Skip to content
92

BEI Catat Dana Penerbitan Surat Utang Tembus Rp100 Triliun

Anthony Moore - lintasnaya.com 2 mins read

BEI Catat Dana Penerbitan Surat Utang Tembus Rp100 Triliun BEI Catat Dana Penerbitan Surat Utang - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan bahwa total dana

BEI Catat Dana Penerbitan Surat Utang Tembus Rp100 Triliun

BEI Catat Dana Penerbitan Surat Utang Tembus Rp100 Triliun

BEI Catat Dana Penerbitan Surat Utang – Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan bahwa total dana yang berhasil terkumpul melalui penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) telah mencapai Rp100 triliun sejak awal 2026. Dalam periode tersebut, terdapat 109 emisi dari 59 penerbit, dengan jumlah dana yang berhasil dihimpun sebesar Rp100,12 triliun. Capaian ini mencerminkan kegiatan penggalangan dana di pasar surat utang domestik yang masih stabil, meski suku bunga tetap tinggi.

Pasokan Surat Utang Korporasi Masih Akan Bertambah

Hingga 10 Juli 2026, BEI mencatat adanya 12 emisi dari 11 calon penerbit EBUS yang masih dalam proses penerbitan. Mayoritas calon penerbit berasal dari sektor infrastruktur, dengan lima perusahaan yang masuk dalam daftar. Sementara itu, sektor energi, bahan baku dasar, dan konsumen non-siklikal masing-masing memiliki tiga, dua, dan satu perusahaan.

“Kondisi pasar surat utang domestik tetap dinamis, dengan kebutuhan pendanaan korporasi yang tidak berkurang meski tingkat bunga tinggi,” kata sumber dari BEI.

Pefindo Catat Penurunan Penerbitan Surat Utang di Paruh Pertama Tahun 2026

Menurut PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), total penerbitan surat utang pada paruh pertama 2026 turun 3,91% secara tahunan menjadi Rp87,35 triliun, dibandingkan Rp90,90 triliun di paruh pertama 2025. Rasio antara penerbitan dan jatuh tempo pada tahun ini mencapai 158,2%, meningkat dari 140,3% periode yang sama tahun sebelumnya.

Breakdown Penerbitan Surat Utang Berdasarkan Sektor

Dalam distribusi penerbitan, non-institusi keuangan tetap mendominasi dengan kontribusi 52,9%, sementara institusi keuangan hanya menyumbang 47,1%. Perinciannya, lembaga pembiayaan menguasai 23,8%, diikuti oleh industri pulp dan kertas (14,7%), perusahaan induk (13,6%), perbankan (13,4%), serta pertambangan (13,3%).

BUMN juga terlibat dalam penerbitan surat utang, dengan total Rp16,2 triliun. Sementara itu, perusahaan swasta menjadi pelaku utama, mencapai Rp62,9 triliun.

Join the discussion