Skip to content
534

Special Plan: PGN Mulai Garap Potensi Gas Metana Batu Bara Tanjung Enim 9,7 TCF

Richard Gonzalez - lintasnaya.com 3 mins read

PGN Mulai Garap Potensi Gas Metana Batu Bara di Tanjung Enim Special Plan – Bisnis.com, PALEMBANG — Perusahaan Gas Negara (PGN) meluncurkan proyek Special

Special Plan: PGN Mulai Garap Potensi Gas Metana Batu Bara Tanjung Enim 9,7 TCF

PGN Mulai Garap Potensi Gas Metana Batu Bara di Tanjung Enim

Special Plan – Bisnis.com, PALEMBANG — Perusahaan Gas Negara (PGN) meluncurkan proyek Special Plan yang bertujuan menggarap sumber daya gas metana batu bara (CBM) di daerah Tanjung Enim, Sumatra Selatan. Proyek ini memanfaatkan potensi gas sebesar 9,7 triliun kaki kubik (TCF) yang terkandung dalam lapisan batu bara, sekaligus memperkuat strategi pengembangan energi domestik dan mengurangi ketergantungan pada pasokan impor.

Direktur Utama PGN, Arief K Risdianto, menyampaikan bahwa Special Plan ini menjadi bagian dari upaya strategis perusahaan untuk mengoptimalkan sumber daya alam nonkonvensional. “CBM merupakan komoditas energi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan secara maksimal di Indonesia, terutama di daerah seperti Tanjung Enim,” kata Arief. Menurutnya, proyek ini memiliki potensi besar dalam meningkatkan ketersediaan gas secara bertahap dan mengurangi emisi karbon melalui teknologi pengolahan yang ramah lingkungan.

Special Plan ini tidak hanya mengubah perspektif penggunaan batu bara, tapi juga membuka peluang baru dalam sektor energi hijau,” ujar Arief dalam pernyataan resmi, Senin (6/7/2026). Ia menekankan bahwa pengembangan CBM di Tanjung Enim bisa menjadi model bagi daerah lain yang memiliki sumber daya serupa.

Proyek Strategis dengan Target Produksi 25 MMSCFD

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, CBM di Tanjung Enim diperkirakan memiliki OGIP (Original Gas in Place) sebesar 9,7 TCF. Potensi ini diprediksi mampu memberikan nilai ekonomi mencapai US$15,4 miliar, yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri, pembangkit listrik, dan sektor transportasi. Proyek Special Plan ini juga mencakup rancangan infrastruktur injection point yang berfungsi mengumpulkan gas dari lapisan batu bara sebelum dialirkan ke jaringan transmisi.

Menurut Arief, skema penyaluran gas dalam proyek Special Plan dirancang secara progresif, mulai dari 1 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) hingga 25 MMSCFD. Target ini dirasa cukup ambisius namun realistis, mengingat teknologi pengolahan CBM telah matang dan bisa dioperasikan secara efisien. “Pengembangan ini sejalan dengan visi pemerintah dalam menciptakan Special Plan untuk energi bersih dan berkelanjutan,” tambahnya.

Peran CBM dalam Penguatan Ketahanan Energi Nasional

Proyek Special Plan yang dijalankan PGN di Tanjung Enim diharapkan menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan ketahanan energi nasional. Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman menegaskan bahwa pengembangan CBM termasuk dalam proyek strategis nasional. “Ini adalah kesempatan untuk mempercepat produksi gas dalam negeri sekaligus menekan impor,” jelas Dudung, yang menambahkan bahwa proyek tersebut juga memperkuat kerja sama antar sektor dalam Special Plan yang dirancang.

Dudung menyampaikan bahwa penyelesaian administratif seperti Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) masih menjadi tantangan, namun semua pihak telah sepakat untuk mempercepat proses. “Dengan Special Plan yang telah dirancang, proyek ini bisa segera memasuki fase komersialisasi dalam beberapa tahun mendatang,” imbuhnya. Arief menambahkan bahwa teknologi yang digunakan dalam proyek ini akan membuka peluang baru untuk pengolahan sumber daya alam yang lebih canggih.

Kebutuhan energi nasional Indonesia terus meningkat, terutama dengan pertumbuhan industri dan populasi yang pesat. Special Plan PGN di Tanjung Enim menjadi salah satu solusi untuk memenuhi permintaan tersebut tanpa mengorbankan lingkungan. CBM, yang merupakan gas alam terbentuk dari proses dekomposisi bahan organik, bisa dihasilkan dari lapisan batu bara yang berada di bawah permukaan tanah. Proses ekstraksi ini tidak hanya mengurangi pemborosan energi, tetapi juga mengubah pola penggunaan sumber daya alam.

Sebagai bagian dari Special Plan, proyek ini juga menyasar pengurangan emisi karbon. Menurut laporan dari PGN, setiap unit produksi CBM diharapkan mengurangi emisi CO2 sebanyak 50% dibandingkan metode konvensional. “Ini menjadi contoh bagaimana Special Plan bisa berkontribusi pada transisi energi yang lebih hijau,” kata Arief. Dengan menggabungkan teknologi pengolahan CBM, biomethane, dan SNG (Synthetic Natural Gas), PGN berharap mempercepat pemanfaatan energi bersih di Indonesia.

Dalam jangka panjang, Special Plan ini akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan. PGN memproyeksikan bahwa pengembangan CBM di Tanjung Enim bisa menciptakan ribuan lapangan kerja baru, baik di sektor teknologi maupun manajemen proyek. Selain itu, pengusahaan gas metana batu bara juga berpotensi meningkatkan nilai tambah batu bara lokal, mengingat proses ekstraksi CBM dirancang untuk mengoptimalkan hasil produksi. Proyek ini akan menjadi penggerak utama dalam Special Plan untuk pengembangan energi bersih dan ramah lingkungan.

Join the discussion