New Policy: Perang AS-Iran Meluas ke Bahrain & Suriah, Harga Minyak Dunia Membara
New Policy: Perang AS-Iran Membara di Bahrain & Suriah, Harga Minyak Meluas New Policy menjadi pemicu utama perluasan konflik antara Amerika Serikat dan Iran
New Policy: Perang AS-Iran Membara di Bahrain & Suriah, Harga Minyak Meluas
New Policy menjadi pemicu utama perluasan konflik antara Amerika Serikat dan Iran ke wilayah Bahrain serta Suriah, menyebabkan ketegangan geopolitik yang memperparah volatilitas pasar energi global. Dalam pernyataan terbaru, Iran mengumumkan telah menyerang fasilitas militer AS di Suriah dan Bahrain, memicu reaksi cepat dari pihak AS yang menilai serangan ini sebagai bagian dari strategi baru mereka untuk memperkuat dominasi di kawasan Timur Tengah. Dengan New Policy, negara-negara regional mulai menghadapi ancaman langsung dari militer Iran, yang menyebabkan kenaikan signifikan harga minyak dunia.
Konteks Serangan Militer Baru
Menurut laporan dari CNBC International, serangan terhadap pusat komando AS di wilayah al-Tanf, Suriah, dilakukan pada Jumat (17/7/2026), dengan target utama sistem pertahanan militer dan infrastruktur strategis. Sementara itu, Iran juga menyerang Pangkalan Udara Sakhir di Bahrain, yang menjadi posisi penting untuk operasi udara AS di kawasan tersebut. Serangan-serangan ini dilakukan sebagai bagian dari New Policy yang menekankan penguasaan sumber daya energi dan pengurangan kekuatan Iran dalam perang dingin yang berlangsung sejak beberapa tahun terakhir.
Angkatan Pertahanan Bahrain mengungkapkan bahwa mereka berhasil menghalau sejumlah serangan udara yang diluncurkan Iran, sementara Yordania dan Qatar juga mengonfirmasi menangkal rudal-rudal yang melintas di wilayah udara mereka. Di sisi lain, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan bahwa mereka mengambil tindakan balasan terhadap Iran, menyerang puluhan target yang mencakup sistem pertahanan udara dan infrastruktur logistik. Angka 50.000 personel militer AS yang masih bertugas di Timur Tengah menunjukkan komitmen pihak AS untuk menjaga kestabilan wilayah dengan New Policy yang diterapkan.
Impak pada Pasar Energi Global
Perang AS-Iran yang kini membara akibat New Policy memicu peningkatan harga minyak mentah secara signifikan. Kontrak berjangka minyak Brent naik 1,7% menjadi US$85,72 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,2% ke US$80,63 per barel. Kenaikan ini berlangsung sepanjang pekan ini, dengan kontrak kedua mencapai peningkatan lebih dari 11%—nilai tertinggi sejak akhir April. Pasar energi global terus waspada karena ancaman keamanan terhadap Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital pengiriman minyak.
Selain kenaikan harga, kekhawatiran tentang ketidakstabilan pasokan energi juga meningkat. Iran, sebagai produsen minyak utama, memperlihatkan kemampuan mereka untuk mengganggu jalur distribusi energi melalui serangan militer. Dalam pernyataan terbaru, pemerintah Iran menyebutkan bahwa serangan AS mengenai infrastruktur sipil seperti jembatan dan stasiun kereta api, memperkuat klaim mereka tentang dampak sengaja dari New Policy. Meski laporan ini belum bisa diverifikasi mandiri, dampak ekonomi terhadap pasar minyak sudah terasa.
Permulaan Perang Berkepanjangan
Kenaikan ketegangan terjadi saat kesepakatan sementara gencatan senjata antara AS dan Iran yang sebelumnya diusahakan bulan lalu mulai retak. New Policy, yang dirancang sebagai langkah untuk menegaskan kekuasaan AS, dianggap sebagai penyebab utama pelanggaran kesepakatan tersebut. Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa operasi militer terhadap Iran berjalan sesuai rencana, dengan target utama untuk mengurangi kemampuan Iran dalam menyuplai kekuatan militer ke wilayah Timur Tengah.
“Kami juga sedang meraih kemenangan besar di Iran, dan Anda akan segera melihat hasilnya,” ujar Trump dalam pidatonya ke publik pada Kamis malam.
Analisis dari Ian Lesser, peneliti senior di German Marshall Fund (GMF), mengingatkan bahwa perang AS-Iran bisa berkembang menjadi konflik berkepanjangan akibat New Policy yang tidak hanya memicu reaksi militer tetapi juga mengubah dinamika hubungan regional. “Ada risiko ke arah sana. Pada dasarnya, AS telah menjalani perang dingin dan sesekali perang terbuka dengan Iran selama puluhan tahun,” kata Lesser kepada CNBC. Pernyataan ini menegaskan bahwa New Policy bukan hanya strategi jangka pendek, tetapi juga mencerminkan persiapan jangka panjang untuk perang yang lebih besar.
Di tengah kenaikan harga minyak, pihak-pihak terkait masih berusaha mencari solusi. Pemerintah Suriah, yang menjadi lokasi serangan AS, menilai bahwa New Policy akan memperburuk kondisi ekonomi mereka. Sementara itu, negara-negara Timur Tengah lainnya seperti Arab Saudi dan Iraq sedang mengevaluasi kebijakan defensif mereka terhadap ancaman dari Iran. Dengan kekuatan militer AS yang masih berada di kawasan tersebut, pasukan internasional terus mengawasi situasi, dengan harapan New Policy bisa memicu kestabilan lebih jauh dalam jangka waktu tertentu.
