Skip to content
9

Topics Covered: Peringkat Daya Saing Ekonomi RI di Tingkat Global Turun, Begini Respons Pemerintah

Karen Miller - lintasnaya.com 3 mins read

Tingkat Global, Pemerintah Beri Respons Topics Covered: Laporan terbaru IMD World Competitiveness Ranking 2026 menunjukkan penurunan signifikan peringkat daya

Topics Covered: Peringkat Daya Saing Ekonomi RI di Tingkat Global Turun, Begini Respons Pemerintah

Topics Covered: Daya Saing Ekonomi Indonesia Turun di Tingkat Global, Pemerintah Beri Respons

Topics Covered: Laporan terbaru IMD World Competitiveness Ranking 2026 menunjukkan penurunan signifikan peringkat daya saing ekonomi Indonesia di tingkat global. Negara ini kini berada di peringkat 48 dari total 70 negara, menandai penurunan dari posisi 40 pada 2025 dan 27 pada 2024. Pemerintah menyatakan akan menganalisis penyebab penurunan ini dan memperbaiki kelemahan yang teridentifikasi.

Detail Penilaian Daya Saing Ekonomi

IMD World Competitiveness Ranking mengevaluasi empat aspek utama: Performa Ekonomi, Efisiensi Birokrasi, Efisiensi Bisnis, dan Infrastruktur. Infrastruktur menjadi kategori yang paling mengkhawatirkan dengan peringkat 58 dan skor 31,92, mengalami penurunan dari tahun sebelumnya 57. Ini adalah angka terendah sejak 2019, menunjukkan tantangan dalam pengembangan infrastruktur kritis seperti transportasi, energi, dan kesehatan.

Dalam kategori Performa Ekonomi, Indonesia menduduki peringkat 24 dengan skor 59,89. Posisi ini stabil dibandingkan tahun 2024, namun masih menunjukkan ketergantungan pada faktor eksternal seperti fluktuasi harga energi dan dinamika pasar global. Efisiensi Birokrasi mencatatkan peringkat 38 dengan skor 55,96, sedangkan Efisiensi Bisnis berada di posisi 50, angka terendah sejak 2019. Faktor utama yang memengaruhi kinerja ini adalah birokrasi yang rumit dan kurangnya inisiatif transformasi digital dalam sektor bisnis.

Respons Pemerintah terhadap Tantangan Global

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa pemerintah telah mempersiapkan tim debottlenecking untuk mengidentifikasi hambatan berusaha di berbagai sektor. Ia menekankan pentingnya stabilitas pasokan listrik sebagai langkah kritis dalam meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia.

“Kami akan teliti masalahnya dari mana, karena sudah ada persiapan tim debottlenecking. Nanti akan dianalisis sektor-sektor yang menjadi penghambat,” jelas Airlangga saat wawancara di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Airlangga juga memperlihatkan optimisme terhadap minat investor asing yang tetap tinggi, terutama di bidang energi terbarukan. Pemerintah berencana mempercepat pengembangan proyek energi hijau untuk memperkuat daya saing jangka panjang. Selain itu, ia menyoroti bahwa komitmen pengurangan birokrasi dan peningkatan efisiensi bisnis akan menjadi prioritas dalam rencana reformasi.

Faktor Penurunan Peringkat dan Konsekuensinya

Penurunan peringkat daya saing ekonomi Indonesia terkait erat dengan ketegangan geopolitik yang memengaruhi sektor energi. Perekonomian negara ini tergantung pada pasokan minyak bumi dan gas alam, yang terganggu oleh ketidakstabilan di pasar global. Selain itu, tantangan dalam ketersediaan infrastruktur memengaruhi kemampuan Indonesia dalam melayani kebutuhan industri dan perdagangan internasional.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa peringkat Indonesia dalam kategori Harga dan Perdagangan Internasional terus menurun. Harga berada di peringkat 10, sementara Perdagangan Internasional menduduki posisi 50. Faktor ini mengindikasikan bahwa Indonesia masih belum mampu bersaing secara efektif dalam menarik investasi dan menjaga keseimbangan harga barang dalam negeri dengan pasar luar.

Strategi Pemerintah untuk Memperbaiki Daya Saing

Dalam upaya meningkatkan peringkat daya saing, pemerintah mengusulkan beberapa langkah strategis. Pertama, percepatan investasi dalam infrastruktur kritis, seperti jalan raya, jaringan listrik, dan sistem transportasi publik, akan menjadi fokus utama. Kedua, pengurangan birokrasi dan optimalisasi regulasi akan diupayakan melalui perubahan kebijakan yang lebih inklusif.

Ketiga, pemerintah berencana memperkuat kolaborasi dengan OECD dan organisasi internasional lainnya untuk memperoleh masukan mengenai reformasi yang diperlukan. Sebagai contoh, dalam Pertemuan Tingkat Menteri OECD beberapa waktu lalu, Indonesia menjadi sorotan karena potensi pertumbuhan ekonomi dan minat investor di sektor energi terbarukan. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menaikkan kembali peringkat daya saing ekonomi Indonesia di tingkat global dalam beberapa tahun mendatang.

Join the discussion