlibatan korupsi dalam
Polri Geledah 12 Lokasi di Kasus Batu Bara-Asabri, Ini Daftarnya
Polri Geledah 12 Lokasi di Kasus – Dalam upaya memperjelas dugaan keterlibatan korupsi dalam kasus batu bara Asabri, penyidik Kepolisian Republik Indonesia (Polri) melakukan penggeledahan di 12 lokasi strategis di Jakarta dan Bogor. Operasi penyelidikan ini dilakukan untuk mengungkap tiga dugaan kasus utama, yakni skandal blackout batu bara PLN, pembobolan dana Asabri, serta proses penyelesaian utang PT CBS terhadap PT KNI. Penggeledahan yang dilakukan secara terpusat menunjukkan komitmen Polri untuk menelusuri jejak transaksi dan bukti-bukti penting yang terkait dengan kasus tersebut.
“Penggeledahan ini dilakukan untuk memperkuat pembuktian dugaan korupsi yang tengah diselidiki,” kata Kombes Pol Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya, dalam keterangan tertulis, Rabu (8/7/2026) malam. Ia menegaskan bahwa penyidik tengah mempelajari seluruh dokumen, uang tunai, dan barang bukti yang ditemukan di setiap lokasi yang diperiksa.
Kasus batu bara Asabri telah menjadi sorotan publik karena dugaan penyimpangan dalam pengelolaan dana pensiun. Dalam operasi penyelidikan terbaru, Polri mengungkap bahwa penggeledahan menargetkan lokasi yang diduga menjadi titik kumpul dokumen kritis dan alat-alat pencucian uang. Pengumpulan bukti ini diperlukan agar proses hukum dapat berjalan secara transparan dan dapat memperkuat kesaksian dari saksi serta petunjuk dalam penyelidikan. Proses ini juga mencakup pemeriksaan terhadap media digital seperti handphone dan CCTV untuk melacak aktivitas terkait kasus.
Detail Penggeledahan di Masing-Masing Lokasi
Secara rinci, ada 12 lokasi yang diperiksa dalam operasi penyelidikan ini. Lokasi-lokasi tersebut terdiri dari kantor perusahaan, rumah pribadi, serta tempat usaha yang diduga terkait dengan kasus-kasus korupsi. Dari 12 titik penggeledahan, dua di antaranya berada di Jakarta Selatan, yaitu kafe de’Clan Signature dan Koin Money Changer. Di kafe de’Clan Signature, penyidik berhasil menyita uang asing sebesar 3,1 juta SGD atau setara US$889.965 dan Rp259 juta, sedangkan di Koin Money Changer, uang tunai dari 16 paket mata uang asing berhasil disita, mencapai total Rp7,2 miliar.
Dalam operasi tersebut, Polri juga menggeledah rumah saudara MN di Serpong Utara, Tangerang Selatan, serta rumah saudara TK di Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Lokasi-lokasi ini diduga digunakan sebagai tempat penyimpanan dokumen-dokumen khusus dan alat-alat perbankan. Selain itu, penyidik juga memeriksa kantor dan grup DMG/CP di Kuningan, Jakarta Selatan, serta PT PML di Karet Kuningan. Di beberapa tempat, petugas menemukan bukti-bukti seperti data transaksi, laporan keuangan, dan dokumen perjanjian yang relevan dengan kasus korupsi.
Kasus Korupsi Batu Bara dan Asabri
Kasus batu bara Asabri yang menjadi fokus penggeledahan ini mengungkap ketidaksesuaian dalam pengelolaan dana pensiun. Skandal ini terjadi karena dugaan keterlibatan oknum-oknum dalam pengalihan dana pensiun yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan pensiunan menjadi modal usaha. Polri menegaskan bahwa investigasi terus berjalan untuk memastikan adanya aliran dana yang tidak sah serta penyalahgunaan wewenang dalam proses tersebut. Selain itu, kasus blackout batu bara PLN juga dianggap sebagai salah satu pembuktian awal bahwa korupsi dapat berdampak besar pada sektor energi nasional.
Adapun skandal Asabri sendiri diduga berkaitan dengan pemborosan dana dan pengelolaan yang tidak transparan. Penggeledahan di 12 lokasi bertujuan untuk memperoleh bukti yang dapat mengungkap alur dana, keterlibatan pihak-pihak tertentu, dan transaksi yang tidak tercatat. Polri berharap bahwa hasil sitaan ini dapat memperkuat proses penyelidikan dan menemukan korporasi serta individu yang terlibat langsung dalam kejahatan tersebut. Kasus ini juga menjadi contoh bagaimana korupsi bisa merugikan keuangan negara dan mengganggu kepercayaan masyarakat.
Dalam menyusun daftar lokasi yang digeledah, Polri memastikan bahwa setiap tempat yang menjadi sasaran memiliki alasan kuat untuk dikaitkan dengan kasus korupsi. Lokasi-lokasi ini mencakup kantor utama perusahaan, rumah pribadi, dan tempat usaha yang diduga digunakan sebagai titik penerimaan atau pengeluaran dana yang tidak sah. Dengan mengungkap rincian masing-masing lokasi, Polri bertujuan memberikan gambaran yang jelas kepada publik tentang kegiatan penyelidikan yang sedang berlangsung.
Di luar penggeledahan, penyidik juga mengajak masyarakat untuk turut serta dalam memberikan informasi tambahan. “Kami membutuhkan bantuan dari masyarakat agar investigasi dapat lebih cepat dan akurat,” kata Budi. Ia menambahkan bahwa seluruh bukti yang ditemukan akan disimpan dan dianalisis secara terstruktur agar dapat digunakan sebagai dasar untuk penyidikan lebih lanjut. Penggeledahan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mengungkap keterlibatan lebih luas dalam kasus batu bara dan Asabri.
