Skip to content
106

Latest Program: PERKI: Distribusi Dokter Jantung Masih Terkonsentrasi di Jawa dan Sumatra

Anthony Moore - lintasnaya.com 3 mins read

Latest Program: Distribusi Dokter Jantung Masih Terkonsentrasi di Jawa dan Sumatra Latest Program - Dalam rangka memperkuat sistem kesehatan, 'Latest Program'

Latest Program: PERKI: Distribusi Dokter Jantung Masih Terkonsentrasi di Jawa dan Sumatra

Latest Program: Distribusi Dokter Jantung Masih Terkonsentrasi di Jawa dan Sumatra

Latest Program – Dalam rangka memperkuat sistem kesehatan, ‘Latest Program’ yang diusung oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menyoroti ketimpangan distribusi dokter jantung di Indonesia. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sekitar 60% dari jumlah dokter spesialis jantung berada di Pulau Jawa dan Sumatra, sementara daerah-daerah seperti Papua dan Kalimantan masih mengalami kesulitan mengakses layanan kardiovaskular yang optimal. Ini memicu perhatian untuk mengembangkan strategi distribusi yang lebih merata agar kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah dapat terpenuhi secara efektif.

Ketimpangan SDM Profesional dalam Penanganan Penyakit Jantung

Kardiolog senior dan Ketua Dewan Etik PERKI, Muhammad Munawar, Sp.JP(K), menegaskan bahwa meskipun kualitas tenaga kesehatan di Indonesia sudah memadai, kuantitas dan penyebaran dokter spesialis jantung masih menjadi tantangan. “Meski SDM sudah cukup, jumlah mereka tidak seimbang. Jika dokter spesialis ditempatkan di wilayah terpencil tanpa fasilitas dasar seperti treadmill, kinerja mereka akan terganggu,” katanya dalam acara konferensi pers ASMIHA 2026 di Jakarta, Kamis (16/7/2026).

“Pemerintah perlu menyiapkan fasilitas pendukung, perlindungan hukum, dan kesejahteraan yang memadai agar pelayanan kardiovaskular bisa berjalan maksimal,” tambah Munawar.

Defisit Fasilitas Kesehatan di Wilayah Terpencil

Menurut Munawar, ketersediaan fasilitas kesehatan menjadi faktor penting dalam memastikan performa optimal tenaga medis. Di daerah terpencil, banyak yang belum memiliki alat diagnostik seperti cath lab atau unit perawatan intensif yang diperlukan untuk menangani pasien serangan jantung. “Banyak kabupaten dan kota masih mengalami defisit layanan, terutama di wilayah yang kurang dilengkapi infrastruktur kesehatan,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa ‘Latest Program’ tidak hanya fokus pada jumlah dokter jantung, tetapi juga pada peningkatan ketersediaan sarana pendukung.

Kardiolog senior tersebut juga menyoroti perlunya penguatan kebijakan pemerintah untuk mendistribusikan dokter spesialis jantung ke daerah yang membutuhkan. “Dengan menyediakan penghargaan atau insentif tambahan bagi dokter yang bertugas di lokasi terpencil, kita bisa mengurangi kesenjangan akses layanan,” imbuhnya. Ini merupakan bagian dari upaya ‘Latest Program’ dalam menciptakan sistem kesehatan yang lebih inklusif.

Kebutuhan Ekspansi Fasilitas Kesehatan

Ketua Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah Indonesia, Renan Sukmawan, Sp.JP(K), PhD, menjelaskan bahwa meskipun Indonesia memiliki sekitar 2.200 dokter spesialis jantung, hanya sekitar 60% dari total tersebut yang berada di Pulau Jawa dan Sumatra. “Pasien serangan jantung membutuhkan penanganan cepat, tetapi banyak wilayah belum memiliki akses yang memadai,” katanya. Renan menekankan pentingnya ekspansi rumah sakit jejaring dan penambahan unit cath lab sebagai langkah strategis dalam ‘Latest Program’.

Dalam ‘Latest Program’, PERKI bersama lembaga terkait juga menyoroti perlunya standarisasi kompetensi tenaga medis. “Kualitas pelayanan harus dipertahankan meskipun jumlah dokter spesialis jantung tidak merata,” tambah Renan. Ini menunjukkan bahwa ‘Latest Program’ tidak hanya mengedepankan peningkatan jumlah, tetapi juga kualitas dan keberlanjutan layanan kardiovaskular di seluruh negeri.

Peran BPJS Kesehatan dalam Membantu Distribusi

Direktur Utama BPJS Kesehatan, dr. Prihati Pujowaskito, Sp.JP(K), FIHA, MMRS, menambahkan bahwa institusi tersebut bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan untuk mengembangkan akses layanan jantung. Salah satu langkah yang diambil adalah menambah rumah sakit yang dilengkapi cath lab, agar layanan bisa dijangkau masyarakat lebih luas. “Program satu cath lab per kabupaten/kota menjadi langkah penting, tetapi tantangannya adalah bagaimana mewujudkan akses yang nyata,” ujarnya.

Menurut Prihati, ‘Latest Program’ juga mencakup penguatan kerja sama dengan pihak lain untuk menjamin stabilitas dan keberlanjutan distribusi dokter spesialis jantung. “Dengan melibatkan berbagai pihak, kita bisa mempercepat solusi untuk kesenjangan di daerah terpencil,” jelasnya. Hal ini menunjukkan bahwa ‘Latest Program’ tidak hanya berupa rencana, tetapi juga kolaborasi yang dinamis.

Strategi untuk Membangun Sistem Kesehatan yang Lebih Seimbang

Pengurus PERKI, Ade Meidian Ambari, Sp.JP(K), PhD, menegaskan bahwa strategi utama ‘Latest Program’ mencakup penyusunan panduan praktik klinis, edukasi masyarakat, dan penguatan kerja sama dengan pemerintah. “Dengan menambah jumlah rumah sakit jejaring dan memastikan ketersediaan alat medis dasar, kita bisa mengurangi risiko keterlambatan penanganan penyakit jantung,” ujarnya. Ade juga menyoroti perlunya pengembangan kerja sama antar daerah untuk memaksimalkan sumber daya yang ada.

“’Latest Program’ bertujuan untuk menciptakan sistem kesehatan yang lebih merata, dengan tetap menjaga kualitas layanan,” lanjut Ade. Selain itu, program ini juga bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan jantung dan mendukung pemerintah dalam merancang kebijakan yang lebih inklusif. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mengurangi kesenjangan akses layanan di Indonesia.

Join the discussion