Pefindo: Penerbitan Surat Utang Korporasi Turun 3,91% per Semester I/2026
Pefindo: Penerbitan Surat Utang Korporasi Menurun 3,91% pada Semester I/2026 Pefindo - Menurut PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), volume penerbitan
Pefindo: Penerbitan Surat Utang Korporasi Menurun 3,91% pada Semester I/2026
Pefindo – Menurut PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), volume penerbitan surat utang korporasi selama Januari hingga Juni 2026 mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Direktur Pemeringkat Pefindo, Hendro Utomo, menjelaskan bahwa jumlah penerbitan turun sebesar 3,91% secara tahunan (YoY) menjadi Rp87,35 triliun, dibandingkan Rp90,90 triliun pada semester pertama 2025.
Kondisi ini mencerminkan perubahan dalam rasio penerbitan terhadap jatuh tempo yang mencapai 158,2% pada tahun ini. Angka ini lebih tinggi dibandingkan 140,3% pada periode serupa tahun 2025. Menurut Hendro, peuncian penerbitan surat utang yang signifikan terjadi pada bulan Februari dan Maret 2026, dibandingkan bulan-bulan lainnya.
”Di tahun 2026, penerbitan yang tinggi itu tercatat di bulan Februari dan Maret. Mungkin ini lebih terkait dengan dinamika pasar. Bulan-bulan tersebut mungkin memberikan momentum yang bagus bagi emiten untuk mengeluarkan surat utang,” ujar Hendro dalam presentasinya, Rabu (8/7/2026).
Pefindo menambahkan bahwa biasanya puncak penerbitan surat utang korporasi terjadi di bulan Juni setiap tahunnya. Contohnya, pada Juni 2025, nilai penerbitan mencapai Rp30,95 triliun. Namun, tren ini berubah pada 2026, di mana penerbitan di bulan tersebut hanya mencapai Rp9,25 triliun.
Dalam analisisnya, Hendro menyebutkan bahwa kebutuhan pembiayaan dari emiten cenderung lebih aktif di Februari dan Maret. Hal ini dipandang sebagai respons terhadap siklus laporan audit yang biasanya diakui pada bulan Desember.
Perbandingan Sektor Penerbitan
Dalam paruh pertama 2026, sektor non-institusi keuangan masih mendominasi penerbitan surat utang, mencapai 52,9%. Sementara institusi keuangan hanya menyumbang 47,1%. Detailnya, lembaga pembiayaan berkontribusi 23,8%, diikuti oleh industri pulp dan kertas dengan 14,7%, perusahaan induk 13,6%, perbankan 13,4%, serta pertambangan 13,3%.
Pefindo juga mencatat bahwa institusi BUMN hanya menerbitkan Rp16,2 triliun surat utang selama periode tersebut. Sebaliknya, sektor swasta mencapai Rp62,9 triliun.
Perubahan Tujuan Penerbitan
Menariknya, pada semester I/2026, penerbitan surat utang yang bertujuan investasi meningkat drastis menjadi Rp19,48 triliun, dibandingkan Rp3,14 triliun pada periode serupa 2025. Di sisi lain, kebutuhan modal kerja turun menjadi Rp44,77 triliun dari Rp56,26 triliun tahun lalu.
Terlebih lagi, kebutuhan refinancing juga mengalami penurunan, mencapai Rp23,10 triliun.
