Topics Covered: Hotel Sumsel Tertekan Efisiensi Anggaran, PHRI Dorong Geliat MICE
PHRI Mendorong Pemulihan Ekonomi Sumsel Melalui Peningkatan Aktivitas MICE Topics Covered – Bisnis.com, Palembang — Industri perhotelan di Sumatra Selatan
PHRI Mendorong Pemulihan Ekonomi Sumsel Melalui Peningkatan Aktivitas MICE
Topics Covered – Bisnis.com, Palembang — Industri perhotelan di Sumatra Selatan (Sumsel) saat ini mengalami tekanan akibat efisiensi anggaran pemerintah, yang berdampak langsung pada menurunnya kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition). Dengan angka penurunan hingga 50-70% dibandingkan periode sebelumnya, pelaku bisnis hotel merasa kesulitan dalam mempertahankan tingkat okupansi dan pendapatan. PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) Sumsel menjadi suara utama yang meminta pemerintah daerah untuk memperkuat upaya menggeliatkan sektor MICE sebagai penggerak ekonomi.
Kondisi Pasar MICE dan Tantangan Anggaran
Dalam situasi ini, Topics Covered menyoroti bagaimana kebijakan efisiensi anggaran khususnya dalam sektor pemerintahan mengurangi jumlah event dan kegiatan yang sebelumnya menjadi sumber utama pendapatan hotel. Sholahuddin Arsyad, Ketua PHRI Sumsel, mengungkapkan bahwa tahun 2025 sudah menjadi batu loncatan yang menantang, namun kondisi saat ini justru lebih parah karena efisiensi anggaran yang terus berlanjut. Menurutnya, kegiatan MICE yang sempat menurun sebanyak 30% pada tahun 2025 kini menyusut hingga 50% atau lebih, menimbulkan kekhawatiran terhadap kinerja ekonomi daerah.
“Kebijakan efisiensi anggaran telah menyebabkan penurunan signifikan dalam jumlah event MICE. Jika sebelumnya sebanyak 15 kegiatan, kini hanya tersisa tujuh, bahkan lima atau tiga. Ini menjadi tantangan besar bagi industri perhotelan,” ujarnya dalam wawancara dengan Bisnis.com, Senin (22/6/2026).
Potensi MICE Sumsel dan Saran untuk Diversifikasi
Menurut Sholahuddin, Sumsel memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor MICE dengan memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada, seperti pusat konvensi dan fasilitas olahraga nasional. Ia menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah, pengusaha, dan pemangku kebijakan untuk menarik investor dan event organizer. Topics Covered juga menyoroti bahwa MICE tidak hanya terkait kegiatan bisnis, tetapi juga menjadi penggerak utama sektor wisata dan keuangan lokal.
PHRI menyarankan penggunaan ruang pamer dan pusat pelatihan yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan event besar. Selain itu, mereka mengusulkan agar pemerintah memperhatikan kesiapan infrastruktur pendukung, seperti jalan raya dan ketersediaan akomodasi selama event berlangsung. Sholahuddin juga meminta peran maskapai penerbangan untuk mendorong pertumbuhan wisata internasional, yang bisa berdampak positif pada industri perhotelan.
Strategi Pemulihan Ekonomi dengan Fokus pada MICE
Dalam upaya memulihkan ekonomi, PHRI Sumsel memandang bahwa sektor MICE bisa menjadi penggerak utama. Topics Covered menunjukkan bahwa menurunnya anggaran pemerintah membuat event dan seminar menjadi lebih minim, sehingga mempengaruhi pengunjung dan pendapatan hotel. Sholahuddin mengatakan bahwa dengan memperkuat daya tarik Sumsel sebagai destinasi MICE, ekonomi daerah bisa kembali bergerak.
Menurutnya, sektor MICE memiliki dampak signifikan terhadap berbagai industri, termasuk transportasi, akomodasi, dan kuliner. “Event MICE bisa menggerakkan ribuan orang ke Sumsel dalam satu hari, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi secara bersamaan,” tuturnya. Ia juga menekankan perlunya promosi yang lebih agresif, baik melalui media maupun kerja sama dengan institusi internasional, untuk menarik perhatian investor dan pengunjung.
Peran PHRI dalam Mengembangkan Sumsel sebagai Destinasi MICE
Topics Covered menyoroti peran PHRI dalam memastikan Sumsel tetap relevan sebagai destinasi MICE. Ketua PHRI Sumsel tersebut menekankan pentingnya kolaborasi dengan pihak terkait, seperti dinas pariwisata, pengusaha, dan lembaga pendidikan. Dengan adanya event-event besar, Sumsel bisa menjadi pusat pengembangan ekonomi, terutama dalam bidang kepariwisataan dan bisnis.
Ia juga meminta pemerintah untuk mengeluarkan anggaran khusus dalam upaya menarik event dan kegiatan internasional. “Sumsel memiliki potensi besar, tetapi harus dikelola dengan strategi yang tepat agar bisa bersaing dengan daerah lain,” jelas Sholahuddin. Tantangan utama, menurutnya, adalah memperbaiki daya tarik Sumsel di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Harapan untuk Kebijakan yang Lebih Mendukung
Topics Covered menunjukkan bahwa PHRI Sumsel berharap pemerintah daerah bisa membuat kebijakan yang lebih inklusif untuk sektor MICE. Selain menurunkan biaya operasional, mereka juga menyarankan peningkatan kualitas fasilitas dan layanan. Dengan perbaikan ini, Sumsel bisa menarik lebih banyak investor dan event organizer, serta memperkuat ekonomi lokal.
Di sisi lain, Sholahuddin mengingatkan bahwa industri perhotelan tidak boleh terlalu bergantung pada satu jenis kegiatan. Ia menyarankan penerapan strategi diversifikasi, seperti menggandeng perusahaan teknologi untuk meningkatkan digitalisasi event dan mengurangi ketergantungan pada anggaran pemerintah. “Dengan menggali potensi MICE, Sumsel bisa menjadi destinasi yang stabil bahkan di tengah krisis ekonomi,” pungkasnya.
