Main Agenda: Dana Riset Idealnya Rp8 triliun
Dana Riset Idealnya Rp8 Triliun Main Agenda - Sebagai bagian dari Main Agenda pembangunan nasional, dana riset yang optimal diperkirakan mencapai sekitar Rp7
Dana Riset Idealnya Rp8 Triliun
Main Agenda – Sebagai bagian dari Main Agenda pembangunan nasional, dana riset yang optimal diperkirakan mencapai sekitar Rp7 hingga Rp8 triliun. Hal ini diungkapkan oleh Lalu Hadrian, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, dalam wawancara dengan media. Ia menjelaskan bahwa angka tersebut menjadi target utama untuk mendorong pertumbuhan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi di Indonesia, yang menurutnya sangat krusial dalam meningkatkan daya saing bangsa di tingkat internasional.
Target Dana Riset dan Perkembangan Ekonomi
Menurut Lalu Hadrian, alokasi dana riset yang mencapai Rp8 triliun per tahun akan memberikan dampak signifikan terhadap pembangunan ekonomi dan sosial. “Riset adalah penggerak utama inovasi, dan inovasi memicu pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tegasnya. Ia menyoroti bahwa kebutuhan dana riset tidak hanya terbatas pada sektor teknologi, tetapi juga melibatkan bidang-bidang seperti kesehatan, pendidikan, pertanian, dan energi, yang semuanya memiliki kontribusi besar terhadap kesejahteraan masyarakat.
Dalam konteks Main Agenda yang ditetapkan pemerintah, peningkatan anggaran riset menjadi fokus utama dalam beberapa tahun terakhir. Angka Rp4 triliun yang ditetapkan untuk 2026, menurut Hadrian, sudah menjadi langkah awal yang baik. Namun, ia berharap angka tersebut bisa ditingkatkan lebih lanjut pada 2027 agar dapat memenuhi ambisi pembangunan jangka panjang. “Kalkulasi kami masih belum mencapai tingkat ideal, karena riset yang dilakukan melibatkan sejumlah besar sektor dan perlu perencanaan yang sangat tepat sasaran,” tambahnya.
Langkah Pemerintah dan Koordinasi Antar-Lembaga
Di sisi lain, Prasetyo Hadi, Menteri Sekretaris Negara, mengungkapkan bahwa arahan tentang peningkatan dana riset telah disampaikan Presiden dalam pertemuan sebelumnya di Istana Kepresidenan. “Di pertemuan yang sebelumnya waktu di Istana, beliau sudah juga memberikan petunjuk untuk menambah anggaran riset kita sampai di angka Rp4 triliun,” kata Prasetyo usai mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam acara Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) Senayan, Jakarta, Minggu (28/6/2026).
Menurut Prasetyo, pemerintah sedang berupaya untuk mengkoordinasikan kegiatan riset nasional melalui berbagai kementerian dan lembaga terkait, seperti Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). “Dengan demikian, hasil penelitian yang dilakukan oleh berbagai lembaga dapat saling mendukung dalam mencapai prioritas pembangunan pemerintah,” katanya.
Penelitian di berbagai bidang juga harus selaras dengan kebutuhan masyarakat dan industri. Hadrian menekankan bahwa dana riset yang cukup besar perlu diarahkan ke sektor-sektor yang paling mendesak, seperti penelitian tentang energi terbarukan, teknologi digital, serta bidang kesehatan. “Riset yang terpadu dan berkelanjutan akan membuka peluang baru bagi inovasi, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” imbuhnya.
Menyusul Main Agenda peningkatan dana riset, pemerintah juga berkomitmen untuk memastikan penggunaan anggaran tersebut efisien dan transparan. Dalam proses penyaluran dana, BRIN akan memainkan peran penting sebagai koordinator yang mengumpulkan data dan rekomendasi dari seluruh lembaga penelitian. “Koordinasi ini sangat vital agar tidak ada pemborosan dana dan semua kegiatan riset bisa saling melengkapi,” papar Prasetyo.
Sebagai contoh, pada 2026, pemerintah telah menyetujui alokasi anggaran Rp4 triliun yang diharapkan bisa memberikan dampak langsung dalam beberapa bidang. Namun, untuk mencapai level ideal di sekitar Rp8 triliun, pemerintah perlu terus memperkuat komitmen dan mendorong partisipasi dari swasta serta lembaga internasional. “Dengan dana yang lebih besar, kita bisa mengejar penelitian yang bersifat eksperimental dan berdampak jangka panjang,” jelasnya.
Koordinasi antar-lembaga dan pemerintah pusat juga menjadi fokus utama dalam Main Agenda ini. Dengan menyatukan semua kegiatan riset ke dalam satu peta jalan yang terpadu, pemerintah mengharapkan agar proyek-proyek riset dapat berjalan lebih terarah dan efektif. “Hal ini akan membantu mengoptimalkan sumber daya yang ada dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap keberhasilan program penelitian,” tegas Prasetyo.
