Alasan Lain Penyebab Nanik Mundur dari Kepala BGN, di Luar Gangguan Jantung
Jakarta — Nanik, pimpinan Badan Gizi Nasional, telah resmi mengundurkan diri dari posisinya setelah melalui proses panjang dalam menangani berbagai tantangan
Nanik Lepaskan Jabatan Kepala BGN: Lebih dari Sekedar Masalah Jantung
Lintasnaya.com – Jakarta — Nanik, pimpinan Badan Gizi Nasional, telah resmi mengundurkan diri dari posisinya setelah melalui proses panjang dalam menangani berbagai tantangan yang dihadapi selama memimpin lembaga tersebut. Pengunduran ini diumumkan setelah ia mengungkapkan adanya gangguan kesehatan yang diperparah oleh tanggung jawab besar dalam mengelola anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan salah satu program prioritas pemerintah saat ini.
Walaupun gangguan jantung menjadi faktor utama yang mendorong keputusannya, terdapat alasan lain yang turut berkontribusi signifikan terhadap keputusan tersebut. Menurut Nanik, tekanan psikologis berupa stres berat serta teror dari nomor-nomor tidak dikenal turut memperburuk kondisinya secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa pengunduran dirinya bukan hanya berkaitan dengan masalah kesehatan fisik semata.
Diagnosis Medis dan Tekanan Anggaran
Hasil pemeriksaan medis yang dilakukan secara komprehensif menunjukkan adanya penyumbatan pada arteri jantung. Kondisi ini tidak hanya disebabkan oleh kolesterol tinggi, tetapi juga dipicu oleh tingkat stres yang sangat tinggi akibat beban tugas yang harus diemban setiap hari. Dokter yang menangani Nanik menjelaskan bahwa kombinasi antara faktor fisik dan psikologis ini menciptakan kondisi yang memerlukan istirahat dan perawatan intensif.
Menurut dokter saya ada sumbatan di arteri jantung yang selain karena kolesterol tinggi, juga dipicu oleh stres yang luar biasa,
Pernyataan tersebut disampaikan Nanik melalui media sosial pada hari Selasa, 21 Juli 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan bahwa kondisi kesehatan ini semakin memburuk seiring dengan meningkatnya tanggung jawabnya dalam mengelola dana negara yang jumlahnya sangat besar untuk program MBG.
Bagi Nanik, beban terbesar bukan sekadar memperbaiki kinerja lembaga, melainkan memastikan penggunaan dana negara yang jumlahnya sangat besar berjalan dengan benar dan bebas dari penyalahgunaan. Tanggung jawab mengelola uang publik ini menimbulkan trauma hingga ia kesulitan tidur setiap malam. Setiap keputusan yang diambil selalu mempertimbangkan dampaknya terhadap program nasional yang sedang berjalan.
Setiap dokumen yang perlu ditandatangani selalu diperiksa berulang kali. Ia tidak pernah menyetujui sesuatu secara sendiri-sendiri. Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam proses pengelolaan anggaran yang menjadi tanggung jawabnya selama ini.
Saya sampai tidak bisa tidur kalau ingat ini duit negara, duit rakyat harus benar dijalankan dan tidak boleh saya kecolongan,
Sebagai bentuk kehati-hatian ekstra, Nanik mewajibkan dua wakil kepala untuk memberikan paraf sebelum dirinya menandatangani dokumen apapun. Langkah ini diambil untuk memastikan setiap keputusan yang diambil telah melalui proses verifikasi yang ketat dan melibatkan pihak-pihak terkait.
Saking takutnya saya memegang anggaran besar, sampai tanda tangan apa pun saya tidak mau sendiri harus dua wakil ikut paraf,
Teror Nomor Tidak Dikenal dan Keputusan Presiden
Selain tekanan pekerjaan, Nanik mengaku sering menerima teror yang semakin memperburuk kesehatan mentalnya. Pesan-pesan ancaman dan panggilan telepon dari nomor-nomor tidak dikenal menjadi rutinitas yang harus dihadapi setiap hari. Untuk mengurangi beban tersebut, ia memutuskan untuk membuang nomor telepon pribadinya dan beralih menggunakan nomor resmi lembaga.
Nomor yang biasa saya pakai sudah saya buang, capai diteror kanan-kiri,
Nanik telah menyampaikan pengunduran dirinya secara langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. Kepala Negara menyetujui permintaan tersebut dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan bawahan beliau serta berbagai faktor lain yang melatarbelakangi keputusan tersebut. Proses komunikasi ini dilakukan dengan baik dan menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak.
Meskipun tidak lagi menjabat sebagai kepala lembaga, Presiden meminta Nanik untuk tetap membantu mengawasi BGN. Rencana pembentukan dewan pengawas sedang disiapkan, dan Nanik ditunjuk sebagai ketuanya. Peran baru ini memungkinkan Nanik untuk tetap berkontribusi meskipun tidak lagi menangani operasional harian lembaga.
Saya diminta tetap ikut mengawasi BGN. Kemungkinan Presiden akan membentuk dewan pengawas,
Pengunduran diri ini juga bertujuan agar Nanik dapat fokus menjalani pengobatan jantung di luar negeri. Selain itu, ia juga ingin memperoleh pendapat medis kedua mengenai kondisinya dari para ahli internasional. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa perawatan yang diterimanya adalah yang terbaik sesuai dengan standar medis global.
Dengan demikian, pengunduran diri Nanik dari jabatan Kepala BGN bukan hanya berkaitan dengan masalah kesehatan fisik semata. Berbagai faktor seperti tekanan psikologis, teror dari nomor tidak dikenal, serta tanggung jawab besar dalam mengelola anggaran negara turut menjadi Alasan Lain Penyebab Nanik Mundur dari jabatannya. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi dirinya maupun bagi kelancaran program MBG yang sedang berjalan.
